• Ilim Abdul Halim Raih Gelar Doktor

  • Berita  
  • 37 view  
  • 0 comments
  • Bandung,BEDA news.com

    Kerja keras, konsisten, motivasi tinggi  dan sabar selalu berakhir dengan kesuksesan. Itulah ungkapan yang layak dan pantas disematkan kepada  Dr. Ilim Abdul Halim,MA, M.Ag.

    Pria Jebolan S2 UGM  ini, telah sukses mengukir dengan tinta emas dalam karir akademisnya dengan meraih gelar Doktor, dengan  IPK  3,64 Yudicium sangat memuaskan dalam sidang terbuka Promosi Doktor yang di gelar di Aula Utama Gd Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Jln. Soekarno-Hatta, Selasa, 25/07/2018.

    Lelaki suami dari Masitoh, S.Ag ini, telah berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul, :         AGAMA SEBAGAI SUMBER KONFLIK” ( Studi kasus protes umat Islam Bekasi Terhadap  Keputusan Pemerintah Daerah Tentang Persetujuan Izin Gereja Santra Clara 2015- 2017)

    Dihadapan promotor dan tim penguji yakni:  Prof.Dr.Dadang Kahmad, M.Si, Prof.Dr.Afif Muhammad, MA, Prof.Dr. Asep Saepul Muhtadi,MA, Prof.Dr.I.Sugiharto,Dr.H.Adeng Muchtar Ghazali, MA, dan Prof.Dr.Agus  Salim Mansur,M.Pd., Dr.Deden Effendi ,M.Ag dan Prof.Dr.Mukhtar Solihin, M.Ag.

    Pria Kelahiran 1970 ini, sanggup dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan tim penguji. Bahkan dengan lihai dan argumentatif bisa mementahkan, meyakinkan, sekaligus menjelaskan secara detail, semua sanggahan yang di ajukan tim penguji.

    Dalam pemaparan dan kesimpulannya Ilim Abdul Halim menjelaskan bahwa aksi protes ummat Islam Bekasi yang tergabung dalam MSUB  terhadap keputusan pemerintah daerah tentang persetujuan  izin pendirian Gereja  Santa Clara merupkan suatu ekspresi keberagaman yang menunjukan konflik sosial keberagaman” Dengan kata lain agama menjadi sumber konflik,karena ekspresi keberagaman dari penganut agama berorientasi pada perbedaan, pertentangan dan perjuangan.

     Selanjutnya, penulis memaparkan temuannya  sesuai rumusan masalah ada tiga jawaban, Pertama, Islam dimaknai sebagai identitas sosial budaya yang dihubungkan dengan wilayah pemikiran keberagaman yang bercorak eksklusif diekpresikan umat Islam Bekasi untuk melegitimasi tindakan protes dan menentang keputusan pemerintah daerah tentang persetujuan IMB Gereja Santa Clara, Kedua, ritual keagamaan berkontribusi dalam protes sebagai media protes.Beberapa ritual kolektif berkontribusi dalam protes sebagai media komunikasi politik, solidaritas dan mobilisasi masa. Ketiga, peran pemimpin agama sebagai legitimasi  protes dan kotrol sosial terhadap keputusan pemerintah daerah. Penulispun mengungkapkan bahwa aksi protes umat Islam Bekasi tidak mencapai tujuan yang diharapkan karena  sistem hukum dan struktural, dan  keputusan pemerintah daerah tetap tidak mencabut IMB dan pembangunan jalan terus, karena pemerintah punya rekomendasi FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) sebagai bukti dan dasar hukum. Umat Islam Bekasi pun tidak mengajukan gugatan kepengadilan karena sudah memperediksi pihaknya akan kalah. Dan gerejapun tetap berdiri kokoh tanpa dirusak oleh umat Islam Bekasi karena perbuatan itu sebagai bentuk anarkis yang melawan hukum.

    Penulis menguraikan implikasi teori dari penelitiannya mendukung atau mengembangkan teori konflik sosial keberagaman dari Mc Guire dan teori ekspresi keberagaman Moris dan Joachim Wach, Teori peran agama menurut Brian S Turner.pemikiran keberagaman, ritual dan peran pemimpin komunitas agama dapat menjadi pemicu sumber konflik soaial agama, jika ekspresi keberagaman itu difungsikan  untuk melegitimasi perbedaan dan pertentangan. Penulispun mengkritik teori positivisme, alienasi- materialisme dan humanisme.  Dengan mengatakan Agama masih berperan dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi –kosmopolitan, dan peran  agama tidak bisa digantikan oleh sain sosial  seperti yang dilontarkan pemikiran positivisme. Agama pun tidak mejadikan individu individu terasing atau beraksi seperti yang dituduhkan Mark, tetapi agama memotivasi individu untuk melakukan protes, Agamapun tidak menunjukan bahaya atau lebih bahaya dari pada Opium seperti yang dikritik Wilson, tetapi Agama menunjukan sikap toleransi dalam partisipsi politik kepada pemeluknya . Kondisi ini dibuktikan dengan tidak ada tindakan anarkis dengan pembakaran atau perusakan gereja karena etika protes dan kotrol moral sosial politik masih di pegang kuat.

    Lebih jauh penulis mengungkapkan, implikasi sosial akan terus terjadi terhadap kasus serupa, jika keputusan pemerintah tidak adil dan  merugikan mayoritas serta terkesan mendengar aspirasi minoritas dengan tanpa melihat dari berbagi aspek sudut pandang sosial, politik agama dan budaya.

    Penulis menyarankan agar ada penelitian lanjutan untuk mengkaji umat Islam Bekasi dengan pendekatan teori kelas dan teori struktur sosial lainnya guna memahami faktor faktor eksternal.*** (harry gibrant)

    Comments

    Nama  
    Email  
    Komentar  
    Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin
  • web design by javwebnet