• Putra Terbaik Dari Kabupaten Demak, Dr. Ir. Ali Zum Mashar, MA, MSi, Pelopor Revolusi Pertanian di Pedalaman Papua

  • Berita  
  • 539 view  
  • 0 comments
  • Jakarta, BEDAnews.com

    KALA kecil, seusai pulang sekolah di SDN Bakung, Demak, Jawa Tengah, Ali Zum Mashar, kerap bermain bersama teman-teman sebayanya di pematang sawah. Ali kecil merasa senang bila berada di tengah-tengah hamparan menguning padi di sawah. Namun di balik keriangannya itu, tersimpan rasa prihatin bila ia melihat kehidupan sosial para petani di desanya. “Petani di desa saya rata-rata miskin, sehari-hari hidupnya susah,” kata Ali Zum Mashar yang lahir dan dibesarkan dari keluarga pesantren di Demak.

    Semasih duduk di bangku SMPN 1 Mijen, pria kelahiran 19 Mei 1972 ini, bertekad ingin melanjutkan studi di SMAN 1 Kudus, yang merupakan sekolah favorit ketika itu. Ali Zum Mashar berhasil mewujudkan tekadnya. Menjadi Ketua Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di SMA itu, ia mulai banyak menekuni karya-karya ilmiah.  “Saya juga sering membuat tulisan dan karya-karya ilmiah remaja,” cerita Ali Zum Mashar.

    Kecintaannya terhadap  sektor pertanian, menghantarkan pria kalem ini mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Jawa Tengah, tahun 1991. Ali Zum Mashar pun semakin menggenjot kegemarannya menulis karya-karya ilmiah, selain aktif mengikuti berbagai kriteria lomba. Dia pun aktif di berbagai organisasi, seperti organisasi keagamaan, profesi, dan menjadi Ketua Pelaksana Harian Senat Mahasiswa Universitas di kampusnya.

    “Seangkatan saya di kampus, mungkin saya yang sering menulis karya ilmiah dan mengikuti berbagai macam lomba,” tutur Ali Zum Mashar yang pernah menggondol penghargaan Mahasiswa Berprestasi Utama Faperta dan Teladan Unsoed tahun 1995, Juara LP2P4 Unsoed dan Jateng tahun 1994, Juara I MTQ Onsed, Juara I Lomba Penelitian Inovasi IPTEK Terapan di Semarang tahun 1997, Pemilihan Peneliti Muda Indonesia Tahun 1997 oleh LIPI, Rancang Bangun Teknologi di Hari Kebangkitan IPTEK, dan penghargaan lainnya.

    Sebelum melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), pada tahun 1997, Ali Zum Mashar lebih dulu melakukan penelitian pemberdayaan lahan gambut 1 juta hektar di Kalimantan Tengah yang digalakkan Depnakertrans. Dalam program itu, pihak Depnakertras mendaulat Ali Zum Mashar sebagai Ketua Unit Pemukiman Transmigrasi (KUPT).

    “Selain membina masyarakat transmigrasi, saya juga melakukan penelitian secara mandiri. Ketika bereksperimen, saya menemukan mikroba yang bisa menetralkan kandungan asam  di tanah gambut pada PLG Kapuas, pasir kuarsa tangkiling, dan bekas tambang emas di Kerengpangi, Kalimantan Tengah, sehingga bisa ditanami padi, kedelai, jagung,  dan sayuran,” kenangnya.

    Ali Zum Mashar merasa haru sekaligus bangga dengan hasil eksperimennya, karena dapat memecahkan permasalahan para transmigran yang sebelumnya bingung mengelola lahan gambut itu. Ia pun semakin mendalami ‘mahluk’ mikroba yang bisa dijadikan pupuk penyubur tanaman hasil temuannya itu.

    Meyakini mikroba ini bisa dijadikan pupuk penyubur tanaman, Ali Zum Mashar kemudian menelitinya di laboratorium Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong dan di laboratorium Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitiannya, mikroba dari bahan hayati, baik mikroorganisme flora maupun fauna ini memiliki khasiat mampu menyuburkan tanah ekstrem dan tanaman.

