spedy.gif 
 
Updated: Thu, 11 Mar 2010 15:39:32 +0700
Thursday, 11 March 2010
Bandung *** Sebuah tembok bangunan di jalan Aruna, kelurahan Husen Sastranegara, Cicendo kota Bandung, tiba-tiba ambruk, Kamis (11/3/) siang. Seorang pekerja tewas sementara 8 lainnya dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami luka serius akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Kapolresta Bandung Barat AKBP Baskoro Tri Prabowo kepada wartawan mengatakan, dua korban luka dibawa ke RSHS, sementara enam lainnya di RS Rajawali. "Korban yang meninggal bernama Jajang (45...
Ribuan Tenaga Honorer Subang, Berunjukrasa
Thursday, 11 March 2010
SUBANG *** Sebanyak 6500 Tenaga Honorer yang tergabung dalam wadah Forum Tenaga Honorer Sekolah (FTHS) Kabupaten Subang, dari 30 kecamatan di Kabupaten Subang, mengelar aksi unjuk rasa di Alun-alun Pemkab Subang dan di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Subang, Kamis siang (11/3). Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Subang melaksanakan Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 2007 tentang Pengangatan Tenaga Honorer, yaitu pengangkatan secara otomatis pada...
Thursday, 11 March 2010
PURWAKARTA *** Pemerintah Kabupaten Purwakarta memproyeksikan asumsi pertumbuhan ekonomi menjadi 4,0 persen pada 2010. Angka tersebut optimis dapat dicapai asalkan sepanjang tahun ini angka inflasi di Kabupaten Purwakarta dapat ditekan dan kemampuan investasi mengingkat. Untuk tercapainya angka proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satu yang menjadi syarat adalah meningkatkan pertumbuhan investasi selain menekan angka inflasi, demikian disampaikan Kabag E...
Thursday, 11 March 2010
Subang *** Pansus DPRD Subang saat ini sedang membahas Perda Tentang Pendidikan  wajar Dikdas. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, Makmur Sutisna WD, M. M.Pd., berharap, Perda Pendidikan yang saat ini tengah dibahas Pansus DPRD, dapat mengatur ketentuan secara tegas tentang Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas). Dalam perda tersebut menurutnya, harus menyentuh persoalan kelanjutan wajib belajar, pasca wajar dikdas 9 tahun, atau tingkat sekolah men...
Berita Sebelumnya



Berita Lain
Ragam
Sosok
Wisata & Budaya
Daerah
Olah Raga


raiser_iklan.jpgpasti.jpg 
 

Opini

HJKB ke-199: Bandung Menuju Kota Metropolitan Yang Tetap Mempertahankan Karakteristik
Wednesday, 07 October 2009
Kota Bandung merupakan sebuah kota yang memiliki sejarah panjang. Dahulunya merupakan sebuah danau purba yang dikelilingi oleh gunung dan terletak di ketinggian ±768 m di atas permukaan laut.
 
Bandung yang mempunyai posisi strategis karena secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, dan merupakan ibu kota Jawa Barat serta menjadi kota penyangga Ibu kota Negara, dibangun dengan rentang waktu yang sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.
 
Kabupaten Bandung merupakan bagaian sejarah terbentuknya kota Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun yang memerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 1681.
 
Sementara kota Bandung tidak diketahui secara pasti berapa lama dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh Bupati R. A. Wiranatakusumah II yang disebut sebagai pendiri (the founding father) kota Bandung.
 
Kota Bandung sendiri diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810, yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya kota Bandung.
 
Pada masa revolusi kemerdekaan, Kota Bandung pun menjadi pusat perjuangan mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan. Di Kota ini juga pernah berlangsung berbagai kegiatan, baik kegiatan bertaraf nasional maupun internasional, antara lain Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 dan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) tahun 1965.
 
Secara budaya, akulturasi antar budaya Sunda, yang mengakari budaya kota Bandung, dengan berbagai budaya yang masuk ke kota Bandung melalui warga pendatang dan melalui berbagai ragam teknologi informasi berlangsung dengan cepat, menghasilkan sebuah produk budaya kontemporer kota Bandung yang khas.

 

Dan dalam perjalanan sejarahnya yang panjang itu, Kota Bandung selain sebagai pusat pemerintahan daerah Jawa Barat, juga dikenal sebagai kota jasa yang bermartabat, disamping sebagai pusat Pendidikan, pusat kebudayaan, dan pusat pariwisata.
 
Diusianya yang kini memasuki ke-199 dan hamper genap 2 abad, kota Bandung sekarang jauh lebih membanggakan. Ini berkat tangan dingin dan kepiawaian para walikotanya.
 
Kini hampir semua penjuru kota yang memiliki luas 16.729, 5 hektar itu berkembang menjadi kota modern. Status kota jasa dan wisata belanja yang disandangnya benar-benar sangat hidup. Di setiap sudut terdapat pusat-pusat perbelanjaan baik tradisional maupun modern.
 
Di era pemerintahan walikota sekarang (H. Dada Rosada) dengan 7 program prioritasnya yakni PENDIDIKAN, KESEHATAN, KEMAKMURAN, LINGKUNGAN, SENI BUDAYA, OLAHRAGA dan AGAMA, kota Bandung dari tahun ke tahun tak henti-henti menata wajahnya.
 
Alhasil, reputasi kota berpenduduk hampir 4 juta jiwa itu pun semakin mempesona. Hasil penataan menjadikan kota Bandung bertambah apik sesuai perkembangannya. Yakni menuju kota metropolitan yang tetap mempertahankan karakteristik sebagai kota sejarah yang melestarikan citra estetik, modern, aman, nyaman dan asri. (Teu****)

 

  Read more...
N.I. Nurlaela : Sejarah Singkat Purwakarta
Monday, 20 July 2009

Salah satu makna peringatan Hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta adalah momentum untuk menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki atau kebersamaan dalam pembangunan.

Peringatan ini merupakan satu bentuk pengilhaman menuju digjaya Purwakarta. Gagasan serta upaya yang dilakukan pemkab Purwakarta tidak lain demi meningkatkan kesejateraan masyarakat.

Sumber yang didapat Purwakarta dari penelitian, sejarah kelahiran Purwakarta setidaknya ditemukan dalam tiga buku karya sejarawan dan arsiparis bernama Dr. Frederick de Hann tahun 1912, buku karya G de Seriere tahun 1849 dan Resolutien Van den Gouverneur Generaal and Interim Van Nederlandsch Indie in Rade, Batavia den 14 den Maart 1835.

Melalui surat keputusan Van den Krawang G de Seriere, Sindangkasih, 20 Juli 1831 No. 2, assisten resident Krawang No. 40, disebutkan keberadaan Purwakarta bermula dari munculnya keinginan kepala pribumi yang mengusulkan perubahan nama ibukota sekarang ini menjadi Purwakarta.

Kata Purwa berarti permulaan dan Karta bermakna ramai atau hidup. Purwakarta sendiri dinyatakan resmi sebagai Ibukota Kabupaten pada tanggal 2 Juli 1831.

