|
||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||
Read more...
Salah satu makna peringatan Hari Jadi
Kabupaten/Kota Purwakarta adalah momentum untuk menggalang dan menumbuhkan rasa
memiliki atau kebersamaan dalam pembangunan.
Peringatan ini merupakan satu bentuk pengilhaman
menuju digjaya Purwakarta. Gagasan serta upaya yang dilakukan pemkab Purwakarta
tidak lain demi meningkatkan kesejateraan masyarakat.
Sumber yang didapat Purwakarta dari penelitian,
sejarah kelahiran Purwakarta setidaknya ditemukan dalam tiga buku karya
sejarawan dan arsiparis bernama Dr. Frederick de Hann tahun 1912, buku karya G
de Seriere tahun 1849 dan Resolutien Van den Gouverneur Generaal and Interim
Van Nederlandsch Indie in Rade, Batavia den 14 den Maart 1835.
Melalui
Kata Purwa berarti permulaan dan Karta bermakna
ramai atau hidup. Purwakarta sendiri dinyatakan resmi sebagai Ibukota Kabupaten
pada tanggal 2 Juli 1831.
Selanjutnya, hari kelahiran Purwakarta kemudian
dituangkan dalam Peraturan Daerah No.2/Tahun 2006, tentang Hari Jadi
Purwakarta. Penetapan dalam bentuk Perda ini menjadi landasan yuridis formal.
Peringatan Hari Jadi Purwakarta yang menjadikan momentum penting dalam
menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki dan meningkatkan kebersamaan dalam
pembangunan.
Karenanya, sejak perda hari jadi Purwakarta
diresmikan menjadi ibukota kabupaten, Pemkab Purwakarta tak pernah absen untuk
memperingati hari besar ini dengan berbagai acara dan kegiatan yang memiliki
makna membangun dan menjalin kebersamaan.
Di hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta tahun ini Ke-41/178,
hal itu kembali ditorehkan Pemkab Purwakarta melalui sejumlah kegiatan, antara
lain dari kegiatan bernuansa agamis hingga perlombaan yang diambil dari
kebiasaan masyarakat setempat.
Beberapa kegiatan atraktif itu, seperti lomba-lomba
yang diprakarsai dari kebudayaan daerah itu sendiri. Seperti diketahui, langkah
kebijakan yang di ambil Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan wakil Bupati
Purwakarta Dudung B Supardi dengan visi dan misi membangun Purwakarta
berkarakter, tanpa disadari atau tidak pada kepemimpinannya saat ini budaya
asli masyarakat terus kembali di gulirkan.
Ini pun seakan, di tangan pemerintahannya yang baru
seumur jagung mempunyai makna ingin mengembalikan citra Purwakarta sebagai
daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tidak melupakan jati dirinya melalui
program salapan (9) lengkah ngawangun nagri rahaja Purwakarta. ***
Dalam beberapa
kesempatan, Kepala Badan Promosi dan Penamaman Modal Jawa Barat sering
mengatakan bahwa Jawa Barat masih prospektif untuk dijadikan lahan investasi
karena banyak bidang usaha dan prpyek-proyek yang menjanjikan dan memiliki
prospek ekonomi yang cukup bagus.
Apa yang dilontarkan
itu tentunya berpijak pada kondisi Jawa Barat yang memiliki peluang untuk
berkembangnya berbagai bidang pekerjaan
dan usaha yang bisa menjadi ajang
investasi strategis serta menguntungkan dilihat dari aspek bisnis. Pada kondisi
ini, memang Jawa Barat hingga kini masih menjadi salah satu wilayah yang
dilirik banyak investor. Beberapa proyek besar seperti renovasi bandara Husen
Sstranegara Bandung dan rencana pembangunan bandara di majalengka, telah banyak
mengundang calon investor dari beberapa negara untuk berinvestasi didalamnya.
Dalam kerangka
pembangunan ekonomi Jawa Barat, kedatangan investor memang sangat diperlukan
karena perananya tidak kecil terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Dalam hal
ini, pakar-pakar ekonomi terutama yang berasal dari Jawa Barat mengemukakan
bahwa masuknya investor ke Jawa Barat merupakan kebutuhan yang strategis untuk
mendorong LPE Jawa Barat. Bisa dikatakan, kalangan investor itu merupakan salah
satu elemen yang inheren dengan pembangunan ekonomi itu sendiri. Oleh karena
kepada kalangan investor ini perlu diberikan ruang yang mamadai yang menyangkut
infrastruktur dan layanan birokrasi.
Dalam soal layanan,
pemerintah propinsi Jawa Barat hingga saat ini berupaya memberikan kemudahan
dan menghindarkan high cost. Salah
satunya adalah dengan dibentuknya seksi layanan investasi di lingkungan Badan
Promosi dan Penanaman Modal (BPPMD) propinsi Jawa Barat. Seksi ini, menurut
sumber di lingkungan BPPMD tidak bermaksud menambah panjang layanan investasi,
tetapi akan lebih memberikan layanan yang akurat, sehingga segala persyaratan
yang harus dipenuhi oleh calon investor bisa dipenuhi selengkap mungkin dalam
waktu yang cepat karena mendapatkan petunjuk dari seksi ini.
Itu disatu pihak.
