Bekasi
***
Aset Pemerintah (Inventaris) untuk operasional Desa
berupa Mobil Operasional, yang telah diberikan Kepada 182 desa di Kabupaten
Bekasi, ternyata banyak yang tidak dirawat oleh para kepala Desa.
Modusnya adalah dengan menguliti semua atribut yang
menempel di pintu mobil, yang bertuliskan “Mobil Operasional Kepala Desa, Desa penerima,
Kecamatan penerima, Kabupaten bekasi“.
Baru beberapa hari menerima mobil, atribut tersebut
telah dikuli...
Bandung ***
Meskipun struktur Fraksi PDI Perjuangan Jawa
Barat yang dipimpin Agus Weliyanto, SH., belum sampai satu tahun, namun Fraksi
PDI-P DPRD Jabar telah melakukan rolling susunan fraksi yang baru.
Kini sudah sejak sepekan, Sekretaris DPD PDI
Perjuangan Jawa Barat Ir. Herry Mei Oloan, memimpin Fraksi PDI Perjuangan Jawa
Barat, menggantikan posisi Agus Weliyanto, SH.
Dikatakan Herry yang berangkat dari Dapil Kota
Bandung dan Cimahi ini, r...
Cimahi
***
Pengindap penyakit HIV/AIDS di Kota Cimahi,
ternyata masih tinggi. Dari data yang terungkap di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Cibabat, di bulan Januari 2010 tercatat sekitar 115 jiwa penduduk Cimahi
terjangkit HIV /AIDS.
Wilayah yang tertinggi adalah Kecamatan
Cimahi Utara 41%, Kecamatan Cimahi Tengah 26% dan Kecamatan Cimahi Selatan 12 %
serta 21% lagi belum terdeteksi. Salah satu faktor tingginya pengidap HIV/AIDS
tersebut ternyata adalah tidak me...
Bandung ***
Kisruh masalah tenaga ahli di Pemerintahan
Provinsi Jabar dibawah Pimpinan Ahmad Heryawan, sebenarnya bukan hanya
permasalahan Peraturan dan perundangan-undangan, tetapi kategori dan kapasitas
dari tenaga ahli tersebut.
“Yang jadi masalah adalah kapasitas dari
tenaga ahli tersebut merupakan orang-orang dekat “beliau”, bukan untuk
kepentingan daerah tapi untuk melindungi dan pemeliharaan kekuasaan”, demikian
diungkapkan Humar ...
Kota Bandung merupakan
sebuah kota yang memiliki sejarah panjang. Dahulunya merupakan sebuah danau
purba yang dikelilingi oleh gunung dan terletak di ketinggian ±768 m
di atas permukaan laut.
Bandung yang mempunyai posisi strategis karena
secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, dan merupakan ibu kota Jawa
Barat serta menjadi kota penyangga Ibu kota Negara, dibangun dengan rentang
waktu yang sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.
Kabupaten Bandung merupakan
bagaian sejarah terbentuknya kota Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan
abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun yang
memerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 1681.
Sementara kota Bandung tidak
diketahui secara pasti berapa lama dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun
bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan
pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh Bupati R. A. Wiranatakusumah II yang
disebut sebagai pendiri (the founding father) kota Bandung.
Kota Bandung sendiri diresmikan
sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25
September 1810, yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya kota Bandung.
Pada masa revolusi kemerdekaan, Kota
Bandung pun menjadi pusat perjuangan mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan.
Di Kota ini juga pernah berlangsung berbagai kegiatan, baik kegiatan bertaraf
nasional maupun internasional, antara lain Konferensi Asia-Afrika tahun 1955
dan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) tahun 1965.
Secara budaya, akulturasi
antar budaya Sunda, yang mengakari budaya kota Bandung, dengan berbagai budaya
yang masuk ke kota Bandung melalui warga pendatang dan melalui berbagai ragam
teknologi informasi berlangsung dengan cepat, menghasilkan sebuah produk budaya
kontemporer kota Bandung yang khas.
Dan dalam
perjalanan sejarahnya yang panjang itu, Kota Bandung selain sebagai pusat
pemerintahan daerah Jawa Barat, juga dikenal sebagai kota jasa yang bermartabat, disamping sebagai pusat
Pendidikan, pusat kebudayaan, dan pusat pariwisata.
Diusianya yang kini
memasuki ke-199 dan hamper genap 2 abad, kota Bandung sekarang jauh lebih
membanggakan. Ini berkat tangan dingin dan kepiawaian para walikotanya.
Kini hampir semua penjuru
kota yang memiliki luas 16.729, 5 hektar itu berkembang menjadi kota modern.
Status kota jasa dan wisata belanja yang disandangnya benar-benar sangat hidup.
Di setiap sudut terdapat pusat-pusat perbelanjaan baik tradisional maupun
modern.
Di era pemerintahan
walikota sekarang (H. Dada Rosada) dengan 7 program prioritasnya yakni
PENDIDIKAN, KESEHATAN, KEMAKMURAN, LINGKUNGAN, SENI BUDAYA, OLAHRAGA dan AGAMA,
kota Bandung dari tahun ke tahun tak henti-henti menata wajahnya.
Alhasil, reputasi
kota berpenduduk hampir 4 juta jiwa itu pun semakin mempesona. Hasil penataan
menjadikan kota Bandung bertambah apik sesuai perkembangannya. Yakni menuju
kota metropolitan yang tetap mempertahankan karakteristik sebagai kota sejarah
yang melestarikan citra estetik, modern, aman, nyaman dan asri. (Teu****)
Salah satu makna peringatan Hari Jadi
Kabupaten/Kota Purwakarta adalah momentum untuk menggalang dan menumbuhkan rasa
memiliki atau kebersamaan dalam pembangunan.