    Pada tahun 2000, Ali Zum Mashar mematenkan mikroba temuannya itu dengan nama: Bioperforasi  Pupuk 2000 Zum, yang disingkat Bio P 2000 Z. “Kata bioperforasi itu artinya membuka celah kehidupan. Jadi, jika ada kesulitan, dan kita menemukan celah, kita bisa membuka lepas kesulitan itu. Huruf ‘P’ singkatan dari pupuk, sedangkan angka 2000, tahun mikroba itu saya patenkan. Kemudian huruf ‘Z’ diambil dari nama saya, yaitu Zum,” jelasnya.

    Dalam perjalanan pengembangan penelitian selanjutnya, ternyata mikroba yang sudah dikemas dalam bentuk cairan (Bio P 2000 Z) ini tak hanya menyuburkan tanah dan tanaman, tapi mampu meningkatkan produktivitas hasil tanaman, dan manfaat lainnya.

    Selanjutnya, di tahun 2004, Ali Zum Mashar melengkapi mikroba temuannya itu menjadi Mikroba Google Bio P 2000 Z. “Setelah saya dalami, ternyata unsur-unsur dari mikroba itu memiliki sifat-sifat seperti mesin google. Dia mampu mencari, menemukan dan meramu unsur menjadi kaya seimbang melengkapi kekurangan yang dibutuhkan tanah dan tanaman, sehingga menjadi lebih bermanfaat,” tuturnya.

    Berkat mikroba yang memiliki multi fungsi untuk tanaman, dan belakangan bisa digunakan untuk obat kesehatan ternak, Ali Zum Mashar diberikan Anugerah Kalyanakretya Utama bidang Pertanian dan Agroindustri Kemenristek oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di tahun 2004.

    Tak hanya di Indonesia, nama pria yang mengenyam S3 program studi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan di IPB tahun 2009 ini, sampai harum di lingkungan Pemerintah Uni Emirat Arab.  Ihwalnya, Ali Zum Mashar diminta Pemerintah Uni Emirat Arab untuk menyuburkan gurun pasir di Dubai dengan menggunakan Mikroba Google Bio P 2000 Z. Lagi-lagi, dia sukses menyulap lahan gurun itu menjadi lahan padi yang subur.

    Maka, wajar jika mikroba google ini akhirnya mendapat empat lisensi paten dari WIPO, sebuah lembaga paten yang berdomisili di Swedia. Mikroba Google Bio P 2000 Z yang sekarang dipasarkan oleh PT Nusa Berkat Alam sebagai fabrikator induk pun sudah menembus pasar dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Australia, China, Vietnam, dan negara lainnya.

    Kesuksesan yang raih Ali Zum Mashar tak menjadikan dirinya lupa akan nasib saudara-saudara sebangsanya di Tanah Air yang  mengalami kesulitan mengelola lahan pertaniannya. Seperti yang dilakukan Ali Zum Mashar saat ini, ia mencurahkan tenaga dan pikirannya membantu masyarakat pedalaman di Kampung Usku dan Molof, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

    Ali Zum Mashar, yang saat ini menjabat CEO PT Kuzu International dan Sekjen Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA), merasa prihatin dengan kehidupan masyarakat di Kampung Usku. Peradaban kehidupan masih terbelakang, mencari makanan di dalam hutan, dan anak-anak balitanya mengalami gizi buruk. Penggerak Socio Technopreneur yang juga peneliti dari Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi ini, menuturkan petualangannya di daerah perbatasan Indonesia tersebut.

     

    Nama Anda terbilang sudah besar, tapi masih menaruh peduli dengan kehidupan masyarakat pedalaman di Indonesia. Apa yang menjadi concern Anda?