Dipihak lainpun tentunya diperlukan sikap serius dari kalangan calon investor
itu sendiri. Artinya, calon investor yang datang di Jawa Barat bukan hanya
melihat, menanyakan, dan menginginkan presentasi tentang proyek yang
diminatinya, tetapi kemudian tidak jelas tindak lanjut dari calon investor itu
sendiri. Sebagai contoh, untuk beberapa proyek besar di Jawa Barat banyak calon
investor yang datang dan berjanji dengan bagus untuk menanamkan modalnya.
Tetapi ketika keterangan tentang proyek tersebut sudah dijelaskan secara rinci
dan gamblang, ternyata investor ini tidak datang lagi di Jawa Barat dan
menghilang begitu saja.
Yang diperlukan di Jawa
Barat, tentunya juga di daerah-daerah lain adalah calon investor yang
benar-benar memiliki komitmen untuk mengembangkan usaha dan mengerjakan
proyek-proyek besar. Pertama tentunya akan bisa memberikan kontribusi terhadap
LPE Jawa barat, dan kedua tentunya terdapat aspek bisnis yang menyangkut
prospek keuntungan bagi investor itu sendiri.
Dalam kaitan itu, BPPMD
Jawa Barat tentunya sudah sering memberikan presentasi, baik didalam maupun
diluar negeri tentang proyek-proyek dan bidang usaha yang sangat prospektif
untuk dijadikan ajang investasi. Bahkan setiap tahun presentasi semacam ini
terus dilakukan sebagai upaya promosi prospek ekonomi Jawa Barat. Hasilnya
memang bisa mendatangkan kalangan investor. Tetapi ya itu tadi, ada kalangan
investor yang benar-benar berinvestasi dan ada juga investor yang hanya janji
tetapi berlalu begitu saja.
Tetapi apapun
kondisinya, BPPMD Jawa Barat sebagai lembaga paling strategis didalam
mengembangkan penamaman modal di Jawa Barat tentunya tidak akan bosan untuk
terus mempresentasikan prospek Jawa Barat terutama secara regional maupun
internasional agar investasi di Jawa Barat tiap tahun terus mengalami
peningkatan. Dalam hal ini, BPPMD sudah tentu memiliki pengalaman dan kejelian
didalam melihat mana investor serius dan mana investor yang hanya akan berlalu
begitu saja tanpa memperlihatkan tindakan riil didalam menginvetasikan modalnya
di Jawa Barat.
Pengalaman dan kejelian
itu tentunya akan menjadi pijakan didalam menyeleksi calon-calon investor yang
akan berinvestasi di Jawa Barat. Seleksi ini sangatlah diperlukan agar BPPMD
tidak membuang-buang energy mempresentasikan prospek Jawa Barat kepada kalangan
calon investor yang hanya memberikan angin surga tetapi tidak jelas tindakan
nyatanya.
Tidak bisa dipungkiri,
dari luar negeripun tidak semua calon investor itu bonafid. Pasti ada saja
calon investor luar negeri yang dalam mempresentasikan minatnya terdengar dan
terlihat meyakinkan. Tetapi ketika ditanyakan kesiapannya untuk
meinginvestasikan modalnya, calon investor ini tidak cukup siap untuk
melakukannya.
Dalam kaitan itu,
khusus untuk rencana pembangunan bandara di Majalengka dan rencana renovasi
bandara Husen Sastranegara, Bandung, saat ini telah banyak calon investor dari
beberapa negara yang katanya minat berinvestasi. Tetapi apakah minat itu
benar-benar didukung oleh keseriusan dan persyaratan termasuk persyaratan
finansial mereka ? inilah yang harus dilihat secara jeli agar tidak banyak
calon investor bodong yang kelihatannya berminat tetapi ujung-ujungnya tidak
jelas dan berlalu begitu saja. Yang diperlukan Jawa Barat adalah calon investor
yang mampu berperan secara nyata untuk kepentingan Jawa Barat dan kepentingan
investor itu sendiri. ***
Andai saja para pelopor sumpah pemuda pada
28 Oktober 1928 masih ada, entah bagaimana perasaannya melihat keadaan bangsanya
saat ini. Setelah 80 tahun para pemoeda-pemoedi
Jika dulu
perbedaan suku, agama, wilayah dan sebagainya dijadikan modal dasar untuk
bersatu, kini justru itu menjadi ladang subur perpecahan dan kekacauan di
negeri yang konon menjungjung adat ketimuran ini.
Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia
hasil rumusan pemoeda-pemoedi
Kongres yang digelar organisasi
Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) tersebut beranggotakan pelajar
dari seluruh wilayah Indonesia, dengan dihadiri oleh berbagai wakil organisasi
kepemudaan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond,
Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb, serta dihadiri pula pengamat dari pemuda
tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi
Djien Kwie.
Ketua kongres Pemuda II Soegondo
Djojopoespito dalam sambutannya berharap kongres tersebut dapat memperkuat
semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, dan selanjutnya disampaikan
uraian dari beberapa pembicara.
Moehammad Jamin dalam uraiannya menyampaikan
tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada
Sementara
itu dua pembicara selanjutnya yakni Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro,
sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada
keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik
secara demokratis.
Sedangkan
pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan akan pentingnya nasionalisme dan
demokrasi selain gerakan kepanduan. Dan selanjutnya Ramelan mengemukakan,
gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan
kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang
dibutuhkan dalam perjuangan.
Dalam peristiwa
bersejarah itu pula pada tahun 1928, untuk pertama kalinya di perdengarkan lagu
kebangsaan
Lagu kebangsaan
Indonesia Raya tersebut, sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia
belanda saat itu, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya, dan Lagu kebangsaan Indonesia Raya dipublikasikan
pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan
mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan.