Peringatan ini merupakan satu bentuk pengilhaman
menuju digjaya Purwakarta. Gagasan serta upaya yang dilakukan pemkab Purwakarta
tidak lain demi meningkatkan kesejateraan masyarakat.
Sumber yang didapat Purwakarta dari penelitian,
sejarah kelahiran Purwakarta setidaknya ditemukan dalam tiga buku karya
sejarawan dan arsiparis bernama Dr. Frederick de Hann tahun 1912, buku karya G
de Seriere tahun 1849 dan Resolutien Van den Gouverneur Generaal and Interim
Van Nederlandsch Indie in Rade, Batavia den 14 den Maart 1835.
Melalui surat
keputusan Van den Krawang G de Seriere, Sindangkasih, 20 Juli 1831 No. 2, assisten
resident Krawang No. 40, disebutkan keberadaan Purwakarta bermula dari
munculnya keinginan kepala pribumi yang mengusulkan perubahan nama ibukota
sekarang ini menjadi Purwakarta.
Kata Purwa berarti permulaan dan Karta bermakna
ramai atau hidup. Purwakarta sendiri dinyatakan resmi sebagai Ibukota Kabupaten
pada tanggal 2 Juli 1831.
Selanjutnya, hari kelahiran Purwakarta kemudian
dituangkan dalam Peraturan Daerah No.2/Tahun 2006, tentang Hari Jadi
Purwakarta. Penetapan dalam bentuk Perda ini menjadi landasan yuridis formal.
Peringatan Hari Jadi Purwakarta yang menjadikan momentum penting dalam
menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki dan meningkatkan kebersamaan dalam
pembangunan.
Karenanya, sejak perda hari jadi Purwakarta
diresmikan menjadi ibukota kabupaten, Pemkab Purwakarta tak pernah absen untuk
memperingati hari besar ini dengan berbagai acara dan kegiatan yang memiliki
makna membangun dan menjalin kebersamaan.
Di hari Jadi Kabupaten/Kota Purwakarta tahun ini Ke-41/178,
hal itu kembali ditorehkan Pemkab Purwakarta melalui sejumlah kegiatan, antara
lain dari kegiatan bernuansa agamis hingga perlombaan yang diambil dari
kebiasaan masyarakat setempat.
Beberapa kegiatan atraktif itu, seperti lomba-lomba
yang diprakarsai dari kebudayaan daerah itu sendiri. Seperti diketahui, langkah
kebijakan yang di ambil Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan wakil Bupati
Purwakarta Dudung B Supardi dengan visi dan misi membangun Purwakarta
berkarakter, tanpa disadari atau tidak pada kepemimpinannya saat ini budaya
asli masyarakat terus kembali di gulirkan.
Ini pun seakan, di tangan pemerintahannya yang baru
seumur jagung mempunyai makna ingin mengembalikan citra Purwakarta sebagai
daerah yang memiliki kekayaan budaya dan tidak melupakan jati dirinya melalui
program salapan (9) lengkah ngawangun nagri rahaja Purwakarta. ***
Dalam beberapa
kesempatan, Kepala Badan Promosi dan Penamaman Modal Jawa Barat sering
mengatakan bahwa Jawa Barat masih prospektif untuk dijadikan lahan investasi
karena banyak bidang usaha dan prpyek-proyek yang menjanjikan dan memiliki
prospek ekonomi yang cukup bagus.
Apa yang dilontarkan
itu tentunya berpijak pada kondisi Jawa Barat yang memiliki peluang untuk
berkembangnya berbagai bidang pekerjaandanusaha yang bisa menjadi ajang
investasi strategis serta menguntungkan dilihat dari aspek bisnis. Pada kondisi
ini, memang Jawa Barat hingga kini masih menjadi salah satu wilayah yang
dilirik banyak investor. Beberapa proyek besar seperti renovasi bandara Husen
Sstranegara Bandung dan rencana pembangunan bandara di majalengka, telah banyak
mengundang calon investor dari beberapa negara untuk berinvestasi didalamnya.
Dalam kerangka
pembangunan ekonomi Jawa Barat, kedatangan investor memang sangat diperlukan
karena perananya tidak kecil terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Dalam hal
ini, pakar-pakar ekonomi terutama yang berasal dari Jawa Barat mengemukakan
bahwa masuknya investor ke Jawa Barat merupakan kebutuhan yang strategis untuk
mendorong LPE Jawa Barat. Bisa dikatakan, kalangan investor itu merupakan salah
satu elemen yang inheren dengan pembangunan ekonomi itu sendiri. Oleh karena
kepada kalangan investor ini perlu diberikan ruang yang mamadai yang menyangkut
infrastruktur dan layanan birokrasi.
Dalam soal layanan,
pemerintah propinsi Jawa Barat hingga saat ini berupaya memberikan kemudahan
dan menghindarkan high cost. Salah
satunya adalah dengan dibentuknya seksi layanan investasi di lingkungan Badan
Promosi dan Penanaman Modal (BPPMD) propinsi Jawa Barat. Seksi ini, menurut
sumber di lingkungan BPPMD tidak bermaksud menambah panjang layanan investasi,
tetapi akan lebih memberikan layanan yang akurat, sehingga segala persyaratan
yang harus dipenuhi oleh calon investor bisa dipenuhi selengkap mungkin dalam
waktu yang cepat karena mendapatkan petunjuk dari seksi ini.
Itu disatu pihak.
Dipihak lainpun tentunya diperlukan sikap serius dari kalangan calon investor
itu sendiri. Artinya, calon investor yang datang di Jawa Barat bukan hanya
melihat, menanyakan, dan menginginkan presentasi tentang proyek yang
diminatinya, tetapi kemudian tidak jelas tindak lanjut dari calon investor itu
sendiri. Sebagai contoh, untuk beberapa proyek besar di Jawa Barat banyak calon
investor yang datang dan berjanji dengan bagus untuk menanamkan modalnya.