    Saya concern untuk peningkatan kapasitas sosial masyarakat dalam rangka ikut membangun masyarakat pedesaan yang sejahtera. Menurut saya, kelemahan di pedesaan, pertama, kurangnya entrepreneur yang berpendidikan dan berpengalaman. Kedua, walapun sumber daya alam di desa itu melimpah, tetapi sistem manajemennya sangat rendah. Karena mereka tidak melihat secara luas. Misalnya kurang memperhatikan sisi pasar, mutu dan keberlanjutan produksi dalam pengelolaan potensi-potensi yang ada di desa itu. Tidak ada pendampingan yang massif dan intensif untuk menerakkan kreativitas  dan inovasi di desa.

     

    Tak hanya di desa atau tingkat provinsi sekalipun, secara nasional, entrepreneur di Indonesia jumlahnya juga masih sedikit. Mestinya, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 260-an juta, jika perekonomiannya ingin berjalan dengan baik, artinya terjadi pemerataan kesejahteraan, minimal membutuhkan 2 persen entrepreneur. Sementara entrepreneur di Indonesia saat ini tidak mencapai 1 persen.  Jadi, harus digenjot lagi dalam membangun kesadaran masyarakat untuk berwirausaha.

     

    Anda lebih menekuni Socio Technopreneur. Bagaimana Anda “menularkan” bidang itu ke masyarakat Indonesia, setidaknya untuk tahap awal menjadi sociopreneurship?

    Menurut saya, membangun sociopreneurship, menjadi yang utama. Karena, jika kita ingin membantu jiwa entrepreneur tanpa adanya gerakan minat masyarakat, berjalannya akan lambat, sehingga entrepreneur hanya berjalan di kalangan atas saja. Kalangan menengah ke bawah tidak akan tersentuh pola pikir dan pandangan untuk menjadi entrepreneur yang sukses.

    Saya baru saja menemukan metode untuk percepatan perubahan peradaban, revolusi peradaban, atau perubahan mindset skala massal. Intervensi dengan metode ini sedang saya aplikasikan pada masyarakat, saudara-saudara kita di daerah pedalaman Papua. Metode ini sekaligus untuk menjawab pendapat pihak lain yang mengatakan bahwa daerah-daerah pedalaman di Papua bisa mengejar ketertinggalannya atau ingin mensejajarkan kondisinya dengan masyarakat pedesaan di Jawa, membutuhkan waktu 75 sampai 100 tahun. Menurut saya, asumsi itu merupakan pandangan lama yang salah. Melalui metode yang kami temukan dan sudah diuji, waktunya tidak perlu sampai 75 tahun, cukup membutuhkan waktu 3 sampai 7 tahun.

     

    Bisa secepat itu?

    Jika kita lihat masyarakat Papua, saya mengambil contoh di kampung yang ekstrem sekali, yaitu di Kampung Usku dan Molof, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kampung itu merupakan daerah perbatasan dan daerah pinggiran di Indonesia. Perdasarkan pengamatan saya, program pembangunan kapasitas sosial ekonomi  pemerintah belum menyentuh daerah ini. Paling yang disentuh sebatas pembangunan infrastruktur, dan belum pada level pembangunan peradaban masyarakatnya.

     

    Panen padi di pedalaman Papua

    Masyarakat di Kampung Usku merupakan masyarakat pemburu nomaden, yang melakukan aktivitas berburu dan meramu di hutan untuk makan. Pemerintah memang sudah memberikan perhatian kepada masyarakat di kampung ini, seperti pembangunan rumah dan infrastruktur jalan. Hal ini dalam rangka mengimplementasikan Program Nawacita, yaitu membangun dari daerah pinggiran. Tetapi apa yang terjadi? Rumah yang dibangun oleh pemerintah tidak mau mereka tempati.

    Mereka berfikiran, untuk apa tinggal di rumah yang bagus, tapi perutnya lapar, dan tidak ada makanan. Untuk merubah peradaban masyarakat seperti itu, agar mau hidup dan tinggal secara subsisten, butuh waktu sekitar 30 tahunan. Belum termasuk hidup subsisten secara budidaya agriculture, untuk memenuhui segala kebutuhannya dari alam hingga tahap menjualnya. Tapi, jika dibiarkan secara alami (nomaden), pola peradabannya baru bisa berkembang selama 75 sampai 100 tahun.