TEKS SUMPAH PEMUDA
KAMI POETRA DAN POETRI
KAMI POETRA DAN POETRI
KAMI
POETRA DAN POETRI
Teks Soempah Pemoeda dibacakan
di Waltervreden oleh :
Soegondo Djojopoespito (PPPI), R.M. Djoko
Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin
(Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja
Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong
Ambon), Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi), Abdul Muthalib Sangadji, Purnama
Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau
Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo,
Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder
Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische
Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr.Pijper, Sjahrial
(Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro,
Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi,
Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo,
Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro
Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo,
Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad
Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin
(Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage
Rudolf Soepratman, Nona Tumbel.
Biodata
Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode
2009-2014 Purwakarta
|
Daerah Pemilihan
Nama
Tempat Tanggal Lahir
Alamat
Jenis Kelamin
Agama
Status Perkawinan
Nama Istri/ Suami
Jumlah Anak
Pekerjaan
Riwayat
Pendidikan
Pengalaman Organisasi
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:: |
Purwakarta 4 (Empat)
YAYAN JALALUDIN
Purwakarta, 10 April 1968
Kp. Sumber Sari Rt. 07/03 Ds. Pawenang
Kec. Bojong Kab. Purwakarta
Laki-laki
Islam
Kawin
SITI SUYANTI S.Pdi
3 (tiga) orang
a. MIN Lulusan Thn. 1983
b. MTsN Lulusan Thn. 1986
c. MAN Lulusan Thn. 1990
a. Ketua Karang Taruna Ds. Pawenang
b.
Wakil Ketua DPC GERINDRA Kab. Purwakarta |
Biodata
Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Gerindra untuk Periode
2009-2014 Purwakarta
|
Daerah
Pemilihan
Nama
Tempat
Tanggal Lahir
Alamat
Jenis
Kelamin
Agama
Status
Perkawinan
Nama
Istri/ Suami
Jumlah
Anak
Pekerjaan
Riwayat
Pendidikan
Pengalaman
Organisasi:
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: |
Purwakarta 2 (Dua)
SRI PUJI UTAMI
Purwakarta, 29 Juli 1971
Ds. Cibening Rt. 12/04 Kec. Bungur Sari Kab.
Purwakarta
Perempuan
Islam
Kawin
DIK DIK SUKARDI
2 (dua) orang
Ibu Rumah Tangga
a. SDN Cibening I
b. SMPN Campaka
c. SMAN II Purwakarta
d. Akademi Akuntansi Borobudur,
a. OSIS
b. Senat MahasiswaPURWAKARTA 5 ( |
Biodata
Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta Terpilih dari Partai Golar untuk Periode
2009-2014 Purwakarta
|
DAERAH PEMILIHAN
Nama
Tempat Tanggal Lahir
Alamat
Jenis Kelamin
Agama
Status Perkawinan
Nama Istri/ Suami
Jumlah Anak
Pekerjaan
Riwayat Pendidikan
Pengalaman Organisasi
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: |
Purwakarta 1 (satu)
H. ENGKOS KOSASIH
Purwakarta, 21 Januari
1939
Jl. Ipikgandamanah No.156
Rt.02/05 Kel. Tegalmunjul
Kec. Purwakarta Kab.
Purwakarta
Laki-laki
Islam
Kawin
Hj. ENI ROHAYANI
4 ( empat )
Pensiunan PNS Th. 1995
a. SR Tahun 1954 di
Purwakarta
b. SLTP Tahun 1965 di
Purwakarta
c. SLTA Tahun 1968 di
Purwakarta
a. Th. 1970 s/d sekarang
Partai Golkar
b. P.4. Type B Th. 1980
c. Jurkam Golkar Th. 1980
d. AMPI Th. 1987-1992
e. AMS Th. 1971 s/d
sekarang
f. Kader Politik Th.1984
di Bandung |
|
||
Tatar Sunda termasuk kawasan relatif banyak
meninggalkan tilas-tilas sejarah. Namun demikian, terbilang sedikit diantaranya
yang berhasil diungkap.
Menurut penelusuran
sejarah, di tanah Jawa bagian barat (Pasundan), pengaruh Hindu sesungguhnya
lebih dulu merebak. Yaitu dengan berdirinya kerajaan Tarumanagara pada abad
ke-4. Lalu kemudian muncul kerajaan-kerajaan lainnya. Ironisnya, di daerah ini
malah nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya banyak terdapat di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Satu-satunya candi yang
ditemukan di Jawa Barat adalah Candi Cangkuang, kendati hingga kini masih
terjadi silang pendapat di kalangan pakar. Candi ini ditemukan di kampung Pulo,
desa Cangkuang, kecamatan Leles, Garut, Jabar. Kemudian Candi Bojongmenje, yang
ditemukan tahun 2003 dan kini masih dalam penelitian intensif Balai Arkeolog
Bandung.
Berita-berita tentang kehidupan
kerajaan-kerajaan pada masa silam, terungkap lewat penemuan para ahli. Beberapa
prasasti, misalnya, berhasil ditemukan dan diungkap kandungan isinya. Misalnya
prasasti Batu Tulis dan Kebon Kopi di Bogor. Juga prasasti Kawali dan Galuh di
Ciamis, lalu prasasti Kebantenan I - V di Banten, prasasti Rumantak di
Gegerhanjuang Tasikmalaya, prasasti sanghyang Tapak I - II di Sukabumi dan
lainnya.