Tetapi ketika keterangan tentang proyek tersebut sudah dijelaskan secara rinci
dan gamblang, ternyata investor ini tidak datang lagi di Jawa Barat dan
menghilang begitu saja.
Yang diperlukan di Jawa
Barat, tentunya juga di daerah-daerah lain adalah calon investor yang
benar-benar memiliki komitmen untuk mengembangkan usaha dan mengerjakan
proyek-proyek besar. Pertama tentunya akan bisa memberikan kontribusi terhadap
LPE Jawa barat, dan kedua tentunya terdapat aspek bisnis yang menyangkut
prospek keuntungan bagi investor itu sendiri.
Dalam kaitan itu, BPPMD
Jawa Barat tentunya sudah sering memberikan presentasi, baik didalam maupun
diluar negeri tentang proyek-proyek dan bidang usaha yang sangat prospektif
untuk dijadikan ajang investasi. Bahkan setiap tahun presentasi semacam ini
terus dilakukan sebagai upaya promosi prospek ekonomi Jawa Barat. Hasilnya
memang bisa mendatangkan kalangan investor. Tetapi ya itu tadi, ada kalangan
investor yang benar-benar berinvestasi dan ada juga investor yang hanya janji
tetapi berlalu begitu saja.
Tetapi apapun
kondisinya, BPPMD Jawa Barat sebagai lembaga paling strategis didalam
mengembangkan penamaman modal di Jawa Barat tentunya tidak akan bosan untuk
terus mempresentasikan prospek Jawa Barat terutama secara regional maupun
internasional agar investasi di Jawa Barat tiap tahun terus mengalami
peningkatan. Dalam hal ini, BPPMD sudah tentu memiliki pengalaman dan kejelian
didalam melihat mana investor serius dan mana investor yang hanya akan berlalu
begitu saja tanpa memperlihatkan tindakan riil didalam menginvetasikan modalnya
di Jawa Barat.
Pengalaman dan kejelian
itu tentunya akan menjadi pijakan didalam menyeleksi calon-calon investor yang
akan berinvestasi di Jawa Barat. Seleksi ini sangatlah diperlukan agar BPPMD
tidak membuang-buang energy mempresentasikan prospek Jawa Barat kepada kalangan
calon investor yang hanya memberikan angin surga tetapi tidak jelas tindakan
nyatanya.
Tidak bisa dipungkiri,
dari luar negeripun tidak semua calon investor itu bonafid. Pasti ada saja
calon investor luar negeri yang dalam mempresentasikan minatnya terdengar dan
terlihat meyakinkan. Tetapi ketika ditanyakan kesiapannya untuk
meinginvestasikan modalnya, calon investor ini tidak cukup siap untuk
melakukannya.
Dalam kaitan itu,
khusus untuk rencana pembangunan bandara di Majalengka dan rencana renovasi
bandara Husen Sastranegara, Bandung, saat ini telah banyak calon investor dari
beberapa negara yang katanya minat berinvestasi. Tetapi apakah minat itu
benar-benar didukung oleh keseriusan dan persyaratan termasuk persyaratan
finansial mereka ? inilah yang harus dilihat secara jeli agar tidak banyak
calon investor bodong yang kelihatannya berminat tetapi ujung-ujungnya tidak
jelas dan berlalu begitu saja. Yang diperlukan Jawa Barat adalah calon investor
yang mampu berperan secara nyata untuk kepentingan Jawa Barat dan kepentingan
investor itu sendiri. ***
Andai sajapara pelopor sumpah pemuda pada
28 Oktober 1928 masih ada, entah bagaimana perasaannyamelihat keadaan bangsanya
saat ini. Setelah 80 tahun para pemoeda-pemoediIndonesiamengikralkan janji setianya untuk satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa,
kini lambat laun sumpah mulia tersebut mulai di khianati generasi penerusnya.
Jika dulu
perbedaan suku, agama, wilayah dan sebagainya dijadikan modal dasar untuk
bersatu, kini justru itu menjadi ladang subur perpecahan dan kekacauan di
negeri yang konon menjungjung adat ketimuran ini.
Sumpah Pemuda sendiri merupakan Sumpah Setia
hasil rumusan pemoeda-pemoediIndonesia
pada Kongres Pemuda II yang di selenggarakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 -
28 Oktober 1928.
Kongres yang digelar organisasi
Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) tersebut beranggotakan pelajar
dari seluruh wilayah Indonesia, dengan dihadiri oleh berbagai wakil organisasi
kepemudaan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond,
Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb, serta dihadiri pula pengamat dari pemuda
tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi
Djien Kwie.
Ketua kongres Pemuda II Soegondo
Djojopoespito dalam sambutannya berharap kongres tersebut dapat memperkuat
semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, dan selanjutnya disampaikan
uraian dari beberapa pembicara.
Moehammad Jamin dalam uraiannya menyampaikan
tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu
sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Sementara
itu dua pembicara selanjutnya yakni Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro,
sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada
keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik
secara demokratis.
Sedangkan
pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan akan pentingnya nasionalisme dan
demokrasi selain gerakan kepanduan. Dan selanjutnya Ramelan mengemukakan,
gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan
kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang
dibutuhkan dalam perjuangan.
Dalam peristiwa
bersejarah itu pula pada tahun 1928, untuk pertama kalinya di perdengarkan lagu
kebangsaan Indonesia
“Indonesia Raya” yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.
Lagu kebangsaan
Indonesia Raya tersebut, sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia
belanda saat itu, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya, danLagu kebangsaan Indonesia Raya dipublikasikan
pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan
mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan.
