• Islam Jadi Motivasi Berdirinya Sebuah Negara

  • Berita  
  • 0 comments
  •  Bandung, Ekpos.com

    Akhir Desember 2018, merupakan momen penting dan bersejarah bagi perjalanan karir akademis seorang Mulyana, Betapa tidak, berkat kerja keras, tekun, ulet dan istiqomah, Lelaki kelahiran Cikelet Garut ini, telah mengukir dengan tinta emas dalam hidupnya, meraih gelar Doktor Filsafat Agama, Disertasi “  AGAMA DAN NEGARA” (Studi Theologi Filosofis Kekuasaan Negara dalam Yahudi dan Islam) dengan IPK 3,65 Yudicium sangat memuaskan dalam sidang terbuka promosi doktor yang digelar di Auditorium utama, lt.2  Gedung Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Jalan Soekarno-Hatta, Senin, 31 Desember 2018. 

    Dihadapan promotor dan tim penguji yakni:  Prof.Dr.Dadang Kahmad, M.Si, Prof.Dr.Afif Muhammad,MA, Dr.H.Adeng Muchtar Ghazali,M.Ag, Prof.Dr.Agus  Salim Mansur,M.Pd. Dr,Munir dan Dr. Yusuf Wibisono

    Pria Jebolan S1 Mesir , sanggup dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan tim penguji. Bahkan dengan lihai dan argumentatif bisa mementahkan, meyakinkan, sekaligus menjelaskan secara detail, semua sanggahan yang di ajukan tim penguji.

    Lelaki yang menjabat Wadek 1 Fakultas Ushuluddin UIN Bandung ini  memaparkan temuaannya, bahwa berdirinya negara Israel sebagai negara untuk Bani Israel atau untuk orang yahudi berdasarkan argumen  perjanjian lama.  Deklarasi Balfour tahun 1917 dan rekomendasi PBB 1947, Peneliti menemukan dalam kitab perjanjian lama menyebutkan sangat fundamental tentang janji Tuhan, manusia pilihan dan sepuluh perintah Tuhan, disisi lain peneliti singkap pula  pengalaman Yahudi awal pernah memiliki negara berbasis agama dengan rentang wahyu yang sangat panjang dan silih berganti. Sedangkan dalam islam, terdapat peluang untuk mendirikan negara berdasarkan wahyu illahi, yang pernah dipraktekan oleh Muhammad SAW di Madinah dan sahabat Khulafaurrosidin.

    Dijelasakan bahwa kaitan antara agama dan kekuasaan, tampak nya agama sangat dominan memberikan peran dalam pembentukannya, paling tidak sebagai spirit awal bagi terbentuknya sebuah kekuasaan atau negara. Agama bukan hanya untuk komunikasi dengan Tuhan saja,  atau yang beranggapan agama tidak ada hubungan dengan kekuasaaan, Justru agama berjasa dan berperan menyatukan umat manusia, sehingga manusia mempunyai negara. Lebih jauh diuaraikan peneliti, pemahaman sebagian besar umat islam “ Islam tak terpisahkan dengan negara, ibadah dan jihad” intinya, Islam yang mengatur tatanan kehidupan manusia di berbagi dimensi kehidupannya. Dan yang paling penting lagi agama tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara mesjid dan negara, Islam membicarakan seluruh aspek kehidupan manusia. Semangat umat islam untuk membangun kekuasaan berdasarkan wahyu Tuhan sebuah alasan rasional dan theologis. Mengartikulasikan kekuasaan negara dalam dunia islam walau sumber politik kekuasan negara menjadi harga mati bagi umat islam, diskursus spanjang sejarah tentang kiprah islam dalam politik kekuasaan negara terus bergulir sehingga memunculkan pandangan yang berbeda, “Islam dalam sorotan” intinya, para ulama memiliki tafsiran yang berbeda tentang islam dan kekuasaan negara. Dengan kata lain Al Quran tidak memberikan pola teori kenegaraan yang baku yang harus di ikuti umat islam di berbagi negeri.

    Di paparkan lagi, berdirinya negara Yahudi modern terinspirasi dan termotivasi ulang oleh semangat agama dan bangsa yakni panggilan Tuhan, semangat agama, kaum bani israil yang harus pulang kampung (law of return) ke tanah suci Yerusalem. Dalam pandangan Yahudi berdirinya negara israel merupakan janji Tuhan  dalam perjanjian lama. Dari keyakinan ini memunculkan ideologi Zionisme yang harus menguasai tanah yang di janjikan Tuhan dalam perjanjian lama. Negara israel berdiri awal mula karena ada kesamaan penderitaan dan identitas  kelompok kelompok. Sedangkan Yahudi modern  bukan saja berdasarkan interpretasi ajaran agama,tidak lagi sebagai perwujudan dari perintah tuhan. Akan tetapi negara yahudi modern membangun kekuasan negara berdasarkan  protokol yahudi yang didalangi oleh zionisme yahudi internasional, jadi teori theokrasi yang dibalut  demokrasi  dengan menggunakan teori kontrak sosial dan trias politika, Yerusallem merupakan bagian dari konspirasi yahudi internasional dan komoditas politik internasional.

     Di ungkapkan peneliti, konsep agama dan negara dalam Islam terdapat argumen rasional yang dipegang dan disepakti oleh para ulama  mayoritas, islam mendorong untuk berusaha, memelihara akal, harta dan keturunan, tidak terpelihara secara utuh dan selamat jika tidak  negara dan kekuasaan pemimpim.  Sedangkan agama dan kekuasaan  dalam Yahudi  berdiri atas dorongan kesamaan identitas kelompok kelompok,  yang di ikat oleh ajaran kesamaan agama. Akan tetapi dalam Islam negara di perjuangkan dengan semangat Jihad seperti hal nya yang sudah diperaktekan oleh Rosullulloh  di Madinah. Jadi idiologi dan patriotisme tumbuh dan berkembang dibakar oleh semangat agama.(harry)

     

    Comments

    Nama  
    Email  
    Komentar  
    Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin
  • web design by javwebnet