    Tetapi, melalui metode yang kami terapkan dan telah diuji oleh Badan Litbang Kementerian Desa, hanya butuh waktu 3 sampai 7 tahun. Sekarang saja, dalam jangka waktu tiga bulan, mereka sudah mau berubah, dari pola hidup berpindah-pindah mencari makanan, menjadi menetap dengan cara budidaya berbagai macam tanaman. Bahkan mereka mau menanam tanaman yang semula mereka tidak dikenalnya.

     

    Bagaimana Anda bisa merubah pola kebiasaan hidup masyarakat di Kampung Usku dan Molof itu?

    Harus diberikan metode “intervensi” membuka kesadaran kolektif ketika memberikan pemahaman secara komprehensif terhadap adat dan budaya.  Kami terlebih dulu masuk dalam kehidupan adat mereka, kemudian memberikan pemahaman agar adat mereka menjadi pendukung produktif. Kami juga memberikan intervensi pendampingan kepada mereka. Pendampingan ini dilakukan dengan hati yang tulus. Kami juga melakukan intervensi teknik skill baru dari stimulan alat peraga kepada mereka dalam bercocok tanam.

    Metode kegiatan itu kami lakukan secara berulang-ulang bersama sama. Jika mereka sudah melakukan dua, tiga, atau empat kali, akhirnya mereka sudah bisa melakukan sendiri. Meskipun kita tahu, saudara-saudara kita di sana mayoritas buta baca tulis dan berhitung. Tapi masyarakat di sana menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, tak melulu menggunakan bahasa lokal Papua.

    Ketertinggalan itulah yang harus bisa bangun, sehingga dalam waktu 3 tahun akan memunculkan kader-kader pembangunan dari kampung tersebut. Jika mereka sudah mau hidup bersama dalam suatu kelompok, otomatis jika kita berikan pembinaan atau intervensi di bidang pendidikan, bidang kehidupan sosial yang lebih maju, lebih mudah dibandingkan kita membiarkan mereka tinggal di hutan-hutan secara nomaden dan soliter.  Ibaratnya, jika kita memberikan pemahaman kepada satu atau dua orang warga di kampung itu, energinya terlalu besar.

     

    Pendekatan lain agar mereka merubah pola kehidupan dari nomaden menjadi subsisten?

    Kuncinya kita membuat suatu kegiatan dengan memanfaatkan halaman-halaman rumah mereka yang dibangun oleh pemerintah. Salah satu kegiatannya, setiap kepala rumah tangga memiliki kebun gizi keluarga. Jadi, kami melatih kegiatan budidaya tanaman kepada warga di kampung itu. Caranya, dengan melakukanpengenalan potensi-potensi alam yang ada di hutan kemudian dibudidayakan di masing-masing halaman rumah warga.

    Hasil panen dari usaha menanam ini, minimal untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka sehari-hari. Bayangkan, jika mereka mencari makanan dan meramu dari dalam hutan, kadang dapat buruan atau makanan, kadang tidak. Sementara anak-anak mereka harus tetap mendapatkan makanan. Dengan metode budidaya yang kami terapkan ini, anak-anak itu tetap mendapatkan kebutuhan pangan, begitupula dengan orangtuanya. Khusus bagi ibu-ibu yang masih menyusui, mereka dapat memberikan ASI yang baik kepada bayinya.

    Manfaat lain dari metode yang kami terapkan ini, mereka bisa lepas dari permasalahan gizi buruk, serta lepas dari ancaman bahaya mencari makanan dan berburu di hutan dari binatang-binatang buas.

     

    Kegiatan yang Anda lakukan di pedalaman Papua ini atas nama pribadi atau lembaga?

