• Belajar Itu Suatu Keharusan, Ajarkan Kepadaku Apa yang Diajarkan Allah Kepadamu

  • Berita  
  • 391 view  
  • 0 comments
  • Jakarta, BEDAnews.com

    Demikian perkataan Sahabat Nabi (Abdullah Bin Ibnu Maktum) sebagai judul dalam tulisan ini.  Mengukuhkan anjuran untuk belajar memang sebuah  keharusan dan kepantasan Harus, sebab pengetahuan diperoleh dengan  belajar. Pantas, mau berilmu  berusaha. Tidak pantas   bila kita  tidak tahu.tidak paham, lalu dihadapi dengan sikap  diam saja.

    Kalau  diIbaratkan  tidak mengetahui itu adalah identik berada seperti dalam kegelapan. Kita harus cari jalan lepas dari kegelapan. Belajar identik dengan cara keluar dari kegelapan dengan belaJar,  bertanya kepada para  ahli.

    Inilah amsal  yang kita kutip diatas, sebuah ucapan dari seorang tua renta yang buta bernama Abdullah Ibnu Maktum. Ia ditakdirkan buta sejak dilahirkan ,Tapi dia rajin belajar, dan haus kepada kebenaran. Ia mengatakan ucapan awal kepada Rasulullah. Ya Rasulullah Aqrikni mimma allama kallah (Ajarkanlah apa yang diajarkan Allah  kepadamu).

    Alkisah, Sang orang tua ini hendak belajar, ingin bertanya, kepada Rasulullah  rela menunggu lama. Abdullah  Ibnu Maktum  datang dari jauh sabar,menunggu giliran dapat  menemui Muhammad Rasulullah . Dia ingin bertanya tentang  ajaran kebenaran. Saat itu nabi, waktu yang sama,sedang sibuk menerima tamu kelompok Yahudi.Nabi mencoba mendakwaahi kaum Yahudi itu agar dia  menerima kebenaran ajaran Islam. Tapi tidak mau. Mereka kaum Yahudi itu tetap kafir.

    Padahal, nabi telah menghabiskan banyak waktu untuk Yahudi, terlalu mengabaikan orang buta ( Ibnu Maktum) tamu yang datang jauh diluar kota Mekkah. Terkesan mengutamkan menyampaikan ajaran kebenaran pada orang kafir  ketimbang orang  muslim sendiri.

    Dalam  kisah itu ditambahkan nabi ditegur oleh  Allah dengan turun ayat. Menjelaskan agar tidak terlalu cenderung dakwah kepada kelompok  kaum kafir. Karena mereka itu hatinya  engkar dan tertutup. Abasa watwalla (juz 30 ayat 16).

    Dari konteks belajar kebenaran (allama kallah) kebenaran yang  diajarkan oleh Tuhan, tampaknya penting lantaran berfungsi penolong. Yaitu  Kebenaran itu menjadi penyelamat,pelindung manusia dari kesesatan. Dengan kata lain kebenaran adalah penyelamtan, sementara kesesatan  merupakan kegelapan dan kesengsaraan.

    Pada episode diatas, dengan pelaku Abdullah Ibnu Maktum, sebenarnya terdapat teks kebenaran dan  bagaimana mempelajari kebenaran itulah kepantasan bagi kita semua.Tujuannya agar semua jelas, terang, dan tidak tersesat dan ditimpa kesengsaraan.

    Terhadap konteks ini kebenaran sejati kita dapat mengutip ajaran Socrates (500 thn SM) yang menyimpulkan kebenaran itu adalah, baik, benar dan bernilai.

    Pertama,kebenaran itu adalah sejati ultimte dari natural. Yang bersifat metaphysic spiritual.Kebenaran demikian, memiliki dimensi  dimensi  gaib, mystic, yazznvg mengandung kepastian (regulator).

    Kedua, kebenaran berdimensi hakiki,mutlak, seperti persoalan akhir kehidupan (Universal refsentative).

    Ketiga, Kebenaran berdimensi  manusia nilai moral. dan alam. Dimensi ini jelas,   merupakan euxcecutor semesta.

    Kebenaran yang dinyatakan Socrates adalah alam pikiran pada masa  30 abad lalu yang memberi terang  pada  abad  peradaban manusia. Yang pada prinsip dasar kebenaran itu merupakan cakupan spiritual,universal dan moral.

    Pandangan Islam yang bermula  abad keenam, lebih mengegaskan kebenaran dengan kepastian yaaitu kebenaran sejati berasal dari Tuhan.Ayat tentang kebenaran  adalah al haqq mirabbik.Yang lengkapi dengan fungsi sunnatullah hukum dan teori alam, yang disebut  ayat qauniah, serta jihad atau dialektika manusia dengan perubahan.

    Jika demikian, bagaimana  kita menangkap kebenaran setelah berlansung proses merumuskan kebenaran itu 22 abad lamanya.Ada perubahan mendasar telah terjadi pada umat manusia kini. Muncul konsep kebenaran yang menyengsarakan  bahkan  menyesatkan. Meminjam istilah Salman Rhusdi awal delapan puluhan ayat ayat syaitan. Tetapi istilah ini  dihadapkan khusus  sebagai perlawanan terhadap  Ayatullah Khomaini pengagas Revolusi Iran.

    Dalam pandangan saya, kebenaran nilai moral (jihad) dalam ajaran Islam sudah membawa pencerahan dan penyelamatan pada umat manuisia masa awal dan beberapa abad kemudian. Tetapi  belakangan, Islam tidak berdaya, letih dengan pergulatan peradaban  sebelumnya. Islam  berada persimpangan  jalan dengan keraguan.

    Karena itu, kebenaran  yang harus diajukan  sekarang, kebenaran berbasis sejarah. Sejarah   yang berkelanjutan  (sunnatullah) dan sejarah dengan kontains   nilai moral jihad dalam perubahan . Yaitu Perbaikan dari kointinuitas,dalam rangka memastikan  kebenaran  memang  berlansung menurut semestinya.Kenyataan yang universal yang hakiki harus pula diiringi dengan semangat kebenaran perubahan atau jihad.

    Akhirnya dalam persfektif atau sudut pandang inilah aqrikni mimma alamkallah dari Abdullah Ibnu Maktum menjadi berguna.Men gajarkan   apa yang diajarkan Allah..Konsep kebenaran berpikir.Jauh dari kesesatan,jauh dari kerusakan, Jauh dari syaitanic argument.menghindar kesombongan dan keserakahan .

    Oleh: DR. Masud HMN, Doktor & Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA ) Jakarta

     Email: masud.riau@gmail.com

     

    Comments

    Nama  
    Email  
    Komentar  
    Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin
  • web design by javwebnet