spedy.gif 
 
Updated: Thu, 29 Jul 2010 22:05:53 +0700
Atribut Mobil Operasional Kades Kab. Bekasi, Banyak Yang di kuliti
Thursday, 29 July 2010
Bekasi *** Aset Pemerintah (Inventaris) untuk operasional Desa berupa Mobil Operasional, yang telah diberikan Kepada 182 desa di Kabupaten Bekasi, ternyata banyak yang tidak dirawat oleh para kepala Desa. Modusnya adalah dengan menguliti semua atribut yang menempel di pintu mobil, yang bertuliskan “Mobil Operasional Kepala Desa, Desa penerima, Kecamatan penerima, Kabupaten bekasi“. Baru beberapa hari menerima mobil, atribut tersebut telah dikuli...
Thursday, 29 July 2010
Bandung *** Meskipun struktur Fraksi PDI Perjuangan Jawa Barat yang dipimpin Agus Weliyanto, SH., belum sampai satu tahun, namun Fraksi PDI-P DPRD Jabar telah melakukan rolling susunan fraksi yang baru. Kini sudah sejak sepekan, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Barat Ir. Herry Mei Oloan, memimpin Fraksi PDI Perjuangan Jawa Barat, menggantikan posisi Agus Weliyanto, SH. Dikatakan Herry yang berangkat dari Dapil Kota Bandung dan Cimahi ini, r...
Thursday, 29 July 2010
Cimahi *** Pengindap penyakit HIV/AIDS di Kota Cimahi, ternyata masih tinggi. Dari data yang terungkap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, di bulan Januari 2010 tercatat sekitar 115 jiwa penduduk Cimahi terjangkit HIV /AIDS. Wilayah yang tertinggi adalah Kecamatan Cimahi Utara 41%, Kecamatan Cimahi Tengah 26% dan Kecamatan Cimahi Selatan 12 % serta 21% lagi belum terdeteksi. Salah satu faktor tingginya pengidap HIV/AIDS tersebut ternyata adalah tidak me...
Thursday, 29 July 2010
Bandung *** Kisruh masalah tenaga ahli di Pemerintahan Provinsi Jabar dibawah Pimpinan Ahmad Heryawan, sebenarnya bukan hanya permasalahan Peraturan dan perundangan-undangan, tetapi kategori dan kapasitas dari tenaga ahli tersebut. “Yang jadi masalah adalah kapasitas dari tenaga ahli tersebut merupakan orang-orang dekat “beliau”, bukan untuk kepentingan daerah tapi untuk melindungi dan pemeliharaan kekuasaan”, demikian diungkapkan Humar ...
Berita Sebelumnya



Berita Lain
Ragam
Sosok
Wisata & Budaya
Daerah
Olah Raga
porda_jabar_jadi.jpgmayang_arum_banner2.jpgiklan_hut_purwakarta_pemkab.jpg
 


moc_tea.jpglogo_hut_bdg.jpgraiser_iklan.jpgpasti.jpg 
 

Opini

HJKB ke-199: Bandung Menuju Kota Metropolitan Yang Tetap Mempertahankan Karakteristik
Wednesday, 07 October 2009
Kota Bandung merupakan sebuah kota yang memiliki sejarah panjang. Dahulunya merupakan sebuah danau purba yang dikelilingi oleh gunung dan terletak di ketinggian ±768 m di atas permukaan laut.
 
Bandung yang mempunyai posisi strategis karena secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, dan merupakan ibu kota Jawa Barat serta menjadi kota penyangga Ibu kota Negara, dibangun dengan rentang waktu yang sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.
 
Kabupaten Bandung merupakan bagaian sejarah terbentuknya kota Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun yang memerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 1681.
 
Sementara kota Bandung tidak diketahui secara pasti berapa lama dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh Bupati R. A. Wiranatakusumah II yang disebut sebagai pendiri (the founding father) kota Bandung.
 
Kota Bandung sendiri diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810, yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya kota Bandung.
 
Pada masa revolusi kemerdekaan, Kota Bandung pun menjadi pusat perjuangan mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan. Di Kota ini juga pernah berlangsung berbagai kegiatan, baik kegiatan bertaraf nasional maupun internasional, antara lain Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 dan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) tahun 1965.
 
Secara budaya, akulturasi antar budaya Sunda, yang mengakari budaya kota Bandung, dengan berbagai budaya yang masuk ke kota Bandung melalui warga pendatang dan melalui berbagai ragam teknologi informasi berlangsung dengan cepat, menghasilkan sebuah produk budaya kontemporer kota Bandung yang khas.

 

Dan dalam perjalanan sejarahnya yang panjang itu, Kota Bandung selain sebagai pusat pemerintahan daerah Jawa Barat, juga dikenal sebagai kota jasa yang bermartabat, disamping sebagai pusat Pendidikan, pusat kebudayaan, dan pusat pariwisata.
 
Diusianya yang kini memasuki ke-199 dan hamper genap 2 abad, kota Bandung sekarang jauh lebih membanggakan. Ini berkat tangan dingin dan kepiawaian para walikotanya.
 
Kini hampir semua penjuru kota yang memiliki luas 16.729, 5 hektar itu berkembang menjadi kota modern. Status kota jasa dan wisata belanja yang disandangnya benar-benar sangat hidup. Di setiap sudut terdapat pusat-pusat perbelanjaan baik tradisional maupun modern.
 
Di era pemerintahan walikota sekarang (H. Dada Rosada) dengan 7 program prioritasnya yakni PENDIDIKAN, KESEHATAN, KEMAKMURAN, LINGKUNGAN, SENI BUDAYA, OLAHRAGA dan AGAMA, kota Bandung dari tahun ke tahun tak henti-henti menata wajahnya.
 