Selanjutnya, hari kelahiran Purwakarta kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah No.2/Tahun 2006, tentang Hari Jadi Purwakarta. Penetapan dalam bentuk Perda ini menjadi landasan yuridis formal. Peringatan Hari Jadi Purwakarta yang menjadikan momentum penting dalam menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki dan meningkatkan kebersamaan dalam pembangunan.

Karenanya, sejak perda hari jadi Purwakarta diresmikan menjadi ibukota kabupaten, Pemkab Purwakarta tak pernah absen untuk memperingati hari besar ini dengan berbagai acara dan kegiatan yang memiliki makna membangun dan menjalin kebersamaan.

Di hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta tahun ini Ke-41/178, hal itu kembali ditorehkan Pemkab Purwakarta melalui sejumlah kegiatan, antara lain dari kegiatan bernuansa agamis hingga perlombaan yang diambil dari kebiasaan masyarakat setempat.

Beberapa kegiatan atraktif itu, seperti lomba-lomba yang diprakarsai dari kebudayaan daerah itu sendiri. Seperti diketahui, langkah kebijakan yang di ambil Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan wakil Bupati Purwakarta Dudung B Supardi dengan visi dan misi membangun Purwakarta berkarakter, tanpa disadari atau tidak pada kepemimpinannya saat ini budaya asli masyarakat terus kembali di gulirkan.

Ini pun seakan, di tangan pemerintahannya yang baru seumur jagung mempunyai makna ingin mengembalikan citra Purwakarta sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tidak melupakan jati dirinya melalui program salapan (9) lengkah ngawangun nagri rahaja Purwakarta. ***

  Read more...

Drs. Teddy Guswana : Aspek Investasi, Mendorong LPE Jawa Barat
Saturday, 13 June 2009

 

Dalam beberapa kesempatan, Kepala Badan Promosi dan Penamaman Modal Jawa Barat sering mengatakan bahwa Jawa Barat masih prospektif untuk dijadikan lahan investasi karena banyak bidang usaha dan prpyek-proyek yang menjanjikan dan memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus.

Apa yang dilontarkan itu tentunya berpijak pada kondisi Jawa Barat yang memiliki peluang untuk berkembangnya berbagai bidang pekerjaan  dan  usaha yang bisa menjadi ajang investasi strategis serta menguntungkan dilihat dari aspek bisnis. Pada kondisi ini, memang Jawa Barat hingga kini masih menjadi salah satu wilayah yang dilirik banyak investor. Beberapa proyek besar seperti renovasi bandara Husen Sstranegara Bandung dan rencana pembangunan bandara di majalengka, telah banyak mengundang calon investor dari beberapa negara untuk berinvestasi didalamnya.

Dalam kerangka pembangunan ekonomi Jawa Barat, kedatangan investor memang sangat diperlukan karena perananya tidak kecil terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Dalam hal ini, pakar-pakar ekonomi terutama yang berasal dari Jawa Barat mengemukakan bahwa masuknya investor ke Jawa Barat merupakan kebutuhan yang strategis untuk mendorong LPE Jawa Barat. Bisa dikatakan, kalangan investor itu merupakan salah satu elemen yang inheren dengan pembangunan ekonomi itu sendiri. Oleh karena kepada kalangan investor ini perlu diberikan ruang yang mamadai yang menyangkut infrastruktur dan layanan birokrasi.

Dalam soal layanan, pemerintah propinsi Jawa Barat hingga saat ini berupaya memberikan kemudahan dan menghindarkan high cost. Salah satunya adalah dengan dibentuknya seksi layanan investasi di lingkungan Badan Promosi dan Penanaman Modal (BPPMD) propinsi Jawa Barat. Seksi ini, menurut sumber di lingkungan BPPMD tidak bermaksud menambah panjang layanan investasi, tetapi akan lebih memberikan layanan yang akurat, sehingga segala persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon investor bisa dipenuhi selengkap mungkin dalam waktu yang cepat karena mendapatkan petunjuk dari seksi ini.

Itu disatu pihak. Dipihak lainpun tentunya diperlukan sikap serius dari kalangan calon investor itu sendiri. Artinya, calon investor yang datang di Jawa Barat bukan hanya melihat, menanyakan, dan menginginkan presentasi tentang proyek yang diminatinya, tetapi kemudian tidak jelas tindak lanjut dari calon investor itu sendiri. Sebagai contoh, untuk beberapa proyek besar di Jawa Barat banyak calon investor yang datang dan berjanji dengan bagus untuk menanamkan modalnya. Tetapi ketika keterangan tentang proyek tersebut sudah dijelaskan secara rinci dan gamblang, ternyata investor ini tidak datang lagi di Jawa Barat dan menghilang begitu saja.

Yang diperlukan di Jawa Barat, tentunya juga di daerah-daerah lain adalah calon investor yang benar-benar memiliki komitmen untuk mengembangkan usaha dan mengerjakan proyek-proyek besar. Pertama tentunya akan bisa memberikan kontribusi terhadap LPE Jawa barat, dan kedua tentunya terdapat aspek bisnis yang menyangkut prospek keuntungan bagi investor itu sendiri.

Dalam kaitan itu, BPPMD Jawa Barat tentunya sudah sering memberikan presentasi, baik didalam maupun diluar negeri tentang proyek-proyek dan bidang usaha yang sangat prospektif untuk dijadikan ajang investasi. Bahkan setiap tahun presentasi semacam ini terus dilakukan sebagai upaya promosi prospek ekonomi Jawa Barat. Hasilnya memang bisa mendatangkan kalangan investor. Tetapi ya itu tadi, ada kalangan investor yang benar-benar berinvestasi dan ada juga investor yang hanya janji tetapi berlalu begitu saja.

Tetapi apapun kondisinya, BPPMD Jawa Barat sebagai lembaga paling strategis didalam mengembangkan penamaman modal di Jawa Barat tentunya tidak akan bosan untuk terus mempresentasikan prospek Jawa Barat terutama secara regional maupun internasional agar investasi di Jawa Barat tiap tahun terus mengalami peningkatan. Dalam hal ini, BPPMD sudah tentu memiliki pengalaman dan kejelian didalam melihat mana investor serius dan mana investor yang hanya akan berlalu begitu saja tanpa memperlihatkan tindakan riil didalam menginvetasikan modalnya di Jawa Barat.

Pengalaman dan kejelian itu tentunya akan menjadi pijakan didalam menyeleksi calon-calon investor yang akan berinvestasi di Jawa Barat. Seleksi ini sangatlah diperlukan agar BPPMD tidak membuang-buang energy mempresentasikan prospek Jawa Barat kepada kalangan calon investor yang hanya memberikan angin surga tetapi tidak jelas tindakan nyatanya.

Tidak bisa dipungkiri, dari luar negeripun tidak semua calon investor itu bonafid. Pasti ada saja calon investor luar negeri yang dalam mempresentasikan minatnya terdengar dan terlihat meyakinkan. Tetapi ketika ditanyakan kesiapannya untuk meinginvestasikan modalnya, calon investor ini tidak cukup siap untuk melakukannya.