    Kebetulan saya sebagai peneliti di bidang Bioteknologi di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kami sedang membuat metode desa sangat teringgal menjadi desa mandiri dalam jangka 3 sampai 7 tahun. Selain itu, pengalaman saya sebagai seorang technopreneur dapat saya terapkan inovasi baru dalam hal pemberdayaan hingga tahap kegiatan industrialisasi kepada masyarakat di Kampung Usku.

     

    Dari hasil kajian dan penerapan metode ini, langkah apakah yang akan ditempuh Kementerian Desa? 

    Metode ini baru kali pertama dilakukan di Indonesia, khususnya dalam merubah peradaban masyarakat pedalaman papua yang sangat ekstrem. Artinya merubah peradaban dari yang semua sangat tertinggal menjadi berkembang dari 100 tahun menjadi 7 tahun atau 3 tahun. 

    Dari hasil penerapan metode ini, akan kami jadikan masukan ke pihak Kementerian Desa bahwa untuk membangun desa yang selama ini dilakukan dengan pendekatan infrastruktur semata, itu tidak benar. Kenapa? Yang terjadi hanyalah “proyek”. Kita contohkan yang terjadi di Papua, infrastruktur dibuat dengan baik, serta ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tapi para kepala suku di sana mengatakan, mereka tidak merasakan kesejahteraan dana Otsus tersebut. Mereka bahkan mengatakan dana Otsus itu manfaatnya tidak sampai mensejahterakan masyarakat adat.  Alasannya, karena yang melintas di jalan raya itu adalah orang yang memiliki kendaraan, sementara mereka masih berjalan kaki. Kemudian, yang menikmati sekolah itu adalah yang ada gurunya, sementara di tempat mereka banyak tidak ada gurunya. Mereka mengaku tetap kesulitan mencari bahan makanan. 

    Karena itu yang perlu disentuh adalah, bagaimana kegiatan itu menyetuh pemenuhan kebutuhan paling dasar setiap rumah tangga yang ada dalam kelompok masyarakat itu. Bukan hanya kebutuhan fisik yang nampak di permukaan saja. Jadi, kegiatan pemberdayaan desa atau membangun kampung itu adalah membangun dengan intervensi yang menyentuh pada gerakan penyadaran secara produktif dan menyentuh kebutuhan dasar setiap rumah tangga, yaitu kebutuhan pangan, pendidikan dan kesehatan.

     

    Bagaimana sikap penduduk asli ketika kali pertama Anda hadir di Kampung Usku? 

    Ketika kami baru masuk ke Kampung  Usku, yang memiliki peradaban nomaden, tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kesabaran. Sebagai orang asing, kami sangat dicurigai. Apalagi setelah mendengar rasa traumatis dari para warga yang sering dijanji-janjikan oleh pemerintah. Mereka bertanya kepada kami,” Kau datang mau tipu-tipu kami lagi ya?” Mereka sudah apatis. 

    Dengan kesabaran dan sentuhan hati, kita melakukan pendekatan dengan bukti. Kami mengajak melakukan kegiatan partisipasi secara bersama-sama, dan hasilnya bisa langsung dilihat, bukan hanya janji-janji. Inilah salah satu kegiatan di level paling bawah, namanya sociopreneurship. Kita membangun prakarsa, membangun ide-ide berwirausaha bersama-sama dengan masyarakat setempat. Sehingga terjadilah gotong royong untuk memecahkan persoalan dasar mereka. Mereka dapat pelatihan di kota tapi sekembali ke kampung tidak satupun bisa dilaksanakan, tidak bisa dipahami. 

    Sekarang di Kampung Usku sudah berjalan kegiatan budidaya tanaman, sudah dibangun tempat usaha seperti warung sembako, warung tani, Pasar Mama di depan rumah dan Badan Usaha Milik Kampung. Bahkan, Badan Usaha Milik Kampung itu yang pertama di Papua dibangun di Kampung Usku yang notabene daerah sangat tertinggal di Papua. Tak hanya itu, di sana juga sudah dibentuk usaha penangkaran rusa, dan kegiatan usaha produktif  lainnya. 