Alhasil, reputasi kota berpenduduk hampir 4 juta jiwa itu pun semakin mempesona. Hasil penataan menjadikan kota Bandung bertambah apik sesuai perkembangannya. Yakni menuju kota metropolitan yang tetap mempertahankan karakteristik sebagai kota sejarah yang melestarikan citra estetik, modern, aman, nyaman dan asri. (Teu****)

 

  Read more...
N.I. Nurlaela : Sejarah Singkat Purwakarta
Monday, 20 July 2009

Salah satu makna peringatan Hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta adalah momentum untuk menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki atau kebersamaan dalam pembangunan.

Peringatan ini merupakan satu bentuk pengilhaman menuju digjaya Purwakarta. Gagasan serta upaya yang dilakukan pemkab Purwakarta tidak lain demi meningkatkan kesejateraan masyarakat.

Sumber yang didapat Purwakarta dari penelitian, sejarah kelahiran Purwakarta setidaknya ditemukan dalam tiga buku karya sejarawan dan arsiparis bernama Dr. Frederick de Hann tahun 1912, buku karya G de Seriere tahun 1849 dan Resolutien Van den Gouverneur Generaal and Interim Van Nederlandsch Indie in Rade, Batavia den 14 den Maart 1835.

Melalui surat keputusan Van den Krawang G de Seriere, Sindangkasih, 20 Juli 1831 No. 2, assisten resident Krawang No. 40, disebutkan keberadaan Purwakarta bermula dari munculnya keinginan kepala pribumi yang mengusulkan perubahan nama ibukota sekarang ini menjadi Purwakarta.

Kata Purwa berarti permulaan dan Karta bermakna ramai atau hidup. Purwakarta sendiri dinyatakan resmi sebagai Ibukota Kabupaten pada tanggal 2 Juli 1831.

Selanjutnya, hari kelahiran Purwakarta kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah No.2/Tahun 2006, tentang Hari Jadi Purwakarta. Penetapan dalam bentuk Perda ini menjadi landasan yuridis formal. Peringatan Hari Jadi Purwakarta yang menjadikan momentum penting dalam menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki dan meningkatkan kebersamaan dalam pembangunan.

Karenanya, sejak perda hari jadi Purwakarta diresmikan menjadi ibukota kabupaten, Pemkab Purwakarta tak pernah absen untuk memperingati hari besar ini dengan berbagai acara dan kegiatan yang memiliki makna membangun dan menjalin kebersamaan.

Di hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta tahun ini Ke-41/178, hal itu kembali ditorehkan Pemkab Purwakarta melalui sejumlah kegiatan, antara lain dari kegiatan bernuansa agamis hingga perlombaan yang diambil dari kebiasaan masyarakat setempat.

Beberapa kegiatan atraktif itu, seperti lomba-lomba yang diprakarsai dari kebudayaan daerah itu sendiri. Seperti diketahui, langkah kebijakan yang di ambil Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan wakil Bupati Purwakarta Dudung B Supardi dengan visi dan misi membangun Purwakarta berkarakter, tanpa disadari atau tidak pada kepemimpinannya saat ini budaya asli masyarakat terus kembali di gulirkan.

Ini pun seakan, di tangan pemerintahannya yang baru seumur jagung mempunyai makna ingin mengembalikan citra Purwakarta sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tidak melupakan jati dirinya melalui program salapan (9) lengkah ngawangun nagri rahaja Purwakarta. ***

  Read more...

Drs. Teddy Guswana : Aspek Investasi, Mendorong LPE Jawa Barat
Saturday, 13 June 2009

 

Dalam beberapa kesempatan, Kepala Badan Promosi dan Penamaman Modal Jawa Barat sering mengatakan bahwa Jawa Barat masih prospektif untuk dijadikan lahan investasi karena banyak bidang usaha dan prpyek-proyek yang menjanjikan dan memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus.

Apa yang dilontarkan itu tentunya berpijak pada kondisi Jawa Barat yang memiliki peluang untuk berkembangnya berbagai bidang pekerjaan  dan  usaha yang bisa menjadi ajang investasi strategis serta menguntungkan dilihat dari aspek bisnis. Pada kondisi ini, memang Jawa Barat hingga kini masih menjadi salah satu wilayah yang dilirik banyak investor. Beberapa proyek besar seperti renovasi bandara Husen Sstranegara Bandung dan rencana pembangunan bandara di majalengka, telah banyak mengundang calon investor dari beberapa negara untuk berinvestasi didalamnya.

Dalam kerangka pembangunan ekonomi Jawa Barat, kedatangan investor memang sangat diperlukan karena perananya tidak kecil terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Dalam hal ini, pakar-pakar ekonomi terutama yang berasal dari Jawa Barat mengemukakan bahwa masuknya investor ke Jawa Barat merupakan kebutuhan yang strategis untuk mendorong LPE Jawa Barat. Bisa dikatakan, kalangan investor itu merupakan salah satu elemen yang inheren dengan pembangunan ekonomi itu sendiri. Oleh karena kepada kalangan investor ini perlu diberikan ruang yang mamadai yang menyangkut infrastruktur dan layanan birokrasi.

Dalam soal layanan, pemerintah propinsi Jawa Barat hingga saat ini berupaya memberikan kemudahan dan menghindarkan high cost. Salah satunya adalah dengan dibentuknya seksi layanan investasi di lingkungan Badan Promosi dan Penanaman Modal (BPPMD) propinsi Jawa Barat. Seksi ini, menurut sumber di lingkungan BPPMD tidak bermaksud menambah panjang layanan investasi, tetapi akan lebih memberikan layanan yang akurat, sehingga segala persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon investor bisa dipenuhi selengkap mungkin dalam waktu yang cepat karena mendapatkan petunjuk dari seksi ini.