Sumber-sumber berbentuk
naskah pun berhasil di temukan di tatar Sunda ini. Antara lain Carita
Parahyangan, Carita Bujangga Manik, Carita Waruga Rasa, Babad Galuh, Babad
Pakuan, Siskandang Karesian, Amanat dari Galunggung, dan lainnya. Semua naskah
itu mengandung isi yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Sunda
di masa lalu.
Tanah Dewa
Meski jejak-jejak kerajaan
di tatar Sunda berhasil ditelusuri lewat prasasti dan naskah-naskah tua, namun
bentuk fisik semacam bangunan atau candi, jarang ditemukan. Inilah yang
membedakan eksistensi kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Timur dengan
daerah Jawa Barat. Candi memang identik dengan sarana ibadah dan pemujaan kala
itu. Ia merupakan cermin religi dan kesakralan.
Bagaimana dengan Tatar
Sunda? Di kalangan masyarakat Sunda, muncul sebutan Tanah Dewa Sasana. Yakni
suatu bukti bahwa masyarakat Sunda kala itu, memerlukan suatu tempat yang
sakral dan dikeramatkan, sebagai wujud kehidupan religiusnya. Mengapa mereka
tak membangun candi? Ini yang menarik. Namun konon, Tanah Dewa Sasana punya
nilai setara dengan eksistensi candi, yang kerap dinamakan kabuyutan atau
kawikuan. Sebagai contoh adalah Kabuyutan Ciburuy di desa Pamalayan,
Bayongbong, Garut.
Tanah Dewa Sasana adalah
sebuah tempat yang disucikan para petinggi kerajaan yang mulai meninggalkan
aktivitas duniawi. Jangan heran bila kabuyutan selalu jauh dari keramaian.
Sebab di sinilah, mantan raja dan petinggi kerajaan menenangkan diri. Tidak
sedikit pula yang menghabiskan sisa usianya. Tidak jarang, petinggi kerajaan
yang masih aktif, membahas masalah pelik ketatanegaraan dan urusan rakyat di
sini.
Kabuyutan Ciburuy
Nana Suryana, kuncen
Kabuyutan Ciburuy, mengatakan bila di kabuyutan yang di peliharanya, terdapat
bermacam-macam benda pusaka peninggalan tokoh-tokoh zaman kerajaan Sunda. Ini
merupakan bukti bila kabuyutan seluas 7 Ha ini pernah didiami tokoh-tokoh
penting. “Banyak peninggalan karuhun yang disimpan di dua bangunan,” tutur
Nana.
Kabuyuran Ciburuy terdiri
dari tiga bangunan dan sebuah saung lesung (tempat menumbuk padi). Bangunan
pertama disebut patemon yang sebagai tempat berkumpul (rapat) dan menerima
tamu. Kemudian bumi alit (padalaman), tempat beristirahat raja sekaligus tempat
menyimpan perangkat kerajaan seperti peta, naskah-naskah dan dokumen kerajaan.
Dan ketiga lumbung padi tempat persediaan makanan.
Secara fisik, ketiga
bangunan ini bentuknya unik, beratap ijuk dan mirip bangunan di daerah
Minangkabau. Bangunan disangga tiang-tiang dari kayu dan berdinding bilik. Di
dalam dua bangunan itu terdapat keris, sabuk, rantai emas, golok,
(ekorisanto.blogspot.com)
Tugu Khatulistiwa Pontianak terletak persis di sisi
jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Tiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23
September pukul 12.00 WIB, bayangan benda di sekitar tugu ini akan menghilang.
Saat itulah diperingati sebagai hari kulminasi matahari. Karena saat itu, di
tempat ini matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Namun, ada hal
lain yang kerap menjadi misteri. Yaitu soal penunggu gaib tugu yang dibangun
tahun 1928 ini.
Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya,
cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan
sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa,
penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk
unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis
Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa
propinsi di
Kampung Naga adalah
perkampungan masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat karuhun
(leluhur). Kehidupan masyarakatnya bersahaja dan penuh kearifan tradisi.
Keunikan Kampung Naga dengan segala aspeknya, merupakan sebuah perbedaan
mencolok dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga.
Kampung Naga secara
administratif masuk dalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten
Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan
raya yang menghubungkan
Di dalam hutan inilah
terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah Selatan dibatasi
oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh sungai
Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Kampung
ini merupakan miniatur masyarakat sunda tempo dulu. Perkembangan teknologi yang
demikian ganas, tak dapat menembus kampung ini.
Memasuki wilayah Kampung
Naga, orang harus melewati sekitar 360 anak tangga. Jumlah 360 itu memiliki
cerita yang unik. Ternyata, anak tangga yang menukik turun menuju lembah
Kampung Naga ini tak pernah sama hitungannya. Setiap orang yang mencoba menghitungnya,
pasti selalu berbeda.
Rumah Panggung
Kampung Naga diapit oleh
tebing dan sungai yang mengalir disepanjang kawasan tersebut. Sungai inipun
mereka manfaatkan sebagai kolam ikan. Setiap 3 bulan sekali mereka menanam dan
menggambil ikan dari kubangan (leuwi) yang dibuat khusus oleh masyarakat
setempat.
Ornamen bangunan di Kampung
Naga sangat langka kita temukan pada masyarakat sunda dewasa ini. Rumah itu
berbentuk panggung dan posisinya seragam antara rumah satu dengan yang lain.