Sumpah pemuda jangan jadi kenangan, tetapi
semangat para pemuda tempo itu harus dijadikan inspirasi dan tekad kita bersama
untuk tetap bertanah air satu, tanah air indonesia.
Berbangsa satu, bangsa indonesia,
dan berbahasa satu, bahasa indonesia, sebagai modal dasar kebesaran bangsa indonesia,
amien. (Bud)
TEKS SUMPAH PEMUDA
SOEMPAH
PEMOEDA
Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA
INDONESIA
Ketiga :
KAMI
POETRA DAN POETRI INDONESIA,
MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Soempah Pemoeda dibacakan
di Waltervreden oleh :
Soegondo Djojopoespito (PPPI), R.M. Djoko
Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin
(Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja
Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong
Ambon), Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi), Abdul Muthalib Sangadji, Purnama
Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau
Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo,
Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder
Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische
Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr.Pijper, Sjahrial
(Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro,
Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi,
Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo,
Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro
Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo,
Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad
Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin
(Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage
Rudolf Soepratman, Nona Tumbel.
Asal ditekuni dengan baik akan membuahkan
hasil yang baik juga, demikian ungkapan yang dilontarkan salah seorang anggota
DPRD Purwakarta Rahmat Budi Mulyawan asal partai golkar yang hingga saat ini
masih menggeluti ternak ayam.
Kiprahnya dimulai dari tahun 2005, hingga
kini segudang sejarah dan kenangan yang telah diperolehnya dari perjalanan
beternak sampai duduk dikursi legeslatif menjadi anggota DPRD.
“Kenangan yang tak terlupakan ketika belajar
pertama memberikan Vaksinasi ke ayam, tangan kiri sempat tertusuk jarum hingga
bengkak. Lima
hari tangan terasa pegal bengkak maklum baru belajar”, katanya. Namun hikmahnya
kini dirinya telah mahir melakukan penyuntikan, terang laki-laki kelahiran
tasikmalaya 41 tahun yang silam.
Dari ternak tersebut tambahnya, sebanyak
sembilan orang telah dipekerjakamnya untuk membantu usaha tersebut. “Semua dari
warga setempat, bisa bertambah bila musim lebaran tiba permintaan banyak tenaga
kurang dengan terpaksa warga sekitarpun ikut direkrut guna membantu penyidiaan
kebuthan para pemesan”, terang Budi yang setiap harinya selalu perlente ini.
Bila menghitung untung, sangatlah lumayan
jawabnya dengan senyum, yang penting dimenej dengan baik serta pengawasan yang
ektra. Para pekerja yang telah bekerja selama
tiga tahun denganya, akan diberhentikan dengan hormat dilepas mandiri, ujarnya.
Artinya segala ilmu serta pengalaman yang
telah diperoleh selama tiga tahun itu dikembangkan sendiri, ”Pekerja tersebut
buka usaha sendiri namun tidak terlepas dari pengawasan saya tentunya, ya
mudah-mudahan dengan berdikari akan lebih membuahkan hasil yang lebih juga
tentunya”, papar Budi.
Kini Rahmat Budi Mulyawan dengan tiga buah
hatinya didampingi seorang istri Elvi Hastuti, mendiami rumah yang cukup
sederhana Jl. Raya Sawit-Bojong Km.6 Kp. Neglasari Rt.01/01 Ds. Neglasari Kec.
Darangdan Kab. Purwakarta. (Syaiful
jabrig)
Batu Tujuh adalah sebutan tujuh bongkah batu yang terdapat di lingkungan
RW 02 Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten
Bandung. Batu Tujuh memang dikeramatkan. Bahkan nama gang yang melintasi lokasi
batu itu berada, diberinama Gang Batu Tujuh. Masyarakat setempat yakin Batu
Tujuh berkait dengan sejarah silam tempat itu. Tak seorang pun berani mengusik
batu itu karena takut celaka.
Keberadaan Batu Tujuh
hanya berjarak sekitar 400 meter dari lokasi candi Bojong Menje, yang baru
ditemukan tiga tahun silam. Di sebut Batu Tujuh, karena jumlah batu ini tujuh
bongkah. Fisiknya bulat tak beraturan dengan diameter rata-rata 60 cm. Semuanya
tergeletak begitu saja di salah satu sudut jalan Gang Batu Tujuh.Yang unik dari
batu ini adalah soal bobot.
Ketika ditanyakan
kepada masyarakat setempat soal itu, mereka semua menggelengkan kepala, tanda
tidak tahu. Kepala Kampung Bojongmenje, Somantri Salim (60), malah mengatakan sesuatu
yang sulit dinalar. Katanya, berat batu tidak bisa diukur. “Bobotnya bisa
mencapai satu ton bila yang ingin mengangkat punya niat buruk,” tandas tokoh
yang dituakan di kampung itu.
Sejak ditemukannya
Candi Bojongmenje alias Candi Orok beberapa tahun silam, keberadaan Batu Tujuh
juga menyedot rasa ingin tahu masyarakat. Somantri meyakinkan bila Batu tujuh
sudah ada sejak lama. Ia tergeletak di tanah milik H Umar. Dan sejak lama pula,
tak pernah ada yang memindahkan batu-batu itu. Somantri mengatakan, pernah ada
yang akan membawa salah satu batu itu. Memang, hari itu ia berhasil membawanya.
Tapi esoknya, batu itu sudah ada di tempat semula. “Bahkan yang memindahkannya
jadi sakit,” kenang Somantri.