Itu disatu pihak. Dipihak lainpun tentunya diperlukan sikap serius dari kalangan calon investor itu sendiri. Artinya, calon investor yang datang di Jawa Barat bukan hanya melihat, menanyakan, dan menginginkan presentasi tentang proyek yang diminatinya, tetapi kemudian tidak jelas tindak lanjut dari calon investor itu sendiri. Sebagai contoh, untuk beberapa proyek besar di Jawa Barat banyak calon investor yang datang dan berjanji dengan bagus untuk menanamkan modalnya. Tetapi ketika keterangan tentang proyek tersebut sudah dijelaskan secara rinci dan gamblang, ternyata investor ini tidak datang lagi di Jawa Barat dan menghilang begitu saja.

Yang diperlukan di Jawa Barat, tentunya juga di daerah-daerah lain adalah calon investor yang benar-benar memiliki komitmen untuk mengembangkan usaha dan mengerjakan proyek-proyek besar. Pertama tentunya akan bisa memberikan kontribusi terhadap LPE Jawa barat, dan kedua tentunya terdapat aspek bisnis yang menyangkut prospek keuntungan bagi investor itu sendiri.

Dalam kaitan itu, BPPMD Jawa Barat tentunya sudah sering memberikan presentasi, baik didalam maupun diluar negeri tentang proyek-proyek dan bidang usaha yang sangat prospektif untuk dijadikan ajang investasi. Bahkan setiap tahun presentasi semacam ini terus dilakukan sebagai upaya promosi prospek ekonomi Jawa Barat. Hasilnya memang bisa mendatangkan kalangan investor. Tetapi ya itu tadi, ada kalangan investor yang benar-benar berinvestasi dan ada juga investor yang hanya janji tetapi berlalu begitu saja.

Tetapi apapun kondisinya, BPPMD Jawa Barat sebagai lembaga paling strategis didalam mengembangkan penamaman modal di Jawa Barat tentunya tidak akan bosan untuk terus mempresentasikan prospek Jawa Barat terutama secara regional maupun internasional agar investasi di Jawa Barat tiap tahun terus mengalami peningkatan. Dalam hal ini, BPPMD sudah tentu memiliki pengalaman dan kejelian didalam melihat mana investor serius dan mana investor yang hanya akan berlalu begitu saja tanpa memperlihatkan tindakan riil didalam menginvetasikan modalnya di Jawa Barat.

Pengalaman dan kejelian itu tentunya akan menjadi pijakan didalam menyeleksi calon-calon investor yang akan berinvestasi di Jawa Barat. Seleksi ini sangatlah diperlukan agar BPPMD tidak membuang-buang energy mempresentasikan prospek Jawa Barat kepada kalangan calon investor yang hanya memberikan angin surga tetapi tidak jelas tindakan nyatanya.

Tidak bisa dipungkiri, dari luar negeripun tidak semua calon investor itu bonafid. Pasti ada saja calon investor luar negeri yang dalam mempresentasikan minatnya terdengar dan terlihat meyakinkan. Tetapi ketika ditanyakan kesiapannya untuk meinginvestasikan modalnya, calon investor ini tidak cukup siap untuk melakukannya.

Dalam kaitan itu, khusus untuk rencana pembangunan bandara di Majalengka dan rencana renovasi bandara Husen Sastranegara, Bandung, saat ini telah banyak calon investor dari beberapa negara yang katanya minat berinvestasi. Tetapi apakah minat itu benar-benar didukung oleh keseriusan dan persyaratan termasuk persyaratan finansial mereka ? inilah yang harus dilihat secara jeli agar tidak banyak calon investor bodong yang kelihatannya berminat tetapi ujung-ujungnya tidak jelas dan berlalu begitu saja. Yang diperlukan Jawa Barat adalah calon investor yang mampu berperan secara nyata untuk kepentingan Jawa Barat dan kepentingan investor itu sendiri. ***

  Read more...

Renungan


Sumpah Pemuda Jangan Jadi Kenangan
Tuesday, 28 October 2008

  Andai saja para pelopor sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 masih ada, entah bagaimana perasaannya melihat keadaan bangsanya saat ini. Setelah 80 tahun para pemoeda-pemoedi Indonesia mengikralkan janji setianya untuk satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, kini lambat laun sumpah mulia tersebut mulai di khianati generasi penerusnya.

Jika dulu perbedaan suku, agama, wilayah dan sebagainya dijadikan modal dasar untuk bersatu, kini justru itu menjadi ladang subur perpecahan dan kekacauan di negeri yang konon menjungjung adat ketimuran ini.

Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia hasil rumusan pemoeda-pemoedi Indonesia pada Kongres Pemuda II yang di selenggarakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928.

Kongres yang digelar organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) tersebut beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia, dengan dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb, serta dihadiri pula pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

          Ketua kongres Pemuda II Soegondo Djojopoespito dalam sambutannya berharap kongres tersebut dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, dan selanjutnya disampaikan uraian dari beberapa pembicara.

Moehammad Jamin dalam uraiannya menyampaikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

          Sementara itu dua pembicara selanjutnya yakni Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

          Sedangkan pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan akan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Dan selanjutnya Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

            Dalam peristiwa bersejarah itu pula pada tahun 1928, untuk pertama kalinya di perdengarkan lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya” yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut, sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda saat itu, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya, dan  Lagu kebangsaan Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan.

 Sumpah pemuda jangan jadi kenangan, tetapi semangat para pemuda tempo itu harus dijadikan inspirasi dan tekad kita bersama untuk tetap bertanah air satu, tanah air indonesia. Berbangsa satu, bangsa indonesia, dan berbahasa satu, bahasa indonesia, sebagai modal dasar kebesaran bangsa indonesia, amien. (Bud)

 

TEKS SUMPAH PEMUDA

 SOEMPAH PEMOEDA

 Pertama :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

 Kedua :

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

 Ketiga :

 KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

 

Djakarta, 28 Oktober 1928

 

Teks Soempah Pemoeda dibacakan di Waltervreden oleh :

Soegondo Djojopoespito (PPPI), R.M. Djoko Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon), Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi), Abdul Muthalib Sangadji, Purnama Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo, Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr.Pijper, Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi, Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo, Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo, Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin (Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage Rudolf Soepratman, Nona Tumbel.