Dalam kaitan itu, khusus untuk rencana pembangunan bandara di Majalengka dan rencana renovasi bandara Husen Sastranegara, Bandung, saat ini telah banyak calon investor dari beberapa negara yang katanya minat berinvestasi. Tetapi apakah minat itu benar-benar didukung oleh keseriusan dan persyaratan termasuk persyaratan finansial mereka ? inilah yang harus dilihat secara jeli agar tidak banyak calon investor bodong yang kelihatannya berminat tetapi ujung-ujungnya tidak jelas dan berlalu begitu saja. Yang diperlukan Jawa Barat adalah calon investor yang mampu berperan secara nyata untuk kepentingan Jawa Barat dan kepentingan investor itu sendiri. ***

  Read more...

Renungan


Sumpah Pemuda Jangan Jadi Kenangan
Tuesday, 28 October 2008

  Andai saja para pelopor sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 masih ada, entah bagaimana perasaannya melihat keadaan bangsanya saat ini. Setelah 80 tahun para pemoeda-pemoedi Indonesia mengikralkan janji setianya untuk satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, kini lambat laun sumpah mulia tersebut mulai di khianati generasi penerusnya.

Jika dulu perbedaan suku, agama, wilayah dan sebagainya dijadikan modal dasar untuk bersatu, kini justru itu menjadi ladang subur perpecahan dan kekacauan di negeri yang konon menjungjung adat ketimuran ini.

Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia hasil rumusan pemoeda-pemoedi Indonesia pada Kongres Pemuda II yang di selenggarakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928.

Kongres yang digelar organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) tersebut beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia, dengan dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb, serta dihadiri pula pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

          Ketua kongres Pemuda II Soegondo Djojopoespito dalam sambutannya berharap kongres tersebut dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, dan selanjutnya disampaikan uraian dari beberapa pembicara.

Moehammad Jamin dalam uraiannya menyampaikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

          Sementara itu dua pembicara selanjutnya yakni Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

          Sedangkan pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan akan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Dan selanjutnya Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

            Dalam peristiwa bersejarah itu pula pada tahun 1928, untuk pertama kalinya di perdengarkan lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya” yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut, sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda saat itu, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya, dan  Lagu kebangsaan Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan.

 Sumpah pemuda jangan jadi kenangan, tetapi semangat para pemuda tempo itu harus dijadikan inspirasi dan tekad kita bersama untuk tetap bertanah air satu, tanah air indonesia. Berbangsa satu, bangsa indonesia, dan berbahasa satu, bahasa indonesia, sebagai modal dasar kebesaran bangsa indonesia, amien. (Bud)

 

TEKS SUMPAH PEMUDA

 SOEMPAH PEMOEDA

 Pertama :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

 Kedua :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

 Ketiga :

 KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

 

Djakarta, 28 Oktober 1928

 

Teks Soempah Pemoeda dibacakan di Waltervreden oleh :

Soegondo Djojopoespito (PPPI), R.M. Djoko Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon), Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi), Abdul Muthalib Sangadji, Purnama Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo, Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr.Pijper, Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi, Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo, Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo, Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin (Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage Rudolf Soepratman, Nona Tumbel.

 

  Read more...

Sosok

Yayan Jalaludin : ANGGOTA DPRD PURWAKARTA TERPILIH
Monday, 22 June 2009

Biodata Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode 2009-2014 Purwakarta

Daerah Pemilihan

Nama

Tempat Tanggal Lahir

Alamat                                  

 

Jenis Kelamin                        

Agama

Status Perkawinan                  

Nama Istri/ Suami                  

Jumlah Anak                         

Pekerjaan

Riwayat Pendidikan                   

 

 

 

Pengalaman Organisasi

 

 

:

:

:

:

 

:

:

:

:

:

:

:

 

 

 

::

Purwakarta 4 (Empat)                           

YAYAN JALALUDIN                  

Purwakarta, 10 April 1968      

Kp. Sumber Sari Rt. 07/03 Ds. Pawenang

Kec. Bojong Kab. Purwakarta 

Laki-laki                                

Islam                                    

Kawin                                   

SITI SUYANTI S.Pdi                 

3 (tiga) orang                        

                                            

a. MIN Lulusan Thn. 1983

b. MTsN Lulusan Thn. 1986

c. MAN Lulusan Thn. 1990

 

a. Ketua Karang Taruna Ds. Pawenang

b. Wakil Ketua DPC GERINDRA Kab. Purwakarta

  Read more...
Sri Puji Utami : ANGGOTA DPRD PURWAKARTA TERPILIH
Monday, 22 June 2009

Biodata Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode 2009-2014 Purwakarta

Daerah Pemilihan

Nama               

Tempat Tanggal Lahir               

Alamat 

Jenis Kelamin               

Agama             

Status Perkawinan         

Nama Istri/ Suami                     

Jumlah Anak    

Pekerjaan        

 

Riwayat Pendidikan       

 

 

 

 

Pengalaman Organisasi:

 

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

 

:

 

 

 

 

:

Purwakarta 2 (Dua)                               

SRI PUJI UTAMI                      

Purwakarta, 29 Juli 1971        

Ds. Cibening Rt. 12/04 Kec. Bungur Sari Kab. Purwakarta

Perempuan                            

Islam                                    

Kawin                                   

DIK DIK SUKARDI                    

2 (dua) orang                        

Ibu Rumah Tangga                 

 

a. SDN Cibening I

b. SMPN Campaka

c. SMAN II Purwakarta

d. Akademi Akuntansi Borobudur, Jakarta

 

a. OSIS

b. Senat MahasiswaPURWAKARTA 5 (LIMA)                                                                   

  Read more...

H. ENGKOS KOSASIH : ANGGOTA DPRD PURWAKARTA TERPILIH
Thursday, 18 June 2009

Biodata Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Golar untuk Periode 2009-2014 Purwakarta

DAERAH PEMILIHAN               

Nama

Tempat Tanggal Lahir            

Alamat

 

Jenis Kelamin                        

Agama                                  

Status Perkawinan                 

Nama Istri/ Suami                 

Jumlah Anak                          

Pekerjaan                             

 

Riwayat Pendidikan                

 

 

 

Pengalaman Organisasi          

 

:

:

:

:

 

:

:

:

:

:

:

 

:

 

 

 

:

Purwakarta 1 (satu)                              

H. ENGKOS KOSASIH              

Purwakarta, 21 Januari 1939  

Jl. Ipikgandamanah No.156 Rt.02/05 Kel. Tegalmunjul    

Kec. Purwakarta Kab. Purwakarta          

Laki-laki                               

Islam                                    

Kawin                                    

Hj. ENI ROHAYANI                 

4 ( empat )                            

Pensiunan PNS Th. 1995         

 

a. SR Tahun 1954 di Purwakarta

b. SLTP Tahun 1965 di Purwakarta

c. SLTA Tahun 1968 di Purwakarta

 

a. Th. 1970 s/d sekarang Partai Golkar

b. P.4. Type B Th. 1980                                                

c. Jurkam Golkar Th. 1980                                            

d. AMPI Th. 1987-1992                                                  

e. AMS Th. 1971 s/d sekarang                                       

f. Kader Politik Th.1984 di Bandung                                                                               

  Read more...
smp2_purwakarta.jpgbanner-150x150.gifmaharani_pelatihan.jpg
 

Wisata

Kabuyutan Ciburuy Garut
Tuesday, 10 November 2009

 

kabuyutan_ciburuy.jpg
Abad 15 silam, Kampung Ciburuy adalah sebuah daerah yang teduh dan tenang. Ia terletak di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut, Jabar. Tanahnya luas dan subur. Para karuhun (leluhur) di sana menyebutnya tanah dewa sasana, yang artinya tempat bersemayamnya para dewa. Di sinilah jejak para resi dan raja besar tanah Pasundan terkuak.