    Artinya, jika ada kegiatan positif dan manfaat yang bisa dirasakan langsung, kepala suku adat yang ada di kampung itu akan bergabung, mereka bersedia mendukung kegiatan itu. Sehingga terciptalah gerakan ekonomi produktif. Termasuk juga bagaimana mengelola sektor lainnya, misalnya pengelolaan kayu dan  pertambangan. 

    Jadi selama ini mereka mengalami “kebutaan” terhadap informasi dan pengelolaan manajemen berwirausaha. Kondisi inilah yang mengakibatkan mereka sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain, yang hanya mencari keuntungan semata dari sektor sumber daya alam yang ada di daerah itu. Termasuk dimanfaatkan pihak provokator yang senang mengadu domba. Karena, informasi yang menyampaikan kebenaran tidak sampai ke mereka. 

    Waktu itu, dari pemerintahan pun tidak banyak memberikan pembinaan langsung kepada masyarakat pedalaman di Kampung Usku. Karena pemerintah masih sebatas struktural birokrasi dari kabupaten ke tingkat kecamatan. Lalu, bagaimana dengan adat dan kebiasaan masyarakat kampung yang sesungguhnya? Jawabnya, tidak banyak tersentuh. Sentuhan produktif yang kami berikan pada masyarakat pedalaman di Kampung Usku ini, yang penting muncul dulu kesadaran pada orang tua maupun anak muda dan mama-mama. 

     

    Untuk mendapatkan peningkatkan produktivitas hasil pertanian membutuhkan bibit berkualitas, pupuk, alsintan, dan sarana produksi lainnya. Bagaimana petani di daerah pedalaman ini bisa mendapatkan semua kebutuhan dalam melakukan usaha taninya itu? 

    Kami melakukannya secara gotong royong dengan mengaktifkan atau memberdayakan sumber daya alam yang ada di sekitar mereka. Misalnya begini, jika ingin mendapatkan hasil tanaman dengan produktivitas tinggi, diperlukan pupuk. Petani di Papua, jangan berharap pupuk bersubsidi bisa didapatkan. Di tingkat kecamatan saja tidak ada. Maka kita secara bersama-sama memanfaatkan anugerah alam itu sendiri. Misalkan warga di sana ada yang beternak babi atau hewan ternak lainnya, kita arahkan hewan ternak itu dikumpulkan dalam satu tempat. 

    Kotoran ternak itu kita tampung, kita berikan “mikroba google” dalam jumlah sedikit, namun bisa menghasilkan pupuk organik dalam jumlah banyak. Kita juga memberikan bimbingan pola bercocok tanam yang baik. Misalnya, semula warga di sana bercocok tanam di hutan dengan mengandalkan tenaga, menanam secara acak atau tidak beraturan, tidak memperhatikan kondisi tanah dan posisi tanah, kita berikan pengetahun bercocok tanam yang baik untuk mendapatkan proktivitas tanaman yang tinggi. 

    Petani di daerah terbelakang itu tidak bisa membaca SOP (Standar Operasional Prosedur) bercocok tanam yang benar. Karena SOP mereka adalah, apa yang mereka lihat dan lakukan dan lalu mereka tiru. Untuk menerapkan SOP itu dengan contoh, kami mempraktekkannya secara bersama-sama. Saya yakin, jika mereka mengingat, melihatdan melakukan  langsung, akan bisa mempraktikkannya. Kemudian, pola bercocok tanam yang baik itu dilakukan secara berulang-ulang, akhirnya kegiatan itu menjadi kebiasaan dan tata cara mereka dalam bertani. 

    Khusus pembinaan di Kampung Usku ini, kami ingin warga di sana tidak hanya melakukan budidaya tanaman untuk kebutuhan sehari-hari, tapi ke depan bisa dibangun village enterprise, seperti perusahaan pedesaan. Jadi, mereka mengelola usaha-usaha hasil alam di pedesaan seperti perusahaan. 