Menurut Somantri,
Batu Tujuh bukan sembarang batu. Batu itu merupaikan tinggalan leluhur yang
pernah menghuni tempat itu ratusan tahun lalu. Bahkan kini batu itu ditunggui
mahluk gaib bernama Nyi Mas Raja Inten. Konon ada satu keanehan yang melekat
pada batu itu. Ia bisa memberi kekayaan bagi pemeliharanya. Hal itu dibuktikan
H Umar. Dulu, sebelum merawat batu itu, ia tak memiliki apapun dalam bentuk
harta. Namun setelah memelihara batu itu dihalaman rumahnya, H Umar memiliki
tanah sampai 60 Ha yang tersebar di beberapa tempat.
Minta Tumbal
Tapi hati-hati terhadap
batu ini. Bila bertindak gegabah, bisa dapat celaka. Seperti memindahkan letak
batu dari tempat asalnya. Tiga tahun yang lalu, Somantri bercerita, pernah ada
yang mencoba memindahkan batu itu. Namanya H Rohman. Sayangnya, proses
pemindahan tidak didahului dengan permohonan ijin kepada penunggu batu.
Akibatnya penghuni batu itu tak rela, Nyi Mas Raja Inten tak mau dipindah.
Lantas apa yang
terjadi? Setelah memindahkan batu itu, keesokan harinya H Rohman jatuh sakit.
Kian hari sakitnya tambah parah. Akhirnya dia meninggal dunia. Penyakit yang
dideritanya pun sangat aneh. Sakit itu datang tiba-tiba dan tidak diketahui
jenisnya. Ilmu kedokteran hanya menyebutnya sakit tekanan darah tinggi. “Bisa
saja sebenarnya H Rohman menjadi tumbal dari batu itu,” tutur Somantri.
Setelah kejadian itu,
beberapa tokoh kampung Bojongmenje pernah kedapatan ilafat. Bunyinya antara
lain, “Kami jangan dirusak, peliharalah kami,” ujar Somantri menirukan bunyi
ilafat itu. Akhirnya ilafat ini didiskusikan bersama beberapa pini sepuh
kampung. Mereka meyakini isi ilafat itu adalah pesan untuk memelihara Batu
Tujuh yang terletak di RT 02 itu. Sebab ternyata, petunjuk gaib semacam itu
datangnya bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kepada lain orang. Sejak itu
Batu Tujuh dianggap keramat dan tak ada yang berani macam-macam.
Meski dikeramatkan,
beber Somantri, kita tidak boleh melebih-lebihkan soal batu ini. Selain ia pun
mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia, bentuknya tetap saja batu, benda
mati. Hanya saja, batu ini memiliki kelebihan dibandingkan benda sejenis. Yakni
ada penunggunya, yang patut dihormati. “Ini pertanda kita harus menghargai alam
semesta,” ungkap Somantri. ekorisanto.blogspot.com
Abad 15 silam, Kampung
Ciburuy adalah sebuah daerah yang teduh dan tenang. Ia terletak di lereng
sebelah barat Gunung Cikuray, Desa Pamalayan, Bayongbong, Garut, Jabar.
Tanahnya luas dan subur. Para karuhun (leluhur) di sana menyebutnya tanah dewa sasana, yang artinya
tempat bersemayamnya para dewa. Di sinilah jejak para resi dan raja besar tanah
Pasundan terkuak.
Tatar Sunda termasuk kawasan relatif banyak
meninggalkan tilas-tilas sejarah. Namun demikian, terbilang sedikit diantaranya
yang berhasil diungkap. Para sejarawan
mencatat, pada periode abad ke-4 hingga ke-16 masehi, di kawasan ini berdiri
kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Sebut saja kerajaan Tarumanagara, Galuh,
hingga kerajaan Sunda Pakuan. Begitulah para ahli menyebutnya sebagai periode
yang cukup panjang dalam perputaran sejarah.
Menurut penelusuran
sejarah, di tanah Jawa bagian barat (Pasundan), pengaruh Hindu sesungguhnya
lebih dulu merebak. Yaitu dengan berdirinya kerajaan Tarumanagara pada abad
ke-4. Lalu kemudian muncul kerajaan-kerajaan lainnya. Ironisnya, di daerah ini
malah nyaris tidak ditemukan bangunan candi seperti halnya banyak terdapat di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Satu-satunya candi yang
ditemukan di Jawa Barat adalah Candi Cangkuang, kendati hingga kini masih
terjadi silang pendapat di kalangan pakar. Candi ini ditemukan di kampung Pulo,
desa Cangkuang, kecamatan Leles, Garut, Jabar. Kemudian Candi Bojongmenje, yang
ditemukan tahun 2003 dan kini masih dalam penelitian intensif Balai Arkeolog
Bandung.
Berita-berita tentang kehidupan
kerajaan-kerajaan pada masa silam, terungkap lewat penemuan para ahli. Beberapa
prasasti, misalnya, berhasil ditemukan dan diungkap kandungan isinya. Misalnya
prasasti Batu Tulis dan Kebon Kopi di Bogor. Juga prasasti Kawali dan Galuh di
Ciamis, lalu prasasti Kebantenan I - V di Banten, prasasti Rumantak di
Gegerhanjuang Tasikmalaya, prasasti sanghyang Tapak I - II di Sukabumi dan
lainnya.
Sumber-sumber berbentuk
naskah pun berhasil di temukan di tatar Sunda ini. Antara lain Carita
Parahyangan, Carita Bujangga Manik, Carita Waruga Rasa, Babad Galuh, Babad
Pakuan, Siskandang Karesian, Amanat dari Galunggung, dan lainnya. Semua naskah
itu mengandung isi yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan Sunda
di masa lalu.
Tanah Dewa
Meski jejak-jejak kerajaan
di tatar Sunda berhasil ditelusuri lewat prasasti dan naskah-naskah tua, namun
bentuk fisik semacam bangunan atau candi, jarang ditemukan. Inilah yang
membedakan eksistensi kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Tengah dan Timur dengan
daerah Jawa Barat. Candi memang identik dengan sarana ibadah dan pemujaan kala
itu. Ia merupakan cermin religi dan kesakralan.