Bahan
Menurut Punduh Kampung
Naga, Abah Maun, alasan mendirikan rumah panggung adalah untuk menghindari
kecemburuan sosial masyarakat. Lagi pula jika mendirikan rumah permanen akan
mengeluarkan biaya yang cukup besar. “Untuk jumlahnya masyarakat Kampung Naga
tidak akan yang sudah ada, karena keterbatasan lahan serta telah menjadi hukum
adat,” katanya.
Sedang alasan mengapa semua
bangunan menghadap arah timur, Abah Maun menjelaskan bahwa selain menyesuaikan
dengan keadaan lahan dan menjaga kebersihan, juga agar sinar matahari bisa
langsung sampai ke dalam rumah-rumah tanpa terhalangi oleh bangunan lain. Untuk
membuat sebuah rumah atau memperbaikinya, hampir semua masyarakat ikut
bergotong royong dalam pengerjaannya, sehingga pada proses pengerjaanya tidak
menggunakan kuli bangunan.
Sebelum memasuki Kampung
Naga, pengunjung sangat dianjurkan untuk meminta ijin terlebih dahulu pada
sesepuh kampung. Selain meminta persetujuannya, diharap masyarakat kampung naga
tidak merasa terganggu oleh kedatangan pengunjung. Seorang pemandu wisata
Kampung Naga juga mengingatkan bagi pengunjung yang ingin memotret agar meminta
ijin dulu, sebab hal itu tidak dilakukan, foto-fotonya tidak akan jadi atau
terbakar.
Di sebelah utara Kampung
Naga, berderet kolam-kolam ikan yang sengaja dibuat warga. Memang telah
menggunakan tembok untuk pinggirnya, namun hampir disetiap kolam memiliki
jamban (pacilingan) yang masih terbuat dari anyamam bambu. Jamban tersebut
dipergunakan warga sebagai tempat MCK. Meski sederhana namun masyarakat naga
telah memandang kesehatan sebagi suatu kebutuhan utama.
Hasil sensus penduduk tahun
2004 masyarakat Kampung Naga kurang lebih 326 jiwa, yang terdiri dari 106 kepala
keluarga. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian petani, disamping ada yang
berdagang dan merantau ke luar kampung.
Kampung Naga, menurut
kepercayaan masyarakatnya, adalah keturunan kerajaan Galunggung masa Islam.
Mereka keturunan Sembah Dalem Singaparana, anak Prabu Rajadipuntang, Raja
Galunggung VII. Prabu Rajadipuntang adalah Raja Galunggung terakhir yang
menyingkir ke arah daerah Linggawangi. Menurut catatan sejarah, Kerajaan
Galunggung runtuh di tangan Prabu Rajadipuntang pada 1520-an karena diserang
oleh Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Surawisesa (535-1543).
Saat itu ada perebutan
kuasa antara kerajaan Islam dan asli. Kerajaan Galunggung telah menjadi pemeluk
agama Islam dan berarti tidak lagi menjadikan Pajajaran sebagai pusat.
Menghadapi serangan itu, Prabu Rajadipuntang menyelamatkan harta pusaka dan
menyerahkannya pada anak bungsunya yang bernama Singaparana. Untuk melaksanakan
tugas itu Singaparana dibekali ilmu kadigdayaan yang membuat dirinya bisa
nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian).
Hutan Larangan
Kampung Naga diapit dua
bukit dan di sisi Sungai Ciwulan. Di seberang sungai itu terdapat bukit kecil
yang dipenuhi pohon-pohon yang tampaknya berumur sangat tua. Itulah hutan yang
oleh masyarakat Kampung Naga disebut dengan Leuweung Larangan atau hutan larangan.
Sementara di sebelah barat atau di belakang perkampungan terdapat Leuweung
Keramat.
Leuweung Larangan, yang
terletak di sebelah timur pemukiman, disebut sebagai hutan tempat para dedemit.
Secara kosmologis,
masyarakat Kampung Naga memilah dunia dalam tiga wilayah, yaitu Leuweung
Keramat (tempat nenek moyang mereka dimakamkan) yang ada di sebelah barat. Lalu
wilayah perkampungan tempat mereka hidup dan bercocok tanam yang terletak di
tengah-tengah. Dan Leuweung Larangan tempat yang dihuni para dedemit yang
terdapat di sebelah timur.
Posisi perkampungan tidak
secara langsung berhubungan dengan kedua hutan tersebut. Leuweung Larangan
dibatasi oleh sebuah Sungai Ciwulan, sedangkan Leuweung Keramat dibatasi oleh
tempat masjid, ruang pertemuan dan Bumi Ageung (tempat penyimpanan harta
pusaka). Leuweung Larangan di arah timur dan leweung Keramat di arah barat
merupakan sumber kekuatan sakral kehidupan keseharian mereka.
Sedangkan Leuweung Larangan
merupakan wilayah kacau, tempat semua dedemit dan roh jahat berada. Leweung
Karamat berada di sebelah barat adalah sumber kebaikan; masjid dan harta pusaka
menjadi penghubung untuk mengalirkan kesakralan ke arah barat. Hutan Keramat
dan Bumi Ageung yang berada di bagian barat masjid, di posisi kiblat, secara
simbolis menunjukkan negosiasi ajaran Islam dan tradisi lokal.
Menghadap ke kiblat berarti
membayangkan penghadapan pada Kabah yang harus melalui penghadapan terhadap
harta pusaka dan hutan keramat. Keinginan mendapatkan kesakralan Kabah
didahului oleh penghubungan diri terhadap nenek moyang yang dikuburkan di
Leuweung Keramat.