    Memang pengelolaan usaha-usaha itu dilakukan oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMDES). Tapi, sepengetahuan saya, pelaksanaannya masih jauh yang diharapkan. Karena lemahnya pembinaan, lemahnya pengalaman entrepreneur di desa, dan lemahnya pendampingan. 

    Suatu kegiatan usaha di desa itu akan cepat berkembang, bila diberikan pendampingan secara massif. Para pendamping itu harus memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

     

    Sudah ada pasar lain yang siap menampung komoditi yang dihasilkan dari petani di Kampung Usku?

    Semua dilakukan secara bertahap. Tahap awal kita bangun pondasi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berikutnya kita sampaikan juga bahwa kelebihan dari produksi usaha tani mereka, kita bantu menghubungkan salurkan ke komunitas kota. Menjadi kampung wisata petik sayur organik di halaman rumah. Kemudian orang-orang yang bekerja di perusahaan kayu, perusahaan tambang, memasok kebutuhan sayur mayur ke pasar atau komoditi pangan lainnya dari masyarakat petani setempat. Dengan demikian, petani itu mendapatkan pendapatan.

     

    Program sociopreneurship ini sudah berjalan di Kampung Usku. Bagaimana menjaga kesinambungan kegiatan usaha ini? 

    Program ini harus kita internalisasi. Setelah mereka punya jiwa semangat untuk maju dan berubah, maka harus kita koordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk dengan Pemda setempat. Sehingga, dari program-program yang telah diberikan sebelumnya, namun tidak direspon oleh masyarakat pedalaman itu, setelah kami berikan metode sociopreneurship dan diterima oleh mereka, maka pihak-pihak terkait, termasuk Pemda setempat segera memberikan stimulan yang tentunya stimulan yang produktif sesuai dengan permintaan dan kebutuhan masyarakat tersebut. Bukan bantuan stimulan alat atau subsidi yang menurut pemikiran birokrasi atas kadang tidak dibutuhkan oleh masyarakat dan tidak cocok dengan kondisi setempat. 

    Nah, metode yang kami terapkan ini ternyata dibutuhkan oleh masyarakat pedalaman itu, kemudian kita tingkatkan menjadi kegiatan yang lebih produktif. Contohnya, mereka sudah bisa menanam kedelai. Kita buat juga program agribisnis pedesaan, di mana bahan dari kedelai itu nanti bisa diolah menjadi tempe, tahu, dan susu kedelai. Jika warga belum bisa membuat berbagai olahan kedelai, kita berikan pelatihannya. 

    Jadi, yang selama ini kedelai itu disajikan dalam bentuk kedelai rebus saja, dikembangkan dengan program agribisnis. Contoh lain komoditi pisang yang mereka cari di hutan, semula hanya langsung simakan dengan cara dibakar. Kita berikan intervensi bagaimana pisang itu bisa awet sebagai bahan cadangan ketika sedang tidak ada makanan. Mereka kita ajak budidaya penanaman pisang, selain untuk dikonsumsi sehari-hari, kita latih pula membuat salai pisang dan tepung pisang. Tepung dari pisang ini bisa dibuat bubur untuk makanan para balita. 

    Inilah agroindustri sederhana yang kami lakukan di desa, dan saya yakin akan membuat warga di kampung itu menjadi mandiri. Tidak hanya sekadar pendekatan pemberian alat, tapi mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya. Kami berikan pula pelatihan dan menggunakan alat-alat itu.

     

    Anda mengatakan metode ini bisa juga diaplikasikan dalam pengelolaan sektor pertambangan. Bagaimana polanya? 

    Dengan dibuatnya Badan Usaha Milik Kampung, kami mendorong agar kepemilikan saham tambang itu dikelola bersama-sama masyarakat di kampung tersebut. Karena, jika tambang itu dikelola secara pribadi, yang terjadi adalah perusakan lingkungan. Bahkan sering terjadi masyarakat setempat dibodoh-bodohi orang-orang dari luar kampung tersebut. 