 

  Read more...

Sosok

Hikmah Rahmat Budi Mulyawan Jadi Peternak Ayam
Monday, 05 July 2010

rahmat_budi_mulyawan.jpgAsal ditekuni dengan baik akan membuahkan hasil yang baik juga, demikian ungkapan yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Purwakarta Rahmat Budi Mulyawan asal partai golkar yang hingga saat ini masih menggeluti ternak ayam.

Kiprahnya dimulai dari tahun 2005, hingga kini segudang sejarah dan kenangan yang telah diperolehnya dari perjalanan beternak sampai duduk dikursi legeslatif menjadi anggota DPRD.

“Kenangan yang tak terlupakan ketika belajar pertama memberikan Vaksinasi ke ayam, tangan kiri sempat tertusuk jarum hingga bengkak. Lima hari tangan terasa pegal bengkak maklum baru belajar”, katanya. Namun hikmahnya kini dirinya telah mahir melakukan penyuntikan, terang laki-laki kelahiran tasikmalaya 41 tahun yang silam.

Dari ternak tersebut tambahnya, sebanyak sembilan orang telah dipekerjakamnya untuk membantu usaha tersebut. “Semua dari warga setempat, bisa bertambah bila musim lebaran tiba permintaan banyak tenaga kurang dengan terpaksa warga sekitarpun ikut direkrut guna membantu penyidiaan kebuthan para pemesan”, terang Budi yang setiap harinya selalu perlente ini.

Bila menghitung untung, sangatlah lumayan jawabnya dengan senyum, yang penting dimenej dengan baik serta pengawasan yang ektra. Para pekerja yang telah bekerja selama tiga tahun denganya, akan diberhentikan dengan hormat dilepas mandiri, ujarnya.

Artinya segala ilmu serta pengalaman yang telah diperoleh selama tiga tahun itu dikembangkan sendiri, ”Pekerja tersebut buka usaha sendiri namun tidak terlepas dari pengawasan saya tentunya, ya mudah-mudahan dengan berdikari akan lebih membuahkan hasil yang lebih juga tentunya”, papar Budi.

Kini Rahmat Budi Mulyawan dengan tiga buah hatinya didampingi seorang istri Elvi Hastuti, mendiami rumah yang cukup sederhana Jl. Raya Sawit-Bojong Km.6 Kp. Neglasari Rt.01/01 Ds. Neglasari Kec. Darangdan Kab. Purwakarta.   (Syaiful jabrig)

  Read more...
Yayan Jalaludin : ANGGOTA DPRD PURWAKARTA TERPILIH
Monday, 22 June 2009

Biodata Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode 2009-2014 Purwakarta

Daerah Pemilihan

Nama

Tempat Tanggal Lahir

Alamat                                  

 

Jenis Kelamin                        

Agama

Status Perkawinan                  

Nama Istri/ Suami                  

Jumlah Anak                         

Pekerjaan

Riwayat Pendidikan                   

 

 

 

Pengalaman Organisasi

 

 

:

:

:

:

 

:

:

:

:

:

:

:

 

 

 

::

Purwakarta 4 (Empat)                           

YAYAN JALALUDIN                  

Purwakarta, 10 April 1968      

Kp. Sumber Sari Rt. 07/03 Ds. Pawenang

Kec. Bojong Kab. Purwakarta 

Laki-laki                                

Islam                                    

Kawin                                   

SITI SUYANTI S.Pdi                 

3 (tiga) orang                        

                                            

a. MIN Lulusan Thn. 1983

b. MTsN Lulusan Thn. 1986

c. MAN Lulusan Thn. 1990

 

a. Ketua Karang Taruna Ds. Pawenang

b. Wakil Ketua DPC GERINDRA Kab. Purwakarta

  Read more...

Sri Puji Utami : ANGGOTA DPRD PURWAKARTA TERPILIH
Monday, 22 June 2009

Biodata Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode 2009-2014 Purwakarta

Daerah Pemilihan

Nama               

Tempat Tanggal Lahir               

Alamat 

Jenis Kelamin               

Agama             

Status Perkawinan         

Nama Istri/ Suami                     

Jumlah Anak    

Pekerjaan        

 

Riwayat Pendidikan       

 

 

 

 

Pengalaman Organisasi:

 

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

 

:

 

 

 

 

:

Purwakarta 2 (Dua)                               

SRI PUJI UTAMI                      

Purwakarta, 29 Juli 1971        

Ds. Cibening Rt. 12/04 Kec. Bungur Sari Kab. Purwakarta

Perempuan                            

Islam                                    

Kawin                                   

DIK DIK SUKARDI                    

2 (dua) orang                        

Ibu Rumah Tangga                 

 

a. SDN Cibening I

b. SMPN Campaka

c. SMAN II Purwakarta

d. Akademi Akuntansi Borobudur, Jakarta

 

a. OSIS

b. Senat MahasiswaPURWAKARTA 5 (LIMA)                                                                   

  Read more...
iklan_pkb_purwakarta.jpg iklan_rahmat_budi.jpg iklan_dinkes_purwakarta.jpg  iklan_demokrat.jpg
 

Wisata

Keramat Batu Tujuh Bojongmenje
Monday, 19 July 2010

bojongmenje.jpgBatu Tujuh adalah sebutan tujuh bongkah batu yang terdapat di lingkungan RW 02 Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Batu Tujuh memang dikeramatkan. Bahkan nama gang yang melintasi lokasi batu itu berada, diberinama Gang Batu Tujuh. Masyarakat setempat yakin Batu Tujuh berkait dengan sejarah silam tempat itu. Tak seorang pun berani mengusik batu itu karena takut celaka.