Bagaimana dengan Tatar
Sunda? Di kalangan masyarakat Sunda, muncul sebutan Tanah Dewa Sasana. Yakni
suatu bukti bahwa masyarakat Sunda kala itu, memerlukan suatu tempat yang
sakral dan dikeramatkan, sebagai wujud kehidupan religiusnya. Mengapa mereka
tak membangun candi? Ini yang menarik. Namun konon, Tanah Dewa Sasana punya
nilai setara dengan eksistensi candi, yang kerap dinamakan kabuyutan atau
kawikuan. Sebagai contoh adalah Kabuyutan Ciburuy di desa Pamalayan,
Bayongbong, Garut.
Tanah Dewa Sasana adalah
sebuah tempat yang disucikan para petinggi kerajaan yang mulai meninggalkan
aktivitas duniawi. Jangan heran bila kabuyutan selalu jauh dari keramaian.
Sebab di sinilah, mantan raja dan petinggi kerajaan menenangkan diri. Tidak
sedikit pula yang menghabiskan sisa usianya. Tidak jarang, petinggi kerajaan
yang masih aktif, membahas masalah pelik ketatanegaraan dan urusan rakyat di
sini.
Kabuyutan Ciburuy
Nana Suryana, kuncen
Kabuyutan Ciburuy, mengatakan bila di kabuyutan yang di peliharanya, terdapat
bermacam-macam benda pusaka peninggalan tokoh-tokoh zaman kerajaan Sunda. Ini
merupakan bukti bila kabuyutan seluas 7 Ha ini pernah didiami tokoh-tokoh
penting. “Banyak peninggalan karuhun yang disimpan di dua bangunan,” tutur
Nana.
Kabuyuran Ciburuy terdiri
dari tiga bangunan dan sebuah saung lesung (tempat menumbuk padi). Bangunan
pertama disebut patemon yang sebagai tempat berkumpul (rapat) dan menerima
tamu. Kemudian bumi alit (padalaman), tempat beristirahat raja sekaligus tempat
menyimpan perangkat kerajaan seperti peta, naskah-naskah dan dokumen kerajaan.
Dan ketiga lumbung padi tempat persediaan makanan.
Secara fisik, ketiga
bangunan ini bentuknya unik, beratap ijuk dan mirip bangunan di daerah
Minangkabau. Bangunan disangga tiang-tiang dari kayu dan berdinding bilik. Di
dalam dua bangunan itu terdapat keris, sabuk, rantai emas, golok, bogor ageung, cupu,
naskah kuno, kujang, tumbak, trisula, kentongan, tongkat, dan lainnya. *
Naskah Kuno Ciburuy
-----------------------------------
Tahaduk
sang hiang hayu tekang yarakan kami ring wiring ka di kita. (Harus tahan dan sabar dalam
menyambut datangnya pemimpin yang menerima wahyu untuk mengajarkan ilmu Allah
kepada manusia yang kurang iman, termasuk kepada kita.
Kunang
dyan kumijar sa rasana kang wuwus kami. (Keterangan dan contoh untuk menyatakan rasa tunggal
bersaudara yang diwajibkan oleh Alah yang terdapat dalam kitab suci manapun).
Hayua
kita umawa ya rasa ya carita. (Ketidakwaspadaan dan kelemahan kita yang menjadikan
bangsa kita mengalami kesusahan dan penderitaan).
Mung
kalor raksa wawa wasita. (Dimana waktu membalas terhadap saudara-saudara kita
yang satu ideologi harus tetap waspada dan tetap menjaga nama baik bangsa sendiri).
Nada
kari-kari luini kang rasa carita. (Kejadian itu meminta korban, akibat kelakuan yagn
keterlaluan yagn menyebabkan eksusahan dan penderitaan.)
Yana kaulingana ri kami. (Kamu sekalian tidak pernah ingat
kepada Allah).
Auma
nihan luike. (Golongan
yang demikian akan lebih berat hukumannya)
Ka
wuang ngarga wiwiku. (Hanya sedikit orang yang menghargai guru yang
menunjukkan manusia kepada jalan yang benar).
Mreng
ngucapa ta carita ni kang huang dewasa. (Riuhnya suara yang kesusahan terdengar oleh para
pemimpin di seluruh dunia).
Kala
re purwa teja rata tarima haka nguni. (Pokok ajaran para pemimpin adalah tentang
keseimbangan hidup, bila tidak percay acobalah tanyakan kepada musuh atau
kepada saudara-saudara tertua yang terdahulu).
Anaa
ka yugi arah kami sawite swara maha dewa. (Anaknya yang akan dating, juga
mengaku ketruunan para leluhur yang bijaksana yang tidak berbeda bila tidak
berbicara bagaikan pemimpin besar yang berbudi luhur padahal palsu)
Murang
kusika garga game tri kusuma pata tajali. (Hanya yang pintar, yang
gagah/kuat, yang bangsawan, yang rajin, yang patuh, yang cantik).
Tugu Khatulistiwa Pontianak terletak persis di sisi
jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara. Tiap tanggal 21 -23 Maret dan 21-23
September pukul 12.00 WIB, bayangan benda di sekitar tugu ini akan menghilang.
Saat itulah diperingati sebagai hari kulminasi matahari. Karena saat itu, di
tempat ini matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Namun, ada hal
lain yang kerap menjadi misteri. Yaitu soal penunggu gaib tugu yang dibangun
tahun 1928 ini.