Kosmologi ruang seperti ini
barangkali yang menjadi dasar penolakan mereka terhadap warganya yang telah
berhaji. Berhaji berarti berziarah secara langsung ke makam Orang Suci. Yang
berhaji telah secara langsung berhubungan karena itu tak lagi membutuhkan
kiblat yang dibungkus Bumi Ageung dan Leuweung Keramat.
Bumi Ageung
Melihat kompisisi dan
kedudukan Bumi Ageung tersebut memperlihatkan garis kosmologis yang tegas,
yaitu bahwa seluruh rumah berpusat pada Bumi Ageung dan Bumi Ageung berhubungan
atau berpusat pada Leuweung Keramat, tempat nenek moyang atau makam para
Karuhun. Pandangan kosmologis yang menempatkan manusia (bumi tempat manusia
berada) dalam impitan antara yang sakral (Leuweung Keramat) dan yang kacau
(Leuweung Larangan), telah memosisikan manusia di antara dua keadaan tersebut.
Hal tersebut tampak pada
pandangan mereka tentang kosmologi waktu, yang secara umum dibagi dua, yaitu
waktu nahas (tidak baik) dan waktu hade (baik). Keadaan kehidupan (dunia)
manusia yang terimpit antara Leuweung Larangan (kebaikan, Yang Sakral) dan
Leuweung Keramat (ketidakbaikan) tersebut mengharuskan manusia untuk teliti dan
hati-hati dalam menjalani kehidupan karena kedua dunia yang mengimpit tersebut
telah pula memengaruhi waktu kehidupan manusia, waktu baik dan waktu tidak
baik.
Terhadap waktu mereka
membuat tiga patokan aktivitas, yaitu: Bismillah, berhubungan dengan awal dan
asal (Yang Sakral), bernilai satu; Alhamdulillah, berhubungan dengan harapan
hidup manusia yang baik (Dunia Tengah), dengan nilai dua; dan, Astaghfirullah,
berhubungan dengan dunia yang tidak baik, bernilai tiga.
Patokan ini menjadi dasar
aktivitas mereka dalam mencari keselamatan, kemakmuran, dan penghindaran dari
malapetaka. Misalnya, bagi orang yang hendak berobat disarankan untuk mulai
berangkat pada hari yang bernaktu satu, sedangkan terhadap ruang (alam) mereka
memiliki patokan nyangcang munding dina batu ku tambang sajeungkal, seug mun
eling moal luput hami nyangcang kuda sabatekan begung; gaduh satapak munding
seug mun eling moal luput mahi. (ekorisanto.blogspot.com)
|
||
Islam memiliki beberapa
kriteria untuk pemimpin masa depan yang baik, yakni adil dan berpedoman pada
nilai-nilai moral serta agama. Dalam Islam arti kata pemimpin mempunyai banyak
sinonim, seperti khalifah (QS Al Baqarah (2) : 30), Ulil Amri (An Nisa (4) : 59),
Wali (Al Maidah (5) : 55), Rais (HR Bukhari) dan Amir (HR Bukhari).
Khalifah artinya pengganti,
pemimpin, wakil Allah di muka bumi, pengatur dan penguasa yang berwenang mengatur
kehidupan dunia. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30, yang
Artinya : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada para Malaikat ”Aku hendak
menjadikan khalifah di muka bumi”.
Dalam sabda Nabi SAW, Al
Imam dimaksud sebagai pemimpin/penguasa, yang memiliki kekuasaan dan wewenang
mengatur masyarakat. Sebutan lain Ulil Amri adalah pemerintah, panutan, ulama,
cendikia.
Pengertian Ulil Amri
termaktub dalam Al Qur’an Surat An Nisa (4) Ayat 59, yang artinya ”Wahai
Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil
Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu”.
Merujuk pada istilah-istilah tersebut, ada beberapa karakteristik pemimpin Islam masa depan yang diharapkan mampu membawa umat pada kemajuan dan kesejahteraan yang diridhoi Allah SWT, yaitu memiliki visionary thinking, strategic management, leadership skill, interpersonal communication, self motivation dan mau bekerja melebihi harapan (beyond the call of duty), self management.
Kriteria tersebut diharapkan
mampu dimiliki oleh para pemimpin negeri ini demi kemajuan
Read more...
Upacara Nyepuh
diselenggarakan pada pertengahan bulan Sya’ban atau Rewah. Salah satu makna
Nyepuh antara lain sebagai ritual penjemput Ramadan. Yakni bulan yang disucikan
umat Islam, dimana saat itu kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa, dan
menahan segala godaan.
Tradisi Nyepuh merupakan
upacara lanjutan dari upacara Ngawit yang dilaksanakan sebelumnya di Ciomas
pada bulan Shafar. Upacara Nyepuh merupakan upacara tradisional yang memiliki
arti mempertua, pendalaman atau penyempurnaan dan berarti juga nyipuh. Artinya
adalah menjaga agar nilai-nilai yang baik yang telah ditanamkan para pendahulu
tetap konsisten, sejalan dengan awitna (awalnya) sebagaimana maksud upacara
Ngawit.
Seperti diungkap sesepuh
Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede, upacara Nyepuh dapat dimaknai ke dalam
tiga hal. Pertama, nyipuhkeun nu to ngawitan. Ini bermakna bahwa upacara Nyipuh
merupakan pengawal jalan kebaikan yang telah dimulai atau diawali (ngawit) oleh
para leluhur dan penyebar Islam di masa lalu. Tradisi yang sudah puluhan tahun
digelar di Ciomas ini, lebih jauh adalah sebagai penghormatan terhadap amanah
Kiai Haji Penghulu Gusti, karuhun masyarakat Ciomas.Di upacara inilah, anak
muda belajar kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Terutama agar lebih bijak
dalam menghadapi kehidupan.