Keberadaan Batu Tujuh hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi candi Bojong Menje, yang baru ditemukan tiga tahun silam. Di sebut Batu Tujuh, karena jumlah batu ini tujuh bongkah. Fisiknya bulat tak beraturan dengan diameter rata-rata 60 cm. Semuanya tergeletak begitu saja di salah satu sudut jalan Gang Batu Tujuh.Yang unik dari batu ini adalah soal bobot.

Ketika ditanyakan kepada masyarakat setempat soal itu, mereka semua menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Kepala Kampung Bojongmenje, Somantri Salim (60), malah mengatakan sesuatu yang sulit dinalar. Katanya, berat batu tidak bisa diukur. “Bobotnya bisa mencapai satu ton bila yang ingin mengangkat punya niat buruk,” tandas tokoh yang dituakan di kampung itu.

Sejak ditemukannya Candi Bojongmenje alias Candi Orok beberapa tahun silam, keberadaan Batu Tujuh juga menyedot rasa ingin tahu masyarakat. Somantri meyakinkan bila Batu tujuh sudah ada sejak lama. Ia tergeletak di tanah milik H Umar. Dan sejak lama pula, tak pernah ada yang memindahkan batu-batu itu. Somantri mengatakan, pernah ada yang akan membawa salah satu batu itu. Memang, hari itu ia berhasil membawanya. Tapi esoknya, batu itu sudah ada di tempat semula. “Bahkan yang memindahkannya jadi sakit,” kenang Somantri.

Menurut Somantri, Batu Tujuh bukan sembarang batu. Batu itu merupaikan tinggalan leluhur yang pernah menghuni tempat itu ratusan tahun lalu. Bahkan kini batu itu ditunggui mahluk gaib bernama Nyi Mas Raja Inten. Konon ada satu keanehan yang melekat pada batu itu. Ia bisa memberi kekayaan bagi pemeliharanya. Hal itu dibuktikan H Umar. Dulu, sebelum merawat batu itu, ia tak memiliki apapun dalam bentuk harta. Namun setelah memelihara batu itu dihalaman rumahnya, H Umar memiliki tanah sampai 60 Ha yang tersebar di beberapa tempat.

Minta Tumbal

Tapi hati-hati terhadap batu ini. Bila bertindak gegabah, bisa dapat celaka. Seperti memindahkan letak batu dari tempat asalnya. Tiga tahun yang lalu, Somantri bercerita, pernah ada yang mencoba memindahkan batu itu. Namanya H Rohman. Sayangnya, proses pemindahan tidak didahului dengan permohonan ijin kepada penunggu batu. Akibatnya penghuni batu itu tak rela, Nyi Mas Raja Inten tak mau dipindah.

Lantas apa yang terjadi? Setelah memindahkan batu itu, keesokan harinya H Rohman jatuh sakit. Kian hari sakitnya tambah parah. Akhirnya dia meninggal dunia. Penyakit yang dideritanya pun sangat aneh. Sakit itu datang tiba-tiba dan tidak diketahui jenisnya. Ilmu kedokteran hanya menyebutnya sakit tekanan darah tinggi. “Bisa saja sebenarnya H Rohman menjadi tumbal dari batu itu,” tutur Somantri.

Setelah kejadian itu, beberapa tokoh kampung Bojongmenje pernah kedapatan ilafat. Bunyinya antara lain, “Kami jangan dirusak, peliharalah kami,” ujar Somantri menirukan bunyi ilafat itu. Akhirnya ilafat ini didiskusikan bersama beberapa pini sepuh kampung. Mereka meyakini isi ilafat itu adalah pesan untuk memelihara Batu Tujuh yang terletak di RT 02 itu. Sebab ternyata, petunjuk gaib semacam itu datangnya bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kepada lain orang. Sejak itu Batu Tujuh dianggap keramat dan tak ada yang berani macam-macam.

Meski dikeramatkan, beber Somantri, kita tidak boleh melebih-lebihkan soal batu ini. Selain ia pun mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia, bentuknya tetap saja batu, benda mati. Hanya saja, batu ini memiliki kelebihan dibandingkan benda sejenis. Yakni ada penunggunya, yang patut dihormati. “Ini pertanda kita harus menghargai alam semesta,” ungkap Somantri. ekorisanto.blogspot.com

  Read more...
Kabuyutan Ciburuy Garut
Tuesday, 10 November 2009

 

kabuyutan_ciburuy.jpg
Abad 15 silam, Kampung Ciburuy adalah sebuah daerah yang teduh dan tenang. Ia terletak di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut, Jabar. Tanahnya luas dan subur. Para karuhun (leluhur) di sana menyebutnya tanah dewa sasana, yang artinya tempat bersemayamnya para dewa. Di sinilah jejak para resi dan raja besar tanah Pasundan terkuak.

 

Tatar Sunda termasuk kawasan relatif banyak meninggalkan tilas-tilas sejarah. Namun demikian, terbilang sedikit diantaranya yang berhasil diungkap. Para sejarawan mencatat, pada periode abad ke-4 hingga ke-16 masehi, di kawasan ini berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Sebut saja kerajaan Tarumanagara, Galuh, hingga kerajaan Sunda Pakuan. Begitulah para ahli menyebutnya sebagai periode yang cukup panjang dalam perputaran sejarah.

Menurut penelusuran sejarah, di tanah Jawa bagian barat (Pasundan), pengaruh Hindu sesungguhnya lebih dulu merebak. Yaitu dengan berdirinya kerajaan Tarumanagara pada abad ke-4. Lalu kemudian muncul kerajaan-kerajaan lainnya. Ironisnya, di daerah ini malah nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Satu-satunya candi yang ditemukan di Jawa Barat adalah Candi Cangkuang, kendati hingga kini masih terjadi silang pendapat di kalangan pakar. Candi ini ditemukan di kampung Pulo, desa Cangkuang, kecamatan Leles, Garut, Jabar. Kemudian Candi Bojongmenje, yang ditemukan tahun 2003 dan kini masih dalam penelitian intensif Balai Arkeolog Bandung.