Tiap 21 -23 Maret dan 21-23 September, Tugu
Khatulistiwa Pontianak menjadi primadona. Ketika itulah di kompleks ini sering
digelar beragam pertunjukan kesenian, pameran dan lain-lain hiburan. Tak pelak,
massa pun
tersedot ke tempat ini. Dari penjuru daerah berdatangan ke sekitar tugu. Namun,
yang paling istimewa sebenarnya bukan hanya itu. Melainkan tepat tengah hari
pada tanggal tersebut, segala bayangan benda tegak yang ada di sekitarnya, akan
menghilang secara misterius. Ini tentu tidak akan pernah terjadi di tempat
lain.
Peneliti Belanda
Masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat umumnya,
cukup bangga dengan keistimewaan ini. Itu tercermin dalam kehidupan
sehari-hari, seperti banyaknya cendera mata miniatur Tugu Khatulistiwa,
penginapan dan jalan yang menggunakan nama Khatulistiwa atau Ekuator. Termasuk
unsur Garis Khatulistiwa dimasukkan ke dalam lambang Pemerintah Daerah. Garis
Khatulistiwa yang melingkari tengah-tengah bumi, sebenarnya melewati beberapa
propinsi di Indonesia
dan beberapa negara lain. Untuk Kalbar, garis khatulistiwa melewati beberapa
daerah seperti kota/kabupaten Pontianak,
Sanggau dan Sintang.
Di Kalbar, Garis Khatulistiwa memotong Sungai
Kapuas sebanyak 2 kali, dan satu kali memotong Sungai Melawi. Panjang Garis
Khatulistiwa yang melintasi daratan Kalbar adalah 466 km. Selain itu, ada 7
propinsi lain yang dilewati Garis Khatulistiwa yaitu Propinsi Sumatera Barat
(Utara Payakumbuh), Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah,
Maluku dan Irian Jaya. Selain itu ada 5 negara Afrika yang dilewati Garis
Khatulistiwa yaitu Gabon, Zaire, Uganda,
Kenya dan Somalia. Untuk
Amerika Latin ada 4 negara yaitu Equador,
Peru, Kolombia
dan Brasil yang terkenal dengan hutan amazonnya.
Karena letaknya tepat di tengah belahan bumi utara
dan selatan, maka wilayah yang berada di sepanjang Garis Khatulistiwa punyai
keistimewaan yang tidak ternilai harganya. Seperti curah hujan yang tinggi,
suhu dan kelembaban rata-rata harian cukup tinggi, terdapat berbagai jenis
hewan dan tumbuhan dan sinar matahari yang bersinar sepanjang masa. Semua ini
menyebabkan adanya iklim tropis, yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa
yang patut disyukuri bersama.
Tugu Khatulistiwa Pontianak ditemukan tahun 1928.
Berdasarkan catatan V. en. W oleh Opzihter Wiese tahun 1941, pada tahun 1928
telah datang suatu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi
berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di
Pontianak.
Kala itu yang dibangun berupa tonggak yang bagian
atas diberi tanda panah. Tahun 1930, disempurnakan berbentuk tonggak dengan
lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan
oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa direnovasi
dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu
dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli.
Bangunan tugu terdiri dari empat buah tonggak
belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian
depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat
lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran
yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan
plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya
tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur. (ekorisanto.blogspot.com)
Bertepatan dengan tanggal 21 juni 2010, Kota
Cimahi sudah 9 tahun menjadi kota
otonom. Dengan dukungan semua pihak dan bermodalkan asset yang ada, pelan tapi
pasti, Cimahi yang dikenal sebagi kota
Hijau ini, terus berpacu, melaju untuk maju dan mandiri.
Berbagi prestasi yang ditorehkan Itoch
Tochija didukung oleh SDM yang ada, telah merubah wajah kota
Cimahi yang tadinya kumuh, kusam menjadi wajah kota yang berseri, nyaman dan indah.
Perkembangan Kota Cimahi yang pesat dengan
pembangunan disana sini seperti Baros Information Teknologye Center (BITC),
Gedung Baros, Cyer City Center (B C3), Gedung Pemerintahan Kota Cimahi, Gedung
DPRD, pembelian lahan untuk Bandung Cimahi Junction (BCJ), Pembangunan Pasar Atas
Baru (PAB) dan lainnya, patut diacungi jempol.
Tapi, sungguh malang dibalik pembangunan
yang cukup pesat dan berbagai penghargaan yang diraih tersebut, ternyata masih
menyisakan setumpuk permasalahan, bahkan bisa dikatakan laksana “Menara Gading”,
sehingga timbul pertanyaan, benarkah perayaan HUT ke-9 Kota Cimahi dankemeriahan mengarak piala Adipura bisa
dinikmati oleh semua warga cimahi? Atau kemeriahan tersebut hanya bisa
dinikmati segelintir elit politik saja?.
Dibalik kemajuan, HUT Cimahi dan Piala Adipura,
kalau kita menengok lebih kedalam ternyata tidak seindah apa yang
dipropagandakan, lihatlah pembangunan Pasar Modern BCJ yang ditangani PD Jati
Mandiri yang masih terkatung-katung dan menyisakan masalah, disamping tanahnya masih
sengketa.
Juga Warga Rw 22 Kel. Cibeureumbelum di beri uang kompensasi, sejumlah jalan
ruas jalan yang masih rusak, Kantor pemerintahan Kota Cimahi seluas 26.000
hektar sampai kini tidak punya sertifikat, begitu juga Pasar Atas baru
terkendala sertifikasi, pembangunan fasilitas PAB masih terkatung-katung Ditolaknya atas tender PAB oleh Bank Dunia.