Kedua, nyepuhkeun
panyipuhan urang. Ini berarti mengukur perjalanan kehidupan timbale balik
selama ini, yang dikhususkan kepada diri kondisi diri anak terhadap orang tua,
kondisi generasi penerus terhadap generasi tua, kondisi kepemimpinan ditingkat
bawah dan atas (kepenghuluan). Sehingga diharapkan terjadi dialog timbal balik
tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mudah-mudahan memperoleh jalan
keluarnya. “Ritual ini tercermin dalam prosesi sambung rasa yang dilakukan di
makam Eyang Penghulu Gusti,” ujar Ki H Dede.
Ketiga, nyepuhkeun mapag
Ramadan. Upacara Nyepuh juga digelar sebagai persiapan diri menghadapi bulan
Ramadan. Sebab di bulan yang penuh barokah ini, umat Islam akan melaksanakan
ibadah puasa. Sehingga sebelum menjalankan ibadah tersebut, seseorang harus
bersih lahir dan batin. Selain itu, bila puasanya berhasil, maka ia akan
memperoleh kemenangan pada hari raya Idul Fitri sebagai ganjaran dan kebaikan
pada bulan-bulan selanjutnya, serta pengampunan dosa yang dilakukan sebelumnya.
Hakekat Nyepuh
Upacara Nyepuh adalah
upacara yang diharap menyadarkan bahwa umat setelah menyatakan diri sebagai
muslim, harus terus menerus meningkatkan, memperbaiki, menyempurnakan perilaku
hidupnya sejalan dengan tuntutan agama Islam. Oleh karena itu, pengertian
Nyepuh juga berarti Nyipuh, yang dalam pelaksanaannya harus senantiasa disertai
dengan peningkatan komunikasi dengan Allah SWT, diantaranya melalui zikir, doa,
shalawat, minta pengampunan dan beramal sholeh.
Dalam kesehariannya adalah
tertib dan taat melaksanakan sholat, zakat dan puasa. Semua itu dalam rangka
peningkatan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan Islam di manapun. Meski yang
dilaksanakan adalah sesuatu yang kecil dan sederhana, namun upacara Nyepuh
tetap mengikuti hakekatnya bahwa tidak akan ada yang besar apabila tidak
dimulai dari yang kecil.
Tahapan upacara Nyepuh
antara lain bebersih (thaharoh), pupujian, tawasulan, sambung rasa
(silaturahmi), ngaregepkeun kyai (mendekatkan kiai dengan umat) dan lain-lain.
Dalam kegiatan kebersamaan, diwujudkan dengan makan bersama atau ruing
mungpulung menyantap tumpeng yang telah diolah secara cermat, baik
bahan-bahannya yang halal, cara pengolahannya dengan ikhlas, pengolahannya
dipimpin tetua yang sudah menopause (tamat haid), serta senantiasa dalam doa
dimulai bismillah dan diakhiri alhamdulillah.
Tiga buah tumpeng yang
disajikan, merupakan perlambang apa yang sudah dingawitan (dimulai) yakni Iman,
Islam dan Ihsan, harus terpelihara dengan baik. Dalam pada itu, ranginang yang
merupakan sajian bersama tumpeng mengandung arti bahwa mudah-mudahan melalui
upacara Nyepuh bisa menjadi ragi bagi diri manusia, kehidupan dan penghidupan
manusia dan terhadap siar agama Islam.
“Upacara Nyepuh secara
keseluruhan adalah untuk mengajak agar umat Islam menjadi umat yang baik, yang
senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya, serta amal ibadahnya sesuai dengan
Alquran dan Alhadist,” tutur Ki H Dede.
Sambung Rasa
Puncak Upacara Nyepuh
berlangsung di dalam hutan Keramat. Untuk mencapai hutan ini, warga yang
seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri, harus berjalan
sejauh tiga kilometer. Lantunan shalawat dan salam terhadap Kanjeng Muhammad
SAW mengalun sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang
warga diutus untuk mengambil air wudlu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal
pemakaman sekaligus sebagai simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang
melekat di tubuh.
Air suci dari sumur emas
pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk
mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum
atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan. Diiringi
lantunan salawat dan doa-doa, barisan masyarakat itu kemudian memasuki lokasi
makam Eyang Penghulu Gusti dan keluarganya.
Di depan makam-makam yang
dianggap suci ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat
Ciomas, pertemuan yang disebut sambugn rasa di depan makam karuhun ini amat
penting. Di sinilah saatnya perwakilan warga bertemu dengan pejabat pemerintah
dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya juga terjadi
di depan makam Eyang Penghulu Gusti ini. (ekorisanto.blogspot.com)
Tradisi Nyepuh sesungguhnya merupakan puncak dari
rangkaian kegiatan ngamumule (melestarikan) adat karuhun (leluhur). Dan upacara
Nyepuh sendiri merupakan manifestasi kearifan lokal yang tidak saja harus
dilestarikan, tapi juga diangkat dalam lingkup berbangsa dan bernegara.