Berita-berita tentang kehidupan kerajaan-kerajaan pada masa silam, terungkap lewat penemuan para ahli. Beberapa prasasti, misalnya, berhasil ditemukan dan diungkap kandungan isinya. Misalnya prasasti Batu Tulis dan Kebon Kopi di Bogor. Juga prasasti Kawali dan Galuh di Ciamis, lalu prasasti Kebantenan I - V di Banten, prasasti Rumantak di Gegerhanjuang Tasikmalaya, prasasti sanghyang Tapak I - II di Sukabumi dan lainnya.

Sumber-sumber berbentuk naskah pun berhasil di temukan di tatar Sunda ini. Antara lain Carita Parahyangan, Carita Bujangga Manik, Carita Waruga Rasa, Babad Galuh, Babad Pakuan, Siskandang Karesian, Amanat dari Galunggung, dan lainnya. Semua naskah itu mengandung isi yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Sunda di masa lalu.

Tanah Dewa

Meski jejak-jejak kerajaan di tatar Sunda berhasil ditelusuri lewat prasasti dan naskah-naskah tua, namun bentuk fisik semacam bangunan atau candi, jarang ditemukan. Inilah yang membedakan eksistensi kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Timur dengan daerah Jawa Barat. Candi memang identik dengan sarana ibadah dan pemujaan kala itu. Ia merupakan cermin religi dan kesakralan.

Bagaimana dengan Tatar Sunda? Di kalangan masyarakat Sunda, muncul sebutan Tanah Dewa Sasana. Yakni suatu bukti bahwa masyarakat Sunda kala itu, memerlukan suatu tempat yang sakral dan dikeramatkan, sebagai wujud kehidupan religiusnya. Mengapa mereka tak membangun candi? Ini yang menarik. Namun konon, Tanah Dewa Sasana punya nilai setara dengan eksistensi candi, yang kerap dinamakan kabuyutan atau kawikuan. Sebagai contoh adalah Kabuyutan Ciburuy di desa Pamalayan, Bayongbong, Garut.

Tanah Dewa Sasana adalah sebuah tempat yang disucikan para petinggi kerajaan yang mulai meninggalkan aktivitas duniawi. Jangan heran bila kabuyutan selalu jauh dari keramaian. Sebab di sinilah, mantan raja dan petinggi kerajaan menenangkan diri. Tidak sedikit pula yang menghabiskan sisa usianya. Tidak jarang, petinggi kerajaan yang masih aktif, membahas masalah pelik ketatanegaraan dan urusan rakyat di sini.

Kabuyutan Ciburuy

Nana Suryana, kuncen Kabuyutan Ciburuy, mengatakan bila di kabuyutan yang di peliharanya, terdapat bermacam-macam benda pusaka peninggalan tokoh-tokoh zaman kerajaan Sunda. Ini merupakan bukti bila kabuyutan seluas 7 Ha ini pernah didiami tokoh-tokoh penting. “Banyak peninggalan karuhun yang disimpan di dua bangunan,” tutur Nana.

Kabuyuran Ciburuy terdiri dari tiga bangunan dan sebuah saung lesung (tempat menumbuk padi). Bangunan pertama disebut patemon yang sebagai tempat berkumpul (rapat) dan menerima tamu. Kemudian bumi alit (padalaman), tempat beristirahat raja sekaligus tempat menyimpan perangkat kerajaan seperti peta, naskah-naskah dan dokumen kerajaan. Dan ketiga lumbung padi tempat persediaan makanan.

Secara fisik, ketiga bangunan ini bentuknya unik, beratap ijuk dan mirip bangunan di daerah Minangkabau. Bangunan disangga tiang-tiang dari kayu dan berdinding bilik. Di dalam dua bangunan itu terdapat keris, sabuk, rantai emas, golok, bogor ageung, cupu, naskah kuno, kujang, tumbak, trisula, kentongan, tongkat, dan lainnya. *

Naskah Kuno Ciburuy

-----------------------------------

Tahaduk sang hiang hayu tekang yarakan kami ring wiring ka di kita. (Harus tahan dan sabar dalam menyambut datangnya pemimpin yang menerima wahyu untuk mengajarkan ilmu Allah kepada manusia yang kurang iman, termasuk kepada kita.

 

Kunang dyan kumijar sa rasana kang wuwus kami. (Keterangan dan contoh untuk menyatakan rasa tunggal bersaudara yang diwajibkan oleh Alah yang terdapat dalam kitab suci manapun).

 

Hayua kita umawa ya rasa ya carita. (Ketidakwaspadaan dan kelemahan kita yang menjadikan bangsa kita mengalami kesusahan dan penderitaan).

 

Mung kalor raksa wawa wasita. (Dimana waktu membalas terhadap saudara-saudara kita yang satu ideologi harus tetap waspada dan tetap menjaga nama baik bangsa sendiri).

 

Nada kari-kari luini kang rasa carita. (Kejadian itu meminta korban, akibat kelakuan yagn keterlaluan yagn menyebabkan eksusahan dan penderitaan.)

 

Yana kaulingana ri kami. (Kamu sekalian tidak pernah ingat kepada Allah).

 

Auma nihan luike. (Golongan yang demikian akan lebih berat hukumannya)

 

Ka wuang ngarga wiwiku. (Hanya sedikit orang yang menghargai guru yang menunjukkan manusia kepada jalan yang benar).

 

Mreng ngucapa ta carita ni kang huang dewasa. (Riuhnya suara yang kesusahan terdengar oleh para pemimpin di seluruh dunia).

 

Kala re purwa teja rata tarima haka nguni. (Pokok ajaran para pemimpin adalah tentang keseimbangan hidup, bila tidak percay acobalah tanyakan kepada musuh atau kepada saudara-saudara tertua yang terdahulu).