Diharapkan kemeriahan HUT Cimahi serta berbagi
atribut serta setumpuk penghargaan sejatinya menjadi cerminan kedamaian dan
kesejahteraan lahir- batin warga Kota Cimahi. (harry gibrant)
Asal-usul nama Subang hingga saat ini mempunyai
bermacam-macam presepsi sampai saat ini belum ada keterangan resmi tentang
asal-muasal penamaan Kota Subang. Dari cerita rakyat berdasarkan histografi
tradisional. Subang berasal dari nama seorang wanita, yang termuat dalam Babad
Siliwangi yaitu Subanglarang atau Subangkarancang.
Dikuatkan oleh cerita Babad Pajajaran yang
mengisahkan bahwa di daerah Karawang ada sebuah pesantren yang dipimpin oleh
Syeh Datuk Quro. Wanita tersebut bernama Subanglarang atau Subangkarancang yang
merupakan putri dari Ki Jamajan Jati.
Pada waktu itu Subanglarang sedang belajar di
pesantren Syeh Datuk Quro, hingga kelak dinikahi oleh Raden Pamanahrasa yang
bergelar Prabu Siliwangi sebagai Raja Pajajaran, dan mempunyai dua orang anak
yaitu Raden Walangsungsang Raja dan Ratu Rarasantang.
Ada pula versi lain bahwa kata
Subang berasal dari nama suatu tempat di daerah Kuningan. Ketika perusahaan P & TLand waktu itu dipimpin oleh PW.Hofland,
memerlukan karyawan yang banyak, sehingga harus mendatangkan tenaga kerja dari
luar. Diantaranya didatangkan dari daerah Subang Kuningan Penduduk Subang pada
waktu itu belum banyak seperti sekarang. Para
pendatang tersebut kemudian membuat perkampungan di sekitar pabrik yang
disebutnya Babakan atau Kampung Subang, sesuai asal tempat tinggal mereka.
CATATAN
PENTING
Dalam perjalanannya, berbagai peristiwa di Subang
banyak yang terjadi dan menjadi catatan penting baik skala nasional maupun
internasional. Catatan sejarah tersebut diantaranya ialah:
Pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran, wilayah Subang
menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram,
Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh
di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk
menjangkau Batavia.
Pada saat konflik Mataram dengan VOC, wilayah
Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik pasukan
Sultan Agung yang akan menyerang Batavia
. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena
banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di
wilayah Subang. Tahun 1771, saat dibawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di
Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang
memerintah secara turun-temurun.
Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811
- 1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa.
Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang
selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P
& T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan
sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda.
Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu
mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di
daerah ini, Pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi
onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang
kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.
Perlawanan kepada penjajahan melalui jalur politik
pun dilakukan oleh rakyat Subang, Diantaranya cabang Syarikat Islam (SI) di
Pringkasap (Pabuaran) dan Sukamandi (Ciasem) tidak lama setelah deklarasi SI di
Bandung. Lalu pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai
Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra
(karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya
mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas
percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra
dipecat sebagai karyawan P & T Lands.
Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari
mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang.
Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang
diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang.
Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta
menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI
Cabang Subang untuk mengemukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat, yaitu
menuntut suatu Indonesia berparlemen yang dipilih dari dan oleh rakyat,
menghadapi bahaya fasisme, berdirinya “Indonesia Raya”, penerapan Bendera Merah
Putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu persatuan Indonesia dan
peningkatan pemakaian bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia.
Pada saat Tentara Angkatan Laut Jepang merapat di
pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942, kemudian berlanjut direbutnya
Pangkalan Udara Kalijati oleh Jepang. Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri
bagi sejarah Pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi
kapitulasi (penyerahan) dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang.
Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan
tentara pendudukan Jepang.
Kejadian ini kemudian dimanfaatkan oleh para
pejuang melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah untuk membebaskan
dari penjajahan. Dalam perlawanannya Sukandi (guru Landschbouw), R.
Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.
Dalam rangka memperjelas perjuangan dalam
mempertahankan kemerdekaan, pada 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng
berlangsung rapat dibawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen
Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta.
2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati
pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten
Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang
Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang.
Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten
Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur.
Momentum tanggal 5 April 1948 dijadikan acuan kelahiran Kabupaten Subang yang
kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977. (Adang Suryana)
Islam memiliki beberapa
kriteria untuk pemimpin masa depan yang baik, yakni adil dan berpedoman pada
nilai-nilai moral serta agama. Dalam Islam arti kata pemimpin mempunyai banyak
sinonim, seperti khalifah (QS Al Baqarah (2) : 30), Ulil Amri (An Nisa (4) : 59),
Wali (Al Maidah (5) : 55), Rais (HR Bukhari) dan Amir (HR Bukhari).
Khalifah artinya pengganti,
pemimpin, wakil Allah di muka bumi, pengatur dan penguasa yang berwenang mengatur
kehidupan dunia. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30, yang
Artinya : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada para Malaikat ”Aku hendak
menjadikan khalifah di muka bumi”.
Dalam sabda Nabi SAW, Al
Imam dimaksud sebagai pemimpin/penguasa, yang memiliki kekuasaan dan wewenang
mengatur masyarakat. Sebutan lain Ulil Amri adalah pemerintah, panutan, ulama,
cendikia.
Pengertian Ulil Amri
termaktub dalam Al Qur’an Surat An Nisa (4) Ayat 59, yang artinya ”Wahai
Orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil
Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu”.
Merujuk pada istilah-istilah
tersebut, ada beberapa karakteristik pemimpin Islam masa depan yang diharapkan
mampu membawa umat pada kemajuan dan kesejahteraan yang diridhoi Allah SWT,
yaitu memiliki visionary thinking, strategic management, leadership skill, interpersonal
communication, self motivation dan mau bekerja melebihi harapan (beyond the
call of duty), self management.
Kriteria tersebut diharapkan
mampu dimiliki oleh para pemimpin negeri ini demi kemajuan Indonesia di
masa yang akan datang. ***