• Heppy Trenggono: Nasionalisme Ekonomi Trump Hebat, Bagaimana Dengan Jokowi?

  • Berita  
  • 322 view  
  • 0 comments
  •  Jakarta, BEDAnews.com

    "China tidak pernah tulus sebagai teman".

    "China memanipulasi kurs".

    "Yang dilakukan China kepada kita sangat buruk sekali".

    "China menggunakan kita untuk membangun negara mereka sendiri".

    "Kita tidak boleh biarkan lapangan kerja dicuri bangsa lain".

    "Kita menjadi sulit karena perjanjian perdagangan yang tidak adil bagi Amerika".

    Itulah kalimat yang secara blak blakan disampaikan selama kampanye maupun pada saat debat  oleh Donald Trump.

    Akhirnya sejarah mencatat Trump terpilih sebagai Presiden amerika yang ke 45!

    Kemenangan Trump tidak terlepas karena rakyat Amerika menangkap sebuah pembelaan yang jelas yang ditunjukkan oleh Trump kepada kepentingan Amerika. Di tengah isu globalisasi, Trump adalah harapan baru yang mewakili keinginan rakyat Amerika agar pemerintah lebih memprioritaskan kepentingan bangsanya dibanding kepentingan bangsa lain, yang melihat globalisasi tidak serta merta memberikan manfaat jika tidak dilakukan secara adil, yang melihat bahwa China adalah ancaman yang nyata bagi bangsa Amerika.

    Rakyat Amerika lebih memilih Trump karena nasionalismenya, rakyat Amerika memilih untuk memaafkan sikap arogan Trump  karena memposisikan pembelaan terhadap kepentingan nasional jauh lebih penting.

    Sementara disisi lain Hillary Clinton dipersepsikan mengkhianati bangsanya sendiri, menjual Amerika kepada negara lain.

    Amerika akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa kepentingan nasional harus dibela, bahwa globalisasi bukan untuk menggantikan nasionalisme, bahwa kepentingan bangsa sendiri harus ditempatkan di atas segala galanya.

    Indonesia menghadapi ancaman dengan skala yang lebih buruk dibanding Amerika

    Sumber daya alam sudah lama dikuasai asing, pasar dalam negeri didominasi produk asing, kepentingan China hadir secara massive, BUMN tergadai satu persatu kepada China, orang orang China mulai banjir di Indonesia, bahkan buruh China mulai mengisi lapangan kerja di Indonesia di tengah sulitnya anak bangsa mencari pekerjaan.

    Berbicara tentang Trump, nasionalisme ekonominya perlu kita jadikan inspirasi, sementara hal yang lain, tentang islam, tentang karakter, bangsa Indonesia memiliki norma sendiri.

    Yang menjadi pertanyaan, dimanakah Jokowi berada dalam persoalan nasionalisme ekonomi ini?

    Apakah Jokowi memiliki pandangan dan kesadaran sama seperti yang ditunjukkan oleh Donald Trump, atau sebaliknya?

    Ataukah justru ada benang merah  antara kepentingan China dengan  pembelaan Jokowi kepada Ahok?

    Oleh Heppy Trenggono, Presiden IIBF

     

    Comments

    Nama  
    Email  
    Komentar  
    Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin
  • web design by javwebnet