 

Anaa ka yugi arah kami sawite swara maha dewa. (Anaknya yang akan dating, juga mengaku ketruunan para leluhur yang bijaksana yang tidak berbeda bila tidak berbicara bagaikan pemimpin besar yang berbudi luhur padahal palsu)

 

Murang kusika garga game tri kusuma pata tajali. (Hanya yang pintar, yang gagah/kuat, yang bangsawan, yang rajin, yang patuh, yang cantik). 

(ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...

Tugu Khatulistiwa Pontianak
Sunday, 18 October 2009

tugu_khatulistiwa.jpgTugu Khatulistiwa Pontianak terletak persis di sisi jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Tiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23 September pukul 12.00 WIB, bayangan benda di sekitar tugu ini akan menghilang. Saat itulah diperingati sebagai hari kulminasi matahari. Karena saat itu, di tempat ini matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Namun, ada hal lain yang kerap menjadi misteri. Yaitu soal penunggu gaib tugu yang dibangun tahun 1928 ini.

 Tiap 21 -23 Maret dan 21-23 September, Tugu Khatulistiwa Pontianak menjadi primadona. Ketika itulah di kompleks ini sering digelar beragam pertunjukan kesenian, pameran dan lain-lain hiburan. Tak pelak, massa pun tersedot ke tempat ini. Dari penjuru daerah berdatangan ke sekitar tugu. Namun, yang paling istimewa sebenarnya bukan hanya itu. Melainkan tepat tengah hari pada tanggal tersebut, segala bayangan benda tegak yang ada di sekitarnya, akan menghilang secara misterius. Ini tentu tidak akan pernah terjadi di tempat lain.

 Peneliti Belanda

Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya, cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa, penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa propinsi di Indonesia dan beberapa negara lain. Untuk Kalbar, garis khatulistiwa melewati beberapa daerah seperti kota/kabupaten Pontianak, Sanggau dan Sintang.

 Di Kalbar, Garis Khatulistiwa memotong Sungai Kapuas sebanyak 2 kali, dan satu kali memotong Sungai Melawi. Panjang Garis Khatulistiwa yang melintasi daratan Kalbar adalah 466 km. Selain itu, ada 7 propinsi lain yang dilewati Garis Khatulistiwa yaitu Propinsi Sumatera Barat (Utara Payakumbuh), Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Irian Jaya. Selain itu ada 5 negara Afrika yang dilewati Garis Khatulistiwa yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Untuk Amerika Latin ada 4 negara yaitu Equador, Peru, Kolombia dan Brasil yang terkenal dengan hutan amazonnya.

 Karena letaknya tepat di tengah belahan bumi utara dan selatan, maka wilayah yang berada di sepanjang Garis Khatulistiwa punyai keistimewaan yang tidak ternilai harganya. Seperti curah hujan yang tinggi, suhu dan kelembaban rata-rata harian cukup tinggi, terdapat berbagai jenis hewan dan tumbuhan dan sinar matahari yang bersinar sepanjang masa. Semua ini menyebabkan adanya iklim tropis, yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa yang patut disyukuri bersama.

 Tugu Khatulistiwa Pontianak ditemukan tahun 1928. Berdasarkan catatan V. en. W oleh Opzihter Wiese tahun 1941, pada tahun 1928 telah datang suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di Pontianak.

 Kala itu yang dibangun berupa tonggak yang bagian atas diberi tanda panah. Tahun 1930, disempurnakan berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli.

 Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur. (ekorisanto.blogspot.com)

  Read more...
logo_radio_subang-2.jpgiklan_ktp.jpgimage2.gif  
 

Ragam

HUT Ke-9: Cimahi Sayang, Cimahi Malang
Monday, 21 June 2010

Bertepatan dengan tanggal 21 juni 2010, Kota Cimahi sudah 9 tahun menjadi kota otonom. Dengan dukungan semua pihak dan bermodalkan asset yang ada, pelan tapi pasti, Cimahi yang dikenal sebagi kota Hijau ini, terus berpacu, melaju untuk maju dan mandiri.

Berbagi prestasi yang ditorehkan Itoch Tochija didukung oleh SDM yang ada, telah merubah wajah kota Cimahi yang tadinya kumuh, kusam menjadi wajah kota yang berseri, nyaman dan indah.

Perkembangan Kota Cimahi yang pesat dengan pembangunan disana sini seperti Baros Information Teknologye Center (BITC), Gedung Baros, Cyer City Center (B C3), Gedung Pemerintahan Kota Cimahi, Gedung DPRD, pembelian lahan untuk Bandung Cimahi Junction (BCJ), Pembangunan Pasar Atas Baru (PAB) dan lainnya, patut diacungi jempol.

Tapi, sungguh malang dibalik pembangunan yang cukup pesat dan berbagai penghargaan yang diraih tersebut, ternyata masih menyisakan setumpuk permasalahan, bahkan bisa dikatakan laksana “Menara Gading”, sehingga timbul pertanyaan, benarkah perayaan HUT ke-9 Kota Cimahi dan  kemeriahan mengarak piala Adipura bisa dinikmati oleh semua warga cimahi? Atau kemeriahan tersebut hanya bisa dinikmati segelintir elit politik saja?.

Dibalik kemajuan, HUT Cimahi dan Piala Adipura, kalau kita menengok lebih kedalam ternyata tidak seindah apa yang dipropagandakan, lihatlah pembangunan Pasar Modern BCJ yang ditangani PD Jati Mandiri yang masih terkatung-katung dan menyisakan masalah, disamping tanahnya masih sengketa.

Juga Warga Rw 22 Kel. Cibeureum  belum di beri uang kompensasi, sejumlah jalan ruas jalan yang masih rusak, Kantor pemerintahan Kota Cimahi seluas 26.000 hektar sampai kini tidak punya sertifikat, begitu juga Pasar Atas baru terkendala sertifikasi, pembangunan fasilitas PAB masih terkatung-katung  Ditolaknya atas tender PAB oleh Bank Dunia.