Ciomas adalah nama desa di kaki Gunung Syawal,
Ciamis. Di desa ini tergambar kehidupan khas masyarakat Tatar Sunda. Dan
seperti desa agraris lainnya, penduduk Desa Ciomas juga menggantungkan hidupnya
kepada alam. Ketaatan dan kearifan terhadap alam inilah yang kemudian membuat
Ciomas menjadi daerah harmonis dan damai.
Kearifan warga Ciomas terhadap alam tak lepas dari
keberadaan hutan yang berada persis di tengah-tengah desa. Hutan seluas 35
hektare ini disebut hutan Sukarame dan dianggap keramat oleh warga.
Aturan-aturan tidak tertulis dalam adat masyarakat, membuat hutan ini tetap
lestari. Kepatuhan terhadap aturan inilah yang membuat hutan keramat ini masih
lestari. Bahkan pemerintah sendiri pernah menganugerahi penghargaan Kalpataru
bagi masyarakat Ciomas karena kepeduliannya dalam melestarikan hutan.
Kepercayaan warga terhadap hutan keramat terkait
dengan keberadaan makam Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti, yang terletak di tengah
hutan Sukarame. Di sekitar makam ini pulalah upacara Nyepuh setiap tahun
digelar. Menurut sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede Sadeli
Suryabinangun, Eyang Penghulu Gusti merupakan penyebar agama Islam di Ciomas.
Penghulu Gusti pulalah yang meminta warga setempat untuk selalu memperhatikan
hutan dan melestarikannya.
Masyarakat di
Mulung
Pangpung
Tradisi Nyepuh sendiri merupakan upacara puncak
dari rangkaian tradisi lain yang berlangsung sehari sebelumnya. Antara lain
tradisi mulung pangpung atau pengambilan kayu bakar dan nalekan (menanyai). Dua
acara ini merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk
melengkapi upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng ini
dilakukan menggunakan kebersamaan atau gotong royong.
Ritual mulung pangpung dan nalekan ini pun sangat
sarat makna. Misalnya pada prosesi mulung pangpung, pengambilan kayunya harus
dari hutan. Itupun tidak boleh sembarangan. Pangpung (kayu lempung) yang
diambil harus kayu yang sudah jatuh dari pohonnya. “Jadi tidak boleh kayu yang
masih nempel, apalagi yang masih tumbuh. Di situlah nilai pelestarian lingkungan
yang diajarkan leluhur tetap dijalankan,” tutur Ki H Dede Sadeli.
Selain itu, proses mulung pangpung harus didampingi
kuncen hutan Sukarame, yakni Ibu Siti Mariyam. Nah, juru kuncilah yang kemudian
membuka hutan agar terbuka bagi para pencari kayu yang dilakoni para pemuda
desa. Pengambilan kayu ini pun harus setelah mendapatkan izin lebih dahulu dari
penguasa hutan. Maka Diiringi lantunan ayat suci Alquran dan sholawat nabi,
mereka berdoa di sekitar makam. Tujuannya agar kayu-kayu yang nantinya digunakan
untuk memasak dapat membawa keberkahan.
Bila menengok kenyataan saat ini, kita bisa
menyaksikan hutan-hutan di seantero nusantara rusak berat karena tebang dan
dijarah. Hal itu, menurut Ki H Dede, karena simbolisasi mulung pangpung ini
tidak diamalkan dalam kehidupan. Di Ciomas, 35 ha hutan Sukarena hingga kini
masih lestari karena kearifan masyarakatnya. Sehingga jangan heran pemerintah
pernah memberi penghargaan Kalpataru kepada masyarakat Ciomas.
Nah, bila keperluan kayu bakar dirasa telah
mencukupi, para pemuda desa yang mendapat mengambil kayu harus menunjukkan
kayu-kayu tersebut pada tetua desa. Sebelum dibawa ke kampung, tetua diwajibkan
memeriksa kayu-kayu itu. Bila ada rayap atau sudah rapuh, kayu itu tak boleh
dibawa pulang dan harus dikembalikan lagi ke dalam hutan.
Ritual
Nalekan
Setelah bahan-bahan untuk memasak tersedia. Tibalah
saatnya ritual nalekan dilakukan. Nalekan adalah ritual menanyai tentang segala
hal berkait pembuatan nasi tumpeng, mulai dari bahan-bahan untuk memasak,
hingga prosesnya. Sesuai aturan adat, bahan-bahan membuat tumpeng harus berasal
dari kebaikan dan harus halal. Bila ada yang diperoleh dari jalan tidak halal,
maka harus disingkirkan. Selain itu, yang memasak tiga tumpeng ini pun harus
dilakukan oleh 17 wanita yang sudah menopause.
Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun
tak lepas dari pengawasan para tetua. Maklum, sejumlah persyaratan harus
dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Dan perlu diperhatikan, air
untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.
Makna pemeriksaan bahan-bahan makanan sebenarnya
sesuai dengan pesan bulan suci Ramadan yang akan segera datang. Di Bulan Suci
inilah, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala
tingkah lakunya dari perbuatan kotor. Itu pulalah yang diharapkan dari Upacara
Nyepuh. Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan
diri untuk menjadi manusia sempurna yang fitri.
Di luar dapur, suasana menjelang upacara Nyepuh
begitu kentara. Sejak siang hari hingga malam hari, suasana desa begitu meriah.
|
||






![]() | Hari ini | 9 |
![]() | Kemarin | 122 |
![]() | Minggu ini | 545 |
![]() | Bulan ini | 1475 |
![]() | Semua | 31104 |
|
||
|
||