    Jika sektor pertambangan itu dikelola bersama-sama oleh Badan Usaha Milik Kampung, nilai tambahnya jauh lebih bermanfaat. Karena itu, intervensi pada manajemen dan pengelolaan Badan Usaha Milik Kampung ini, secara terus menerus diberikan. Tahap awal, bisa diberikan pendamping pengelola dari luar untuk menjadi penggerak atau memenej Badan Usaha Milik Kampung itu, sambil meminta anak muda atau kader muda dari masyarakat untuk mendampingi. 

    Nanti, dalam waktu 3 tahun, pengelolaan Badan Usaha Milik Kampung itu harus dilepas, dan dikelola oleh kader-kader muda di kampung itu. Nantinya, mereka bisa bargaining dengan pendatang dari luar bila ingin menjalin kerja sama di bidang pengelolaan sumber daya alam di kampung itu. Badan Usaha Milik Kampung ini juga bertanggung jawab atas penyediaan kebutuhan pangan masyarakat setempat.

     

    Selain di daerah pedalaman Papua, adakah daerah lain yang sudah menerapkan metode ini, dan bagaimana hasilnya? 

    Sudah banyak contoh pembinaan yang kami lakukan kepada masyarakat dari daerah lain. Pembinaan yang kami berikan kepada warga di daerah pedalaman Papua ini, karena kami tersentuh dengan tantangan penerapan Nawacita, yaitu membangun dari daerah terbelakang, terpinggir, dan terpencil. Karena saya memiliki jiwa peneliti, saya tidak takut untuk merealisasikan tantangan itu. 

    Sebelumnya, kami sudah merealisasikan socio technopreneur dalam skala lebih besar, seperti di dataran tinggi Toba, Labuboti, Balige, dan Sipahutar. Metode yang kami lakukan ini berhasil. Semula masyarakat di sana tidak mengetahui cara meningkatkan produksi jagung.  Semula petani di sana hanya menghasilkan 2 ton jagung per hektar. Setelah kita aplikasikan metode budidaya menanam jagung dan belajar berwirausaha secara bersama-sama, produksi jagung mereka meningkat, dari 2 ton menjadi 9 ton per hektar. 

    Kami juga telah menerapkan metode socio tehnopreneur di Serang, Banten. Semula produksi padi petani rata-rata 1,5 ton menjadi 6 sampai 7 ton per hektar.  Kita juga memberikan intervensi lain, seperti saya mempunyai bibit padi unggul Trisakti yang tahan terhadap serangan hama wereng, umur panennya lebih pendek, malainya lebih banyak, produksinya pun lebih tinggi sampai 15 ton per hektar. Benih padi Trisakti ini sudah dibudidayakan petani di Serang, Banten.  Juga di Kapuas dan Palangkaraya Kalteng, Sumba Timur, Gowa Sulawesi Selatan, Purwodadi dan Demak Jawa tengah, Gunung Kidul DIY, Mesuji Lampung, Ogan Ilir Sumsel, dan daerah lainnya. 

     

    Sektor industri umumnya membutuhkan bahan-bahan komodoti dalam jumlah besar dan bisa dipenuhi secara kontinyu. Binaan Anda yang telah sukses memenuhi kebutuhan pabrik tersebut?

    Binaan kami yang berada di daerah Cipanas dan Cianjur, Jawa Barat, sudah mampu memenuhi permintaan pabrik. Bahkan hasil komiditi petani sudah dipasok ke pasar-pasar supermarket modern seperti Carrefour. Awalnya memang sulit, karena itu pembinaan kepada masyarakat harus dilakukan dengan hati, mencontohkan, termasuk juga menyiapkan jaringan pasar.  Kader muda yang sudah selesai pelatihan dan magang dari tempat kami P4B MIGO Serang Banten kami kirim untuk mendampingi masyarakat petani  binaan di sana. (Sumber Visioneernews.com) 

    Comments

    Nama  
    Email  
    Komentar  
    Komentar Anda akan muncul setelah disetujui oleh Admin
  • web design by javwebnet