Diharapkan kemeriahan HUT Cimahi serta berbagi atribut serta setumpuk penghargaan sejatinya menjadi cerminan kedamaian dan kesejahteraan lahir- batin warga Kota Cimahi. (harry gibrant)  

  Read more...
5 April Kabupaten Subang Genap Berusia 62 Tahun
Friday, 02 April 2010

Asal-usul nama Subang hingga saat ini mempunyai bermacam-macam presepsi sampai saat ini belum ada keterangan resmi tentang asal-muasal penamaan Kota Subang. Dari cerita rakyat berdasarkan histografi tradisional. Subang berasal dari nama seorang wanita, yang termuat dalam Babad Siliwangi yaitu Subanglarang atau Subangkarancang.

Dikuatkan oleh cerita Babad Pajajaran yang mengisahkan bahwa di daerah Karawang ada sebuah pesantren yang dipimpin oleh Syeh Datuk Quro. Wanita tersebut bernama Subanglarang atau Subangkarancang yang merupakan putri dari Ki Jamajan Jati.

Pada waktu itu Subanglarang sedang belajar di pesantren Syeh Datuk Quro, hingga kelak dinikahi oleh Raden Pamanahrasa yang bergelar Prabu Siliwangi sebagai Raja Pajajaran, dan mempunyai dua orang anak yaitu Raden Walangsungsang Raja dan Ratu Rarasantang.

Ada pula versi lain bahwa kata Subang berasal dari nama suatu tempat di daerah Kuningan. Ketika perusahaan P & T Land waktu itu dipimpin oleh PW.Hofland, memerlukan karyawan yang banyak, sehingga harus mendatangkan tenaga kerja dari luar. Diantaranya didatangkan dari daerah Subang Kuningan Penduduk Subang pada waktu itu belum banyak seperti sekarang. Para pendatang tersebut kemudian membuat perkampungan di sekitar pabrik yang disebutnya Babakan atau Kampung Subang, sesuai asal tempat tinggal mereka.

CATATAN PENTING

Dalam perjalanannya, berbagai peristiwa di Subang banyak yang terjadi dan menjadi catatan penting baik skala nasional maupun internasional. Catatan sejarah tersebut diantaranya ialah:

Pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran, wilayah Subang menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia.

Pada saat konflik Mataram dengan VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia . Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat dibawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun.

Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811 - 1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda.

Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, Pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.

Perlawanan kepada penjajahan melalui jalur politik pun dilakukan oleh rakyat Subang, Diantaranya cabang Syarikat Islam (SI) di Pringkasap (Pabuaran) dan Sukamandi (Ciasem) tidak lama setelah deklarasi SI di Bandung. Lalu pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands.

Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang.

Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengemukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat, yaitu menuntut suatu Indonesia berparlemen yang dipilih dari dan oleh rakyat, menghadapi bahaya fasisme, berdirinya “Indonesia Raya”, penerapan Bendera Merah Putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu persatuan Indonesia dan peningkatan pemakaian bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia.

Pada saat Tentara Angkatan Laut Jepang merapat di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942, kemudian berlanjut direbutnya Pangkalan Udara Kalijati oleh Jepang. Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah Pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi (penyerahan) dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang.

Kejadian ini kemudian dimanfaatkan oleh para pejuang melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah untuk membebaskan dari penjajahan. Dalam perlawanannya Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.

Dalam rangka memperjelas perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan, pada 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng berlangsung rapat dibawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang.

Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur. Momentum tanggal 5 April 1948 dijadikan acuan kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977. (Adang Suryana)

  Read more...

Kriteria Pemimpin Islam Masa Depan (Oleh : Drs. H. Wawan Kustiawan)
Saturday, 16 January 2010
              aaaaaaaaaaaaa.jpgIslam memiliki beberapa kriteria untuk pemimpin masa depan yang baik, yakni adil dan berpedoman pada nilai-nilai moral serta agama. Dalam Islam arti kata pemimpin mempunyai banyak sinonim, seperti khalifah (QS Al Baqarah (2) : 30), Ulil Amri (An Nisa (4) : 59), Wali (Al Maidah (5) : 55), Rais (HR Bukhari) dan Amir (HR Bukhari).

Khalifah artinya pengganti, pemimpin, wakil Allah di muka bumi, pengatur dan penguasa yang berwenang mengatur kehidupan dunia. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30, yang Artinya : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada para Malaikat ”Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”.

Dalam sabda Nabi SAW, Al Imam dimaksud sebagai pemimpin/penguasa, yang memiliki kekuasaan dan wewenang mengatur masyarakat. Sebutan lain Ulil Amri adalah pemerintah, panutan, ulama, cendikia.

Pengertian Ulil Amri termaktub dalam Al Qur’an Surat An Nisa (4) Ayat 59, yang artinya ”Wahai Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu”.

Merujuk pada istilah-istilah tersebut, ada beberapa karakteristik pemimpin Islam masa depan yang diharapkan mampu membawa umat pada kemajuan dan kesejahteraan yang diridhoi Allah SWT, yaitu memiliki visionary thinking, strategic management, leadership skill, interpersonal communication, self motivation dan mau bekerja melebihi harapan (beyond the call of duty), self management.

Kriteria tersebut diharapkan mampu dimiliki oleh para pemimpin negeri ini demi kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. ***

 

  Read more...
banner_rokok.gifpenghargaan_perpustakaan_eport.jpgnarkobaaaaaa.jpg
 

Statistik

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini47
mod_vvisit_counterKemarin452
mod_vvisit_counterMinggu ini1743
mod_vvisit_counterBulan ini10147
mod_vvisit_counterSemua69558

Who's Online

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id

Poling

Rubrik yang sering Anda baca?
 
maharani_pelatihan.jpg

 
 
  
bankjabar.jpg