 

Tatar Sunda termasuk kawasan relatif banyak meninggalkan tilas-tilas sejarah. Namun demikian, terbilang sedikit diantaranya yang berhasil diungkap. Para sejarawan mencatat, pada periode abad ke-4 hingga ke-16 masehi, di kawasan ini berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Sebut saja kerajaan Tarumanagara, Galuh, hingga kerajaan Sunda Pakuan. Begitulah para ahli menyebutnya sebagai periode yang cukup panjang dalam perputaran sejarah.

Menurut penelusuran sejarah, di tanah Jawa bagian barat (Pasundan), pengaruh Hindu sesungguhnya lebih dulu merebak. Yaitu dengan berdirinya kerajaan Tarumanagara pada abad ke-4. Lalu kemudian muncul kerajaan-kerajaan lainnya. Ironisnya, di daerah ini malah nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Satu-satunya candi yang ditemukan di Jawa Barat adalah Candi Cangkuang, kendati hingga kini masih terjadi silang pendapat di kalangan pakar. Candi ini ditemukan di kampung Pulo, desa Cangkuang, kecamatan Leles, Garut, Jabar. Kemudian Candi Bojongmenje, yang ditemukan tahun 2003 dan kini masih dalam penelitian intensif Balai Arkeolog Bandung.

Berita-berita tentang kehidupan kerajaan-kerajaan pada masa silam, terungkap lewat penemuan para ahli. Beberapa prasasti, misalnya, berhasil ditemukan dan diungkap kandungan isinya. Misalnya prasasti Batu Tulis dan Kebon Kopi di Bogor. Juga prasasti Kawali dan Galuh di Ciamis, lalu prasasti Kebantenan I - V di Banten, prasasti Rumantak di Gegerhanjuang Tasikmalaya, prasasti sanghyang Tapak I - II di Sukabumi dan lainnya.

Sumber-sumber berbentuk naskah pun berhasil di temukan di tatar Sunda ini. Antara lain Carita Parahyangan, Carita Bujangga Manik, Carita Waruga Rasa, Babad Galuh, Babad Pakuan, Siskandang Karesian, Amanat dari Galunggung, dan lainnya. Semua naskah itu mengandung isi yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Sunda di masa lalu.

Tanah Dewa

Meski jejak-jejak kerajaan di tatar Sunda berhasil ditelusuri lewat prasasti dan naskah-naskah tua, namun bentuk fisik semacam bangunan atau candi, jarang ditemukan. Inilah yang membedakan eksistensi kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Timur dengan daerah Jawa Barat. Candi memang identik dengan sarana ibadah dan pemujaan kala itu. Ia merupakan cermin religi dan kesakralan.

Bagaimana dengan Tatar Sunda? Di kalangan masyarakat Sunda, muncul sebutan Tanah Dewa Sasana. Yakni suatu bukti bahwa masyarakat Sunda kala itu, memerlukan suatu tempat yang sakral dan dikeramatkan, sebagai wujud kehidupan religiusnya. Mengapa mereka tak membangun candi? Ini yang menarik. Namun konon, Tanah Dewa Sasana punya nilai setara dengan eksistensi candi, yang kerap dinamakan kabuyutan atau kawikuan. Sebagai contoh adalah Kabuyutan Ciburuy di desa Pamalayan, Bayongbong, Garut.

Tanah Dewa Sasana adalah sebuah tempat yang disucikan para petinggi kerajaan yang mulai meninggalkan aktivitas duniawi. Jangan heran bila kabuyutan selalu jauh dari keramaian. Sebab di sinilah, mantan raja dan petinggi kerajaan menenangkan diri. Tidak sedikit pula yang menghabiskan sisa usianya. Tidak jarang, petinggi kerajaan yang masih aktif, membahas masalah pelik ketatanegaraan dan urusan rakyat di sini.

Kabuyutan Ciburuy

Nana Suryana, kuncen Kabuyutan Ciburuy, mengatakan bila di kabuyutan yang di peliharanya, terdapat bermacam-macam benda pusaka peninggalan tokoh-tokoh zaman kerajaan Sunda. Ini merupakan bukti bila kabuyutan seluas 7 Ha ini pernah didiami tokoh-tokoh penting. “Banyak peninggalan karuhun yang disimpan di dua bangunan,” tutur Nana.

Kabuyuran Ciburuy terdiri dari tiga bangunan dan sebuah saung lesung (tempat menumbuk padi). Bangunan pertama disebut patemon yang sebagai tempat berkumpul (rapat) dan menerima tamu. Kemudian bumi alit (padalaman), tempat beristirahat raja sekaligus tempat menyimpan perangkat kerajaan seperti peta, naskah-naskah dan dokumen kerajaan. Dan ketiga lumbung padi tempat persediaan makanan.

Secara fisik, ketiga bangunan ini bentuknya unik, beratap ijuk dan mirip bangunan di daerah Minangkabau. Bangunan disangga tiang-tiang dari kayu dan berdinding bilik. Di dalam dua bangunan itu terdapat keris, sabuk, rantai emas, golok, bogor ageung, cupu, naskah kuno, kujang, tumbak, trisula, kentongan, tongkat, dan lainnya. *

Naskah Kuno Ciburuy

-----------------------------------

Tahaduk sang hiang hayu tekang yarakan kami ring wiring ka di kita. (Harus tahan dan sabar dalam menyambut datangnya pemimpin yang menerima wahyu untuk mengajarkan ilmu Allah kepada manusia yang kurang iman, termasuk kepada kita.

 

Kunang dyan kumijar sa rasana kang wuwus kami. (Keterangan dan contoh untuk menyatakan rasa tunggal bersaudara yang diwajibkan oleh Alah yang terdapat dalam kitab suci manapun).

 

Hayua kita umawa ya rasa ya carita. (Ketidakwaspadaan dan kelemahan kita yang menjadikan bangsa kita mengalami kesusahan dan penderitaan).

 

Mung kalor raksa wawa wasita. (Dimana waktu membalas terhadap saudara-saudara kita yang satu ideologi harus tetap waspada dan tetap menjaga nama baik bangsa sendiri).

 

Nada kari-kari luini kang rasa carita. (Kejadian itu meminta korban, akibat kelakuan yagn keterlaluan yagn menyebabkan eksusahan dan penderitaan.)

 

Yana kaulingana ri kami. (Kamu sekalian tidak pernah ingat kepada Allah).

 

Auma nihan luike. (Golongan yang demikian akan lebih berat hukumannya)

 

Ka wuang ngarga wiwiku. (Hanya sedikit orang yang menghargai guru yang menunjukkan manusia kepada jalan yang benar).

 

Mreng ngucapa ta carita ni kang huang dewasa. (Riuhnya suara yang kesusahan terdengar oleh para pemimpin di seluruh dunia).

 

Kala re purwa teja rata tarima haka nguni. (Pokok ajaran para pemimpin adalah tentang keseimbangan hidup, bila tidak percay acobalah tanyakan kepada musuh atau kepada saudara-saudara tertua yang terdahulu).

 

Anaa ka yugi arah kami sawite swara maha dewa. (Anaknya yang akan dating, juga mengaku ketruunan para leluhur yang bijaksana yang tidak berbeda bila tidak berbicara bagaikan pemimpin besar yang berbudi luhur padahal palsu)

 

Murang kusika garga game tri kusuma pata tajali. (Hanya yang pintar, yang gagah/kuat, yang bangsawan, yang rajin, yang patuh, yang cantik). 

(ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...
Tugu Khatulistiwa Pontianak
Sunday, 18 October 2009

tugu_khatulistiwa.jpgTugu Khatulistiwa Pontianak terletak persis di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Tiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September pukul 12.00 WIB, bayangan benda di sekitar tugu ini akan menghilang. Saat itulah diperingati sebagai hari kulminasi matahari. Karena saat itu, di tempat ini matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Namun, ada hal lain yang kerap menjadi misteri. Yaitu soal penunggu gaib tugu yang dibangun tahun 1928 ini.

 Tiap 21 -23 Maret dan 21-23 September, Tugu Khatulistiwa Pontianak menjadi primadona. Ketika itulah di kompleks ini sering digelar beragam pertunjukan kesenian, pameran dan lain-lain hiburan. Tak pelak, massa pun tersedot ke tempat ini. Dari penjuru daerah berdatangan ke sekitar tugu. Namun, yang paling istimewa sebenarnya bukan hanya itu. Melainkan tepat tengah hari pada tanggal tersebut, segala bayangan benda tegak yang ada di sekitarnya, akan menghilang secara misterius. Ini tentu tidak akan pernah terjadi di tempat lain.

 Peneliti Belanda

Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya, cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa, penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa propinsi di Indonesia dan beberapa negara lain. Untuk Kalbar, garis khatulistiwa melewati beberapa daerah seperti kota/kabupaten Pontianak, Sanggau dan Sintang.

 Di Kalbar, Garis Khatulistiwa memotong Sungai Kapuas sebanyak 2 kali, dan satu kali memotong Sungai Melawi. Panjang Garis Khatulistiwa yang melintasi daratan Kalbar adalah 466 km. Selain itu, ada 7 propinsi lain yang dilewati Garis Khatulistiwa yaitu Propinsi Sumatera Barat (Utara Payakumbuh), Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Irian Jaya. Selain itu ada 5 negara Afrika yang dilewati Garis Khatulistiwa yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Untuk Amerika Latin ada 4 negara yaitu Equador, Peru, Kolombia dan Brasil yang terkenal dengan hutan amazonnya.

 Karena letaknya tepat di tengah belahan bumi utara dan selatan, maka wilayah yang berada di sepanjang Garis Khatulistiwa punyai keistimewaan yang tidak ternilai harganya. Seperti curah hujan yang tinggi, suhu dan kelembaban rata-rata harian cukup tinggi, terdapat berbagai jenis hewan dan tumbuhan dan sinar matahari yang bersinar sepanjang masa. Semua ini menyebabkan adanya iklim tropis, yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa yang patut disyukuri bersama.

 Tugu Khatulistiwa Pontianak ditemukan tahun 1928. Berdasarkan catatan V. en. W oleh Opzihter Wiese tahun 1941, pada tahun 1928 telah datang suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di Pontianak.

 Kala itu yang dibangun berupa tonggak yang bagian atas diberi tanda panah. Tahun 1930, disempurnakan berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli.

 Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur. (ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...

Mengunjungi Kampung Naga Tasikmalaya
Tuesday, 01 September 2009
kampung_naga.jpg

Kampung Naga adalah perkampungan masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat karuhun (leluhur). Kehidupan masyarakatnya bersahaja dan penuh kearifan tradisi. Keunikan Kampung Naga dengan segala aspeknya, merupakan sebuah perbedaan mencolok dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga.

Kampung Naga secara administratif masuk dalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah sebelah barat oleh leuweung karamat (hutan keramat).

Di dalam hutan inilah terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah Selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Kampung ini merupakan miniatur masyarakat sunda tempo dulu. Perkembangan teknologi yang demikian ganas, tak dapat menembus kampung ini.

Memasuki wilayah Kampung Naga, orang harus melewati sekitar 360 anak tangga. Jumlah 360 itu memiliki cerita yang unik. Ternyata, anak tangga yang menukik turun menuju lembah Kampung Naga ini tak pernah sama hitungannya. Setiap orang yang mencoba menghitungnya, pasti selalu berbeda.

Ada yang menghitung kurang dari 360 anak tangga, tapi tidak sedikit yang menghitung lebih dari itu. Bahkan pernah ada dua orang orang yang penasaran, lantas mereka menghitung secara bersamaan. Namun tetap saja mereka tidak bisa memperoleh jumlah hitungan yang sama. Semua ini merupakan teka-teki bagi pengunjung yang datang kesana.

 

Rumah Panggung

Kampung Naga diapit oleh tebing dan sungai yang mengalir disepanjang kawasan tersebut. Sungai inipun mereka manfaatkan sebagai kolam ikan. Setiap 3 bulan sekali mereka menanam dan menggambil ikan dari kubangan (leuwi) yang dibuat khusus oleh masyarakat setempat.

Ornamen bangunan di Kampung Naga sangat langka kita temukan pada masyarakat sunda dewasa ini. Rumah itu berbentuk panggung dan posisinya seragam antara rumah satu dengan yang lain. Bahan baku utamanya berupa kayu, bambu serta atap injuk dari pohon aren yang diambil langsung dari hutan sekitar Kampung Naga. Dan secara keseluruhan, berjumlah 111 bangunan, yang terdiri dari 109 rumah hunian sebuah mesjid dan sebuah aula pertemuan yang kesemuanya menghadap arah Timur.

Menurut Punduh Kampung Naga, Abah Maun, alasan mendirikan rumah panggung adalah untuk menghindari kecemburuan sosial masyarakat. Lagi pula jika mendirikan rumah permanen akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. “Untuk jumlahnya masyarakat Kampung Naga tidak akan yang sudah ada, karena keterbatasan lahan serta telah menjadi hukum adat,” katanya.

Sedang alasan mengapa semua bangunan menghadap arah timur, Abah Maun menjelaskan bahwa selain menyesuaikan dengan keadaan lahan dan menjaga kebersihan, juga agar sinar matahari bisa langsung sampai ke dalam rumah-rumah tanpa terhalangi oleh bangunan lain. Untuk membuat sebuah rumah atau memperbaikinya, hampir semua masyarakat ikut bergotong royong dalam pengerjaannya, sehingga pada proses pengerjaanya tidak menggunakan kuli bangunan.

Sebelum memasuki Kampung Naga, pengunjung sangat dianjurkan untuk meminta ijin terlebih dahulu pada sesepuh kampung. Selain meminta persetujuannya, diharap masyarakat kampung naga tidak merasa terganggu oleh kedatangan pengunjung. Seorang pemandu wisata Kampung Naga juga mengingatkan bagi pengunjung yang ingin memotret agar meminta ijin dulu, sebab hal itu tidak dilakukan, foto-fotonya tidak akan jadi atau terbakar.

Di sebelah utara Kampung Naga, berderet kolam-kolam ikan yang sengaja dibuat warga. Memang telah menggunakan tembok untuk pinggirnya, namun hampir disetiap kolam memiliki jamban (pacilingan) yang masih terbuat dari anyamam bambu. Jamban tersebut dipergunakan warga sebagai tempat MCK. Meski sederhana namun masyarakat naga telah memandang kesehatan sebagi suatu kebutuhan utama.

Hasil sensus penduduk tahun 2004 masyarakat Kampung Naga kurang lebih 326 jiwa, yang terdiri dari 106 kepala keluarga. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian petani, disamping ada yang berdagang dan merantau ke luar kampung.

Kampung Naga, menurut kepercayaan masyarakatnya, adalah keturunan kerajaan Galunggung masa Islam. Mereka keturunan Sembah Dalem Singaparana, anak Prabu Rajadipuntang, Raja Galunggung VII. Prabu Rajadipuntang adalah Raja Galunggung terakhir yang menyingkir ke arah daerah Linggawangi. Menurut catatan sejarah, Kerajaan Galunggung runtuh di tangan Prabu Rajadipuntang pada 1520-an karena diserang oleh Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Surawisesa (535-1543).

Saat itu ada perebutan kuasa antara kerajaan Islam dan asli. Kerajaan Galunggung telah menjadi pemeluk agama Islam dan berarti tidak lagi menjadikan Pajajaran sebagai pusat. Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka dan menyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Singaparana. Untuk melaksanakan tugas itu Singaparana dibekali ilmu kadigdayaan yang membuat dirinya bisa nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian).

 

Hutan Larangan

Kampung Naga diapit dua bukit dan di sisi Sungai Ciwulan. Di seberang sungai itu terdapat bukit kecil yang dipenuhi pohon-pohon yang tampaknya berumur sangat tua. Itulah hutan yang oleh masyarakat Kampung Naga disebut dengan Leuweung Larangan atau hutan larangan. Sementara di sebelah barat atau di belakang perkampungan terdapat Leuweung Keramat.

Leuweung Larangan, yang terletak di sebelah timur pemukiman, disebut sebagai hutan tempat para dedemit. Para dedemit itu mulanya menempati areal yang dihuni masyarakat Kampung Naga. Namun oleh Mbah Dalem Singaparana, para dedemit itu dipindahkan ke hutan tersebut. Leuweung Larangan merupakan tempat yang sama-sekali dilarang untuk diinjak oleh siapa pun, khususnya warga Kampung Naga. Jangankan memasukinya, menginjakkan sebelah kaki pun merupakan merupakan pantangan yang sangat keras.

Secara kosmologis, masyarakat Kampung Naga memilah dunia dalam tiga wilayah, yaitu Leuweung Keramat (tempat nenek moyang mereka dimakamkan) yang ada di sebelah barat. Lalu wilayah perkampungan tempat mereka hidup dan bercocok tanam yang terletak di tengah-tengah. Dan Leuweung Larangan tempat yang dihuni para dedemit yang terdapat di sebelah timur.

Posisi perkampungan tidak secara langsung berhubungan dengan kedua hutan tersebut. Leuweung Larangan dibatasi oleh sebuah Sungai Ciwulan, sedangkan Leuweung Keramat dibatasi oleh tempat masjid, ruang pertemuan dan Bumi Ageung (tempat penyimpanan harta pusaka). Leuweung Larangan di arah timur dan leweung Keramat di arah barat merupakan sumber kekuatan sakral kehidupan keseharian mereka.

Sedangkan Leuweung Larangan merupakan wilayah kacau, tempat semua dedemit dan roh jahat berada. Leweung Karamat berada di sebelah barat adalah sumber kebaikan; masjid dan harta pusaka menjadi penghubung untuk mengalirkan kesakralan ke arah barat. Hutan Keramat dan Bumi Ageung yang berada di bagian barat masjid, di posisi kiblat, secara simbolis menunjukkan negosiasi ajaran Islam dan tradisi lokal.

Menghadap ke kiblat berarti membayangkan penghadapan pada Kabah yang harus melalui penghadapan terhadap harta pusaka dan hutan keramat. Keinginan mendapatkan kesakralan Kabah didahului oleh penghubungan diri terhadap nenek moyang yang dikuburkan di Leuweung Keramat.

Kosmologi ruang seperti ini barangkali yang menjadi dasar penolakan mereka terhadap warganya yang telah berhaji. Berhaji berarti berziarah secara langsung ke makam Orang Suci. Yang berhaji telah secara langsung berhubungan karena itu tak lagi membutuhkan kiblat yang dibungkus Bumi Ageung dan Leuweung Keramat.

 

Bumi Ageung

Melihat kompisisi dan kedudukan Bumi Ageung tersebut memperlihatkan garis kosmologis yang tegas, yaitu bahwa seluruh rumah berpusat pada Bumi Ageung dan Bumi Ageung berhubungan atau berpusat pada Leuweung Keramat, tempat nenek moyang atau makam para Karuhun. Pandangan kosmologis yang menempatkan manusia (bumi tempat manusia berada) dalam impitan antara yang sakral (Leuweung Keramat) dan yang kacau (Leuweung Larangan), telah memosisikan manusia di antara dua keadaan tersebut.

Hal tersebut tampak pada pandangan mereka tentang kosmologi waktu, yang secara umum dibagi dua, yaitu waktu nahas (tidak baik) dan waktu hade (baik). Keadaan kehidupan (dunia) manusia yang terimpit antara Leuweung Larangan (kebaikan, Yang Sakral) dan Leuweung Keramat (ketidakbaikan) tersebut mengharuskan manusia untuk teliti dan hati-hati dalam menjalani kehidupan karena kedua dunia yang mengimpit tersebut telah pula memengaruhi waktu kehidupan manusia, waktu baik dan waktu tidak baik.

Terhadap waktu mereka membuat tiga patokan aktivitas, yaitu: Bismillah, berhubungan dengan awal dan asal (Yang Sakral), bernilai satu; Alhamdulillah, berhubungan dengan harapan hidup manusia yang baik (Dunia Tengah), dengan nilai dua; dan, Astaghfirullah, berhubungan dengan dunia yang tidak baik, bernilai tiga.

Patokan ini menjadi dasar aktivitas mereka dalam mencari keselamatan, kemakmuran, dan penghindaran dari malapetaka. Misalnya, bagi orang yang hendak berobat disarankan untuk mulai berangkat pada hari yang bernaktu satu, sedangkan terhadap ruang (alam) mereka memiliki patokan nyangcang munding dina batu ku tambang sajeungkal, seug mun eling moal luput hami nyangcang kuda sabatekan begung; gaduh satapak munding seug mun eling moal luput mahi. (ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...
logo_radio_subang-2.jpgiklan_ktp.jpgimage2.gif  
 

Ragam

Kriteria Pemimpin Islam Masa Depan (Oleh : Drs. H. Wawan Kustiawan)
Saturday, 16 January 2010
              aaaaaaaaaaaaa.jpgIslam memiliki beberapa kriteria untuk pemimpin masa depan yang baik, yakni adil dan berpedoman pada nilai-nilai moral serta agama. Dalam Islam arti kata pemimpin mempunyai banyak sinonim, seperti khalifah (QS Al Baqarah (2) : 30), Ulil Amri (An Nisa (4) : 59), Wali (Al Maidah (5) : 55), Rais (HR Bukhari) dan Amir (HR Bukhari).

Khalifah artinya pengganti, pemimpin, wakil Allah di muka bumi, pengatur dan penguasa yang berwenang mengatur kehidupan dunia. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30, yang Artinya : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada para Malaikat ”Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”.

Dalam sabda Nabi SAW, Al Imam dimaksud sebagai pemimpin/penguasa, yang memiliki kekuasaan dan wewenang mengatur masyarakat. Sebutan lain Ulil Amri adalah pemerintah, panutan, ulama, cendikia.

Pengertian Ulil Amri termaktub dalam Al Qur’an Surat An Nisa (4) Ayat 59, yang artinya ”Wahai Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu”.

Merujuk pada istilah-istilah tersebut, ada beberapa karakteristik pemimpin Islam masa depan yang diharapkan mampu membawa umat pada kemajuan dan kesejahteraan yang diridhoi Allah SWT, yaitu memiliki visionary thinking, strategic management, leadership skill, interpersonal communication, self motivation dan mau bekerja melebihi harapan (beyond the call of duty), self management.

Kriteria tersebut diharapkan mampu dimiliki oleh para pemimpin negeri ini demi kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. ***

 

  Read more...
Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan
Saturday, 05 September 2009

nyepuh.jpg

Upacara Nyepuh diselenggarakan pada pertengahan bulan Sya’ban atau Rewah. Salah satu makna Nyepuh antara lain sebagai ritual penjemput Ramadan. Yakni bulan yang disucikan umat Islam, dimana saat itu kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa, dan menahan segala godaan.

Tradisi Nyepuh merupakan upacara lanjutan dari upacara Ngawit yang dilaksanakan sebelumnya di Ciomas pada bulan Shafar. Upacara Nyepuh merupakan upacara tradisional yang memiliki arti mempertua, pendalaman atau penyempurnaan dan berarti juga nyipuh. Artinya adalah menjaga agar nilai-nilai yang baik yang telah ditanamkan para pendahulu tetap konsisten, sejalan dengan awitna (awalnya) sebagaimana maksud upacara Ngawit.

Seperti diungkap sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede, upacara Nyepuh dapat dimaknai ke dalam tiga hal. Pertama, nyipuhkeun nu to ngawitan. Ini bermakna bahwa upacara Nyipuh merupakan pengawal jalan kebaikan yang telah dimulai atau diawali (ngawit) oleh para leluhur dan penyebar Islam di masa lalu. Tradisi yang sudah puluhan tahun digelar di Ciomas ini, lebih jauh adalah sebagai penghormatan terhadap amanah Kiai Haji Penghulu Gusti, karuhun masyarakat Ciomas.Di upacara inilah, anak muda belajar kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Terutama agar lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, nyepuhkeun panyipuhan urang. Ini berarti mengukur perjalanan kehidupan timbale balik selama ini, yang dikhususkan kepada diri kondisi diri anak terhadap orang tua, kondisi generasi penerus terhadap generasi tua, kondisi kepemimpinan ditingkat bawah dan atas (kepenghuluan). Sehingga diharapkan terjadi dialog timbal balik tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mudah-mudahan memperoleh jalan keluarnya. “Ritual ini tercermin dalam prosesi sambung rasa yang dilakukan di makam Eyang Penghulu Gusti,” ujar Ki H Dede.

Ketiga, nyepuhkeun mapag Ramadan. Upacara Nyepuh juga digelar sebagai persiapan diri menghadapi bulan Ramadan. Sebab di bulan yang penuh barokah ini, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Sehingga sebelum menjalankan ibadah tersebut, seseorang harus bersih lahir dan batin. Selain itu, bila puasanya berhasil, maka ia akan memperoleh kemenangan pada hari raya Idul Fitri sebagai ganjaran dan kebaikan pada bulan-bulan selanjutnya, serta pengampunan dosa yang dilakukan sebelumnya.

 

Hakekat Nyepuh

Upacara Nyepuh adalah upacara yang diharap menyadarkan bahwa umat setelah menyatakan diri sebagai muslim, harus terus menerus meningkatkan, memperbaiki, menyempurnakan perilaku hidupnya sejalan dengan tuntutan agama Islam. Oleh karena itu, pengertian Nyepuh juga berarti Nyipuh, yang dalam pelaksanaannya harus senantiasa disertai dengan peningkatan komunikasi dengan Allah SWT, diantaranya melalui zikir, doa, shalawat, minta pengampunan dan beramal sholeh.

Dalam kesehariannya adalah tertib dan taat melaksanakan sholat, zakat dan puasa. Semua itu dalam rangka peningkatan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan Islam di manapun. Meski yang dilaksanakan adalah sesuatu yang kecil dan sederhana, namun upacara Nyepuh tetap mengikuti hakekatnya bahwa tidak akan ada yang besar apabila tidak dimulai dari yang kecil.

Tahapan upacara Nyepuh antara lain bebersih (thaharoh), pupujian, tawasulan, sambung rasa (silaturahmi), ngaregepkeun kyai (mendekatkan kiai dengan umat) dan lain-lain. Dalam kegiatan kebersamaan, diwujudkan dengan makan bersama atau ruing mungpulung menyantap tumpeng yang telah diolah secara cermat, baik bahan-bahannya yang halal, cara pengolahannya dengan ikhlas, pengolahannya dipimpin tetua yang sudah menopause (tamat haid), serta senantiasa dalam doa dimulai bismillah dan diakhiri alhamdulillah.

Tiga buah tumpeng yang disajikan, merupakan perlambang apa yang sudah dingawitan (dimulai) yakni Iman, Islam dan Ihsan, harus terpelihara dengan baik. Dalam pada itu, ranginang yang merupakan sajian bersama tumpeng mengandung arti bahwa mudah-mudahan melalui upacara Nyepuh bisa menjadi ragi bagi diri manusia, kehidupan dan penghidupan manusia dan terhadap siar agama Islam.

“Upacara Nyepuh secara keseluruhan adalah untuk mengajak agar umat Islam menjadi umat yang baik, yang senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya, serta amal ibadahnya sesuai dengan Alquran dan Alhadist,” tutur Ki H Dede.

 

Sambung Rasa

Puncak Upacara Nyepuh berlangsung di dalam hutan Keramat. Untuk mencapai hutan ini, warga yang seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri, harus berjalan sejauh tiga kilometer. Lantunan shalawat dan salam terhadap Kanjeng Muhammad SAW mengalun sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang warga diutus untuk mengambil air wudlu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal pemakaman sekaligus sebagai simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.

Air suci dari sumur emas pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan. Diiringi lantunan salawat dan doa-doa, barisan masyarakat itu kemudian memasuki lokasi makam Eyang Penghulu Gusti dan keluarganya.

Di depan makam-makam yang dianggap suci ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat Ciomas, pertemuan yang disebut sambugn rasa di depan makam karuhun ini amat penting. Di sinilah saatnya perwakilan warga bertemu dengan pejabat pemerintah dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya juga terjadi di depan makam Eyang Penghulu Gusti ini. (ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...

Menengok Tradisi Nyepuh Ciomas
Tuesday, 25 August 2009

payungemas-1.jpgTradisi Nyepuh sesungguhnya merupakan puncak dari rangkaian kegiatan ngamumule (melestarikan) adat karuhun (leluhur). Dan upacara Nyepuh sendiri merupakan manifestasi kearifan lokal yang tidak saja harus dilestarikan, tapi juga diangkat dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

 

Ciomas adalah nama desa di kaki Gunung Syawal, Ciamis. Di desa ini tergambar kehidupan khas masyarakat Tatar Sunda. Dan seperti desa agraris lainnya, penduduk Desa Ciomas juga menggantungkan hidupnya kepada alam. Ketaatan dan kearifan terhadap alam inilah yang kemudian membuat Ciomas menjadi daerah harmonis dan damai.

 

Kearifan warga Ciomas terhadap alam tak lepas dari keberadaan hutan yang berada persis di tengah-tengah desa. Hutan seluas 35 hektare ini disebut hutan Sukarame dan dianggap keramat oleh warga. Aturan-aturan tidak tertulis dalam adat masyarakat, membuat hutan ini tetap lestari. Kepatuhan terhadap aturan inilah yang membuat hutan keramat ini masih lestari. Bahkan pemerintah sendiri pernah menganugerahi penghargaan Kalpataru bagi masyarakat Ciomas karena kepeduliannya dalam melestarikan hutan.

 

Kepercayaan warga terhadap hutan keramat terkait dengan keberadaan makam Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti, yang terletak di tengah hutan Sukarame. Di sekitar makam ini pulalah upacara Nyepuh setiap tahun digelar. Menurut sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede Sadeli Suryabinangun, Eyang Penghulu Gusti merupakan penyebar agama Islam di Ciomas. Penghulu Gusti pulalah yang meminta warga setempat untuk selalu memperhatikan hutan dan melestarikannya.

 

Masyarakat di sana dilarang menebang pohon, apalagi merusaknya. Siapa yang melanggar pantangan itu, dipercaya bakal mendapatkan musibah dalam hidupnya. Karena pantangan itulah tak ada seorang pun warga di sana yang berani berbuat macam-macam di hutan ini.

Mulung Pangpung

Tradisi Nyepuh sendiri merupakan upacara puncak dari rangkaian tradisi lain yang berlangsung sehari sebelumnya. Antara lain tradisi mulung pangpung atau pengambilan kayu bakar dan nalekan (menanyai). Dua acara ini merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk melengkapi upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng ini dilakukan menggunakan kebersamaan atau gotong royong.

 

Ritual mulung pangpung dan nalekan ini pun sangat sarat makna. Misalnya pada prosesi mulung pangpung, pengambilan kayunya harus dari hutan. Itupun tidak boleh sembarangan. Pangpung (kayu lempung) yang diambil harus kayu yang sudah jatuh dari pohonnya. “Jadi tidak boleh kayu yang masih nempel, apalagi yang masih tumbuh. Di situlah nilai pelestarian lingkungan yang diajarkan leluhur tetap dijalankan,” tutur Ki H Dede Sadeli.

 

Selain itu, proses mulung pangpung harus didampingi kuncen hutan Sukarame, yakni Ibu Siti Mariyam. Nah, juru kuncilah yang kemudian membuka hutan agar terbuka bagi para pencari kayu yang dilakoni para pemuda desa. Pengambilan kayu ini pun harus setelah mendapatkan izin lebih dahulu dari penguasa hutan. Maka Diiringi lantunan ayat suci Alquran dan sholawat nabi, mereka berdoa di sekitar makam. Tujuannya agar kayu-kayu yang nantinya digunakan untuk memasak dapat membawa keberkahan.

 

Bila menengok kenyataan saat ini, kita bisa menyaksikan hutan-hutan di seantero nusantara rusak berat karena tebang dan dijarah. Hal itu, menurut Ki H Dede, karena simbolisasi mulung pangpung ini tidak diamalkan dalam kehidupan. Di Ciomas, 35 ha hutan Sukarena hingga kini masih lestari karena kearifan masyarakatnya. Sehingga jangan heran pemerintah pernah memberi penghargaan Kalpataru kepada masyarakat Ciomas.

 

Nah, bila keperluan kayu bakar dirasa telah mencukupi, para pemuda desa yang mendapat mengambil kayu harus menunjukkan kayu-kayu tersebut pada tetua desa. Sebelum dibawa ke kampung, tetua diwajibkan memeriksa kayu-kayu itu. Bila ada rayap atau sudah rapuh, kayu itu tak boleh dibawa pulang dan harus dikembalikan lagi ke dalam hutan.

 

Ritual Nalekan

Setelah bahan-bahan untuk memasak tersedia. Tibalah saatnya ritual nalekan dilakukan. Nalekan adalah ritual menanyai tentang segala hal berkait pembuatan nasi tumpeng, mulai dari bahan-bahan untuk memasak, hingga prosesnya. Sesuai aturan adat, bahan-bahan membuat tumpeng harus berasal dari kebaikan dan harus halal. Bila ada yang diperoleh dari jalan tidak halal, maka harus disingkirkan. Selain itu, yang memasak tiga tumpeng ini pun harus dilakukan oleh 17 wanita yang sudah menopause.

 

Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun tak lepas dari pengawasan para tetua. Maklum, sejumlah persyaratan harus dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Dan perlu diperhatikan, air untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.

 

Makna pemeriksaan bahan-bahan makanan sebenarnya sesuai dengan pesan bulan suci Ramadan yang akan segera datang. Di Bulan Suci inilah, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala tingkah lakunya dari perbuatan kotor. Itu pulalah yang diharapkan dari Upacara Nyepuh. Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan diri untuk menjadi manusia sempurna yang fitri.

 

Di luar dapur, suasana menjelang upacara Nyepuh begitu kentara. Sejak siang hari hingga malam hari, suasana desa begitu meriah. Para orang tua dan pemuda desa berbaur menjadi satu mempersiapkan atribut berupa bendera dan janur kuning dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi hiasan yang cantik dan semarak. Saat membuat hiasan upacara, warga pun disarankan untuk menggunakan lampu tempel. Pelita berbahan minyak tanah ini bermakna sebagai penerang kehidupan warga Ciomas. Maka menjelang tengah malam, barisan obor menerangi sepanjang jalan desa. (ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...
banner_rokok.gifnarkobaaaaaa.jpg
 

Statistik

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini9
mod_vvisit_counterKemarin122
mod_vvisit_counterMinggu ini545
mod_vvisit_counterBulan ini1475
mod_vvisit_counterSemua31104

Who's Online

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id

Poling

Rubrik yang sering Anda baca?
 
banner2-150x150.gif

 
 
   iklan_perda.gif
bankjabar